Edisi 14-01-2018
Mengurangi Belanja demi Berwisata


Pola konsumsi masyarakat, terutama generasi milenial, yang berubah dari sebelumnya belanja barang menjadi kegiatan leisure atau pelesiran membuat kalangan pariwisata menuai untung.

Praktisi industri pariwisata menangkap peluang ini dengan bersinergi menyediakan destinasi jalan-jalan yang menarik dengan akses mudah dan fasilitas memadai. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada triwulan III-2017, konsumsi rumah tangga masyarakat hanya 4,93%, sedikit melambat dibandingkan triwulan II-2017 yang mencapai 4,95%.

Realisasi itu bahkan lebih rendah dibandingkan periode triwulan III-2016 yang tercatat 5,01%. Perlambatan di sektor ini terlihat dari turunnya pertumbuhan dari komponen makanan dan minuman, pakaian, alas kaki, jasa perawatan, serta perumahan dan perlengkapan rumah tangga.

Salah satu penyebab konsumsi rumah tangga tidak tumbuh optimal pada periode ini ditengarai karena adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat yang dari awalnya bersifat pembelian barang atau ritel (nonleisure) kepada yang bersifat kegiatan waktu luang atau rekreasi (leisure).

Komoditas yang termasuk dalam leisure di antaranya hotel, restoran, tempat rekreasi, dan kegiatan kebudayaan. Masyarakat sekarang, yang didominasi generasi milenial, memiliki kecenderungan untuk bertamasya dan rekreasi, indikasinya ditunjukkan dengan banyaknya destinasi yang menawarkan komoditas leisure yang lebih murah.

Kenyataan ini tentu membuat kalangan industri pariwisata bersorak. Wakil Ketua Umum Destinasi Wisata Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Johnnie Sugiarto mengakui, tren perjalanan menuju destinasi wisata sudah menjadi gaya hidup, terutama bagi milenial. Sebelumnya, kata dia, pelancong didominasi dari keluarga mapan yang memiliki penghasilan berlimpah.

“Sekarang anak-anak muda setelah punya gaji langsung pergi berlibur dan mencari pengalaman dengan jalan-jalan sendiri. Gaya hidupnya sudah berubah, sekarang berwisata sudah menjadi kebutuhan primer,” ujar Johnnie ketika dihubungi KORAN SINDO . Saat berwisata, lanjut dia, akibat budget terbatas, pilihan hotel dan tempat makan pun beralih menjadi yang lebih terjangkau.

Misalnya menginap di hotel atau homestay dan mencari kuliner khas daerah setempat, bukan lagi ke restoran mahal. Hal ini tentu saja semakin menambah penghasilan bagi pedagang kaki lima atau pengusaha sektor jasa kecil, mikro, dan menengah lain yang baru merintis.

“Memang pengeluaran para travellers ini semakin kecil, tetapi volumenya mem bengkak,” kata Johnnie. Generasi muda ini juga banyak memanfaatkan teknologi digital lewat platform online, misalnya untuk booking tiket pesawat dan kamar hotel atau mencari destinasi unik dan menarik yang diunggah netizen di media sosial seperti Instagram dan Twitter.

Dampaknya, para travel agent kini semakin ditinggalkan dalam men cari informasi wisata di dalam maupun di luar negeri. “Kalau dulu liburan lebih well planned, kalau sekarang umumnya spontan ketika melihat satu spot menarik di media sosial langsung tertarik dan berangkat. Tempatnya pun mesti unik dan tidak mainstream ,” katanya.

Menurut Johnnie, kawasan wisata seperti Raja Ampat, Yogyakarta, Belitung, Bali dan Malang masih menjadi lokasi wisata favorit bagi generasi milenial tersebut. Dihubungi terpisah, Jumat (11/1), Ketua Umum Association of the Indo nesian Tours & Travel Agencies (Asita) Asnawi Bahar mengatakan, perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi kegiatan leisure membuktikan kesuksesan asosiasinya bersama pemerintah dalam mempromosikan keindahan alam Indonesia, terutama destinasidestinasi baru.

Peluang ini harus dimanfaatkan pelaku industri seperti pengusaha hotel dan restoran untuk menyediakan tempat dan promosi yang menarik. Termasuk paket-paket wisata yang dikeluarkan oleh tour and travel yang musti didesain sesuai dengan kebutuhan para traveller masa kini alias generasi milenial.

“Style liburan sekarang sudah berubah, praktisi pariwisata harus berbenah mengikuti kebutuhan mereka. Momentum ini harus dijadikan peluang bisnis lebih besar lagi,” sebut Asnawi. Salah satu cara untuk meningkatkan kunjungan wisata adalah bekerja sama dengan influencer, blogger, atau vlogger dengan engagement tinggi lewat media sosial dalam memasarkan satu tempat rekreasi.

Kemudian, akibat jumlah wisatawan menjadi tambah banyak, kini makin banyak pula pembangunan hotel-hotel baru, pembukaan akses transportasi, serta bertambah banyaknya biro-biro perjalanan serta maskapai penerbangan sehingga menambah semarak dunia pariwisata. Hasilnya, per kem bangan ekonomi Indonesia akan semakin meningkat.

“Semua pihak musti bersinergi agar perubahan pola konsumsi ini juga memberikan manfaat dan rezeki untuk semua orang,” ujar Asnawi. Sementara itu, peng amat masalah pari wisata, Arifin Hutabarat, menuturkan, gejala pola konsumsi ma syarakat yang berubah sejatinya bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di dunia.

Maka, negara-negara besar dan kaya saat ini dengan sengaja mengadakan strategi mengembangkan wisata domestik, seperti Arab Saudi, China, Amerika Serikat dan Eropa. Menurut Arifin, pelaku pariwisata di tuntut lebih cerdas lagi memanfaatkan peluang yaitu dengan mengembangkan layanan aksesibilitas, yaitu transportasi dan turunannya.

Demikian juga dengan pembangunan akomodasi dan turunannya serta usaha-usaha atraksi yang mendatangkan wisatawan. “Seperti di Jepang, China, dan Amerika Serikat, wisatawan domestiknya puas berwisata di dalam negeri. Sesudah itu mereka baru pelesiran ke luar negeri,” urainya. Sesuai tuntutan zaman kini , pelaku bisnis wisata Indonesia juga harus all out dan punya sifat kreatif.

Di antaranya menawarkan destinasi wisata, aktivitas baru, cara digitalisasi dan upaya promosi lain yang menarik. “Kalau tidak risikonya ialah orang Indonesia semakin cenderung ingin wisata ke luar negeri lebih sering ketimbang berliburan ke kota-kota di dalam negeri,” tandas Arifin.

rendra hanggara