Edisi 14-01-2018
Leisure Mulai Jadi Kebutuhan


JAKARTA –Gaya hidup di era teknologi telah menggeser kebutuhan konsumsi menjadi kebutuhan bertualang (leisure).

Pergeseran pola konsumsi ini terjadi hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sejak 2010 pendapatan per kapita masyarakat Indonesia yang naik di atas Rp35 juta per tahun ikut meningkatkan pergeseran kebutuhan kelas menengah. Bahkan selama kurun waktu tujuh tahun terakhir, pendapatan per kapita yang kembali meningkat menjadi Rp47,5 juta per tahun berhasil menggeser kebutuhan belanja dari barang konsumsi menjadi kebutuhan leisure.

Kelas menengah yang merasa kebutuhan sandang, papan, dan pangannya telah terpenuhi, kini lebih memilih hiburan walaupun hanya berpelesiran antarkota untuk sekadar me laku kan wisata kuliner, menyaksikan konser atau mencari spot foto yang menarik.

Pola konsumsi masyarakat kelas menengah yang cenderung berubah ke kebutuhan leisure disambut baik Menteri Pariwisata Arief Yahya. Menurut Arief, generasi sekarang sangat digital minded dan sangat strategis. Generasi milenial yang selalu terhubung dengan media sosial pun punya peran besar.

“Merekalah (kelompok milenial) salah satu ujung tombak dalam mem promosikan destinasi wisata, event-event, dan kebijakan pariwisata,” ujar Arief. Kepala Seksi Pengolahan Statistik Rumah Tangga Badan Pusat Statistik (BPS) Amiek Chamami mengatakan, berubahnya pola konsumsi masyarakat tidak terlepas dari tumbuhnya generasi muda di Indonesia.

Sebagian dari anak muda saat ini lebih memilih jalan-jalan atau traveling ke berbagai penjuru kota yang memiliki keunggulan destinasi wisata. “Apalagi bila sedang libur sekolah atau kuliah akan semakin terlihat peningkatan jumlah wisman lokal.

Hal ini ikut menggeser pola konsumsi rumah tangga dari kebutuhan konsumsi ke arah leisure,” ujar Amiek kepada KORAN SINDO Berdasarkan catatan BPS, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada November 2017 mencapai rata-rata 57,88% atau naik 2,12 poin bila dibandingkan dengan TPK November 2016 yang tercatat sebesar 55,76%.

Rata-rata lama menginap tamu asing dan tamu lokal pada hotel klasifikasi bintang selama November 2017 tercatat sebesar 1,80 hari atau terjadi kenaikan 0,08 poin jika dibandingkan denganNovember2016. Sementara itu rata-rata tamu menginap pada November 2017 tercatat paling banyak terjadi di Provinsi Papua Barat (3,17 hari), Bali (3,13 hari), dan Maluku (2,09 hari).

Data ini menurutAmieklebih banyak menunjukkan dana yang harus dikeluarkan oleh rumah tangga dalam bepergian. Apa lagi biasanya selain pengeluaran untuk penginapan, masya ra kat juga mengeluarkan dana untuk transportasi, makanan dan minuman hingga membeli oleholeh.

Faktor tersebut menurutnya yang mengurangi kebutuhan konsumsi rumah tangga dan beralih ke kebutuhan leisure. Pakar marketing Indonesia Yuswohady mengungkapkan, pola konsumsi masyarakat menengah saat ini semakin canggih dan lebih mengutamakan untuk mendapatkan hiburan atau rekreasi.

Itulah yang menjadi penyebab Indonesia saat ini tengah memasuki masa ekonomi leisure. “Kebutuhan leisure memiliki akselerasi yang sangat pesat. Selama hampir 10 tahun terakhir pola konsumsi masyarakat Indonesia sudah seperti masyarakat di negara maju.

Hal ini karena faktor generasi milenial yang cenderung terpengaruh oleh budaya luar negeri yang mereka dapatkan di media sosial,” ujar Yuswohadi saat dihubungi. Perubahan pola konsumsi masyarakat ke belanja online menurutnya semakin lama se makin sistematis dan menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi now.

Belanja melalui internet dengan waktu yang lebih lama untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan menjadikan pengalaman terbaru bagi ma syarakat dan terjadi secara sistematis. “Mereka sama-sama belanja, tetapi harus memiliki pengalaman baru sehingga hal ini tidak memengaruhi daya beli masyarakat yang saat ini tumbuh 5%,” tambahnya.

Perubahan lain yang ikut mengubah pola konsumsi masyarakat menurut Yuswohadi adalah mencari pengalaman dengan liburan, nongkrong di coffee shop yang bukan sekadar untuk meminum kopi tapi juga untuk bersosialisasi serta meng ekspos kegiatannya di media sosial.

Karena berbagai kegiatan tersebut, Yuswohadi menyebut generasi milenial merupakan generasi pencari pengalaman yang lebih suka membelanjakan uangnya untuk berlibur, dine out, dan menyaksikan konser ketimbang membeli baju, sepatu atau mobil di mal atau pertokoan offline. Menurutnya pengala man itu membawa kebahagiaan bagi generasi milenial.

“Masyarakat menengah juga mulai sadar dan merasa memiliki beragam barang menjadikan hidup mereka lebih kompleks. Karena itu mereka mengurangi berbelanja barang dan lebih fokus pada aspek terpenting dalam kehidupan seperti kesehatan, kesenangan, hubungan personal, pengembang an diri, dan kontribusi bersama. Generasi milenial juga merasa belanja barang tidak membuat bahagia karena hidup semakin kompleks,” paparnya.

Pengamat pariwisata Had Iwan mengungkapkan, momen perubahan ke kebutuhan leisure ini harus dimaksimalkan seiring dengan tren yang sedang berkembang. Kementerian Pari wisata harus giat melakukan sosialisasi kepada wisatawan untuk terus mengekspos tempat tujuan wisata di Indonesia.

Menurut Iwan, beberapa tempat juga harus memiliki citra tertentu untuk membuat rasa ingin tahu masyarakat meningkat. “Tentu setelah itu akan banyak yang penasaran dan berkunjung. Misalnya di Bandung ada Tebing Keraton atau Raja Ampat di Papua. Bagaimana nama lokasinya membuat rasa ingin tahu orang,” ungkapnya.

Direktur Pascasarjana Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung itu juga melihat peluang usaha di bidang pariwisata bisa terus dimaksimalkan mengingat bisnis perjalanan yang meng hadirkan paket wisata sangat digemari masyarakat kelas menengah. Bagi mereka yang baru pertama kali berkunjung kesebuah tujuan wisata tentunya agen wisata seperti ini sangat diminati.

Namun Iwan menyarankan agar paket wisata ketempat yang tidak biasa juga menawarkan pengalaman mena rik. Dia mencontohkan misal nya wisatawan bisa sehari tinggal di kawasan bekas keraton, Dayak Adventure, dan sebagainya. Iwan menjelaskan, pengemas an kegiatan wisata yang tidak biasa membuat wisatawan akan semakin tertarik.

Sebab dengan kemasan yang unik, akan ada hal baru yang bisa diceritakan melalui media sosial. Warga lokal pun bisa dilibatkan untuk mengatur wisatawan secara teknis. Hal ini menurutnya untuk menarik minat masyarakat Indonesia tetap berwisata di dalam negeri dengan alasan keindahan alam dan lokasi spot foto yang tak kalah menarik dengan di luar negeri.

Kepala Dinas Pariwisata Bali Anak Agung Gede Yuniartha mengatakan, kunjungan wisatawan domestik ke Bali selama 2017 menembus angka 8 juta orang, melebihi angka kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 5,7 juta orang. Angka itu sebenarnya bisa lebih tinggi jika Bandara Ngurah Rai tidak ditutup akibat erupsi Gunung Agung pada November lalu.

“Erupsi memukul telak kunjungan wisatawan, baik itu mancanegara maupun domestik. Beruntung, untuk domestik dampaknya tidak terlalu signifi kan karena masih datang ke Bali melalui jalur darat dan pelabuhan,” kata Yuniartha. Selama berlibur di Bali, wisatawan domestik menurutnya lebih banyak meng habis kan masa tinggal rata-rata selama 3-4 hari dengan nilai belanja se kitar Rp700.000 per hari.

Yuniartha memprediksi kun jungan wisatawan domestik makin meningkat dengan ma kin banyaknya penerbangan dari berbagai daerah dengan tujuan Bali. Apalagi berlibur dengan memesan tiket dan hotel dengan aplikasi online juga men jadi tren yang terus berkembang. “Datanglah ke Bali. Saya jamin tidak akan bosan karena masih banyak yang belum dieksplorasi,” ujarnya.

ananda nararya/ hermansah/chusna