Edisi 14-01-2018
Teknologi Mobil Otonom Semakin Dekat


LAS VEGAS –Aliansi menjadi kata kunci pengembangan mobil tanpa sopir (autonomous) di masa depan.

Perusahaan teknologi dan pabrikan mobil bersama-sama menghadirkan kendaraan pintar untuk memberikan solusi transportasi bagi konsumen. Setidaknya itulah yang terlihat dari ajang pameran elektronik bergengsi Consumer Electronics Show (CES) 2018 diLasVegas, California, Amerika Serikat (AS), pekan ini.

Tahun ini teknologi kendaraan otonom menjadi salah satu perhatian. Para produsen mobil raksasa unjuk teknologi terbaru hasil kerja sama dengan mitra mereka yang memasok sistem otomatisasi. Tak ketinggalan, produsen elektronik dan smartphone juga menampilkan sederet produk andalan masa depannya yang berbasis internet. Intel misalnya.

Setelah meng gelontorkan dana hingga USD15,3 miliar untuk mengakuisisi Mobileye pada tahun lalu, perusahaan pembuat prosesor itu menyatakan telah bekerja sama dengan BMW, Nissan, dan Volkswagen untuk menggunakan teknologi dalam membantu mengembangkan mobil self-driving. Pada pemeran itu Intel memamerkan 1 dari 100 kendaraan uji cobaself-driving .

Mobil itu dilengkapi 12 kamera, radar, scanner laser, prosesor, dan sistem canggih yang dikembangkan sendiri oleh Intel dan Mobileye. Sepanjang tahun ini Intel bahkan berencana meluncurkan 15 proyek kendaraan otonom yang bekerja sama dengan 14 produsen mobil. Jumlah ini meningkat dari tahun 2017 lalu yang hanya mengembangkan 6 proyek mobil tanpa sopir.

“Ada tiga area kritis dalam pengembangan mobil otonom ini, yakni sensor, manajemen pengalaman di jalan, dan aturan lalu lintas,” ujar CEO dan CTO Mobileye Amnon Shashua seperti dikutip zdnet.com kemarin. Dari ketiga unsur tersebut, rancangan yang dibuat perusahaan untuk menghadirkan teknologi otonom diimplementasi kan pada kekuatan kemitraan.

Tak kalah penting yang akan dihasilkan ke depan adalah teknologi untuk mendeteksi lampu lalu lintas, rambu, kondisi jalan, dan kemampuan mencari jalur paling singkat. Untuk mengimplementasikan teknologi tersebut, Mobileye mengklaim telah bekerja sama dengan puluhan produsen seperti Audi, BMW, Fiat-Chrysler, Honda, NIO, Nissan, dan SAIC yang akan memulai produksi pada 2019.

Sepertinya semua perusahaan teknologi sadar, potensi pasar teknologi pada kendaraan tidak bisa diabaikan. Beberapa tahun sebelumnya Alphabet, Tesla, dan korporasi automotif besar, baik dari AS, Eropa atau Jepang, bersaing ketat dalam mengembangkan mobil masa depan tanpa sopir ini.

Chief Executive Officer (CEO) Apple Tim Cook jauh-jauh hari sudah menunjukkan minat mengembangkan tekno logi selfdriving. Dengan mem bentuk Apple Car, Tim Cook ingin membuat sistem autonomous atau perangkat lunak pendukungnya. Mereka bekerja sama de ngan Hertz untuk menguji sistem tersebut di mobil sport utility vehicle (SUV).

Sama seperti Apple, Google yang membentuk divisi baru Waymo juga sedang mencoba membuat sensor dan perangkat lunak self-driving. “Teknologi itu akan membantu Anda be pergi an dari rumah ke rumah tanpa mengemudi,” ungkap Google. Waymo sudah me nyim pan data 4 juta mil jalur di sejumlah kota besar di AS.

Microsoft juga meneken sejumlah kemitraan dengan perusahaan automotif seperti BMW, Ford, Renault-Nissan, Toyota, dan Volvo untuk mengembangkan mobil tanpa so pir. Selain itu Microsoft bekerja sama dengan perusahaan internet China Baidu untuk menjual layanan komputasi awan (cloud) Azure terhadap pabrik pembuat mobil self-driving.

Teknologi ini juga dikembangkan perusahaan ritel online Amazon. Selama di CES kali ini, Amazon bergandengan dengan Toyota menampilkan prototipe konsep kendaraan self-driving e- Palette. “Kemitraan tersebut mem berikan kesempatan kepada Amazon untuk meng eksplorasi ide baru,” ujar Wakil Presiden Amazon Logistic, Tim Collins.

Khusus soal Toyota e-Palette, produsen mobil raksasa asal Jepang itu menyatakan, mobil swakemudi tersebut di rancang untuk mengirimkan paket atau layanan antar (delivery) yang bisa dikendalikan dengan smartphone. Selain dengan Amazon, pengembangan e-Palette juga melibatkan perusahaan trans portasi online Uber dan Pizza Hut.

Kendaraan listrik ini me nurut rencana akan diresmikan penggunaannya pada ajang Olimpiade Tokyo 2020. E-Palette yang mengusung teknologi mobility services plat - form (MSPF) adalah kendaraan model kotak seukuran minivan. Mobil yang juga dirancang untuk ride sharing ini memiliki ukuran lebih besar dari taksi otonom Waymo.

Presiden Toyota Akio Toyoda mengatakan, saat ini kompetisi di industri automotif bukan lagi dengan perusahaan pembuat mobil. Lebih dari itu, persaingan sudah lebih luas, yakni dengan perusahaan teknologi seperti Google, Apple, dan Facebook. “Saya ingin Toyota tidak hanya perusahaan mobil, tetapi juga menjadi perusahaan mobilitas,” ujar Toyoda.

Facebook yang pernah mengirim CEO Sheryl Sandberg ke acara Ajang Motor Frankfurt September tahun lalu juga mendukung inovasi di dunia automotif. Topangannya itu diharapkan dapat memperkuat kerja sama antara industri automotif dan teknologi. Riset Facebook dalam dunia virtual diyakini memiliki peranan penting.

Pada 9 Januari, Cisco juga menyatakan siap membantu Hyundai mencapai ambisinya. Hyundai akan menggeser produksi mobil dari semi-autonomous menjadi full-autonomous secara bertahap. Perangkat lunak yang dikembangkan Cisco dapat berkomunikasi dengan meter parkir pintar, gerbang tol, dan lampu lalu lintas. IBM juga terus melakukan inovasi teknologi, sebagian besar bahkan sudah memiliki hak paten.

Dengan sistem mesin yang canggih, kemudi mobil dapat diambil alih manusia jika kondisi dikhawatirkan dapat menyebabkan kecelakaan. Adapun Nvidia menyatakan akan memproduksi massal chipset Xavier yang sudah diuji coba perusahaan automotif. Tak tanggung-tanggung, untuk proyek tersebut Nvidia mem - benamkan investasi hingga USD2 miliar (Rp27 triliun).

Di samping Nvidia, juga ada Qualcomm yang ikut berkecimpung di dunia automotif. Mereka menekan kerja sama dengan Ford. Perusahaan ini juga bergabung dengan LG untuk melakukan risetnir kabel dan teknologi penghubung antara mobil, alat, dan internet. Ajang CES 2018 juga menampilkan kejutan dari produsen mobil listrik asal China, Future Mobility Corp, yang memperkenalkan merek Byton.

Mobil ini disebut-sebut sebagai pesaing Tesla ciptaan Elon Musk yang sudah sukses dipasarkan di AS. Sebagai pendatang baru, Byton tidak ingin setengahsetengah. Mereka menggebrak pasar dengan mengusung sejumlah teknologi kecerdasan buatan yang sedang masif digunakan pada sejumlah perangkat.

“Kami ingin men jadi perusaha an yang masuk ke segmen yang benar-benar sebagai mobil pintar,” ujar Chief Executive Officer Byton, Carsten Breit feld, seperti di kutip BBC. Byton tampaknya ingin menarik konsumen yang sedang dimanjakan tren teknologi internet dalam kehidupan sehari-harinya.

Mobil yang para perancangnya para profesional dari Apple, BMW, dan Nissan ini sengaja menampilkan displai se lebar dashboard. Displai ini ber isi beragam informasi berbasis internet seperti kalender, peta hingga kondisi kesehatan pengemudi sehingga mereka menyebutnya sebagai digital lounge.

muh shamil