Edisi 14-01-2018
Pesan Harmoni “Dua Kutub”


Dua kutub berbeda menyatu dalam hasrat yang sama. Sama-sama ingin membawa misi cinta, kedamaian, dan kegelisahan lewat karya seni rupa yang dominan bercerita tentang keseimbangan alam, hingga kritik sosial dan kebangsaan yang terbingkai menjadi sebuah harmoni.

Menunggu dua tahun un tuk bisa berpameran di Galeri Nasional Indonesia (GNI) Jakarta, akhirnya pameran dua pelukis Masdibyo dan Gigih Wiyono pun terselenggara. Mengusung tema “Dua Kutub”, mereka memamerkan karyanya mulai Rabu (10/1) hingga Minggu (21/1).

Dalam pameran kali ini, Mas dibyomenyajikan 30 lukisan bertarikh 2007-2017. Sementara Gigih Wiyono menyajikan 23 lukisan plus 9 patung bertarikh 2013-2017. Keunikan pada karya-karya yang diciptakan dua perupa ini layak dikaji secara konseptual ataupun secara visual.

Masdibyo sebagai perupa yang menggawangi kutub utara (Pantura, Tuban, dan pesisir Jawa Timur) yang cukup lama menggarap per soalan rakyat tentang kearifan lokal, cinta kasih, dan kelembutan. Sementara Gigih Wiyono yang tumbuh berkembang di wilayah perdesaan dan pertanian sebagai penjaga kearifan lokal kutub selatan (Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah), mencitrakan mitos simbol padi dan kesuburan yang menjadi tumpuan kaum agraris.

Mitos-mitos kesuburan, seperti huruf-huruf Jawa dan motif-motif tradisi yang dihadirkan secara kontemporer. Dalam pameran ini, Mas dibyo dan Gigih Wiyono melebur dalam satu tema “Dua Kutub” sebagai harmonisasi yang tersublim dalam karya-karyanya. Kehadiran keduanya sebagai bentuk ekspresi estetis, cinta kasih, dan bahkan kegelisahan.

Perbedaan latar belakang studi serta proses penciptaan menjadikan Dua Kutub memiliki arti penting untuk dipresentasikan dalam pameran bersama sebagai pengungkap spirit yang mereka angkat dalam karya. Dua Kutub hadir membawa pesan tentang kekuatan cinta, menghadirkan spirit yang membawa energi perdamaian dan kasih sayang.

Tentang manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Tentang mikrokosmos dan makrokosmos, yin-yang, lingga-yoni, vertikal-horizon tal, positif-negatif, kekuatan serta kelenturan, dan lain sebagainya. Kekuatan saling berpasangan yang tak mungkin bisa tercipta tanpa saling ada dan melengkapi.

Mengenai unity, har moni, dan balance diha dirkan melalui proses kreativitas yang panjang secara individu. Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Prof M Dwi Marianto dalam kuratorialnya pada pameran Dua Kutub ini menyebut, karya dua perupa ini memang berbeda, begitu pun cara pandang dan ideologinya.

“Mungkin, karena berbeda itulah mereka dapat berkolaborasi, saling melengkapi, dan mengontraskan,” ujar Dwi. Perbedaan ini, kata Dwi, dapat dilihat sebagai tanda “I” dan “O”, seperti “garis lurus” dan “garis lengkung”, sebagai “gunung” dan “laut”.

Hingga dua kutublah yang membuat dunia ini berputar. Seperti keragaman spesies adalah kunci sinambungnya ekosistem hutan tropis. “Sama halnya ketika hendak memanggungkan sebuah pertunjukan teater, harus ada kontras dan per bedaan. Seperti yang dikatakan Mark Rothko ëtanpa monster-monster dan para dewa, seni tidak dapat mementaskan suatu dramaí,” tuturnya.

Dalam hal karakter, dua perupa ini juga berbeda. Masdibyo mengekspresikan ide-ide yang muncul dari dunia batin dan alam bawah sadarnya melalui figur-figur manusia. Kebanyakan dengan figur-figur jamak yang sarat kritik sosial, salah satunya seperti dalam lukisan Ma lima (2015). Malima merepresentasikan gambaran tentang mania orang-orang yang sedang “kesurupan” madon (main perem puan), main (berjudi), mabuk (minum minuman keras), madat (narkoba), dan maling (korupsi).

Ada pula karya Mas-dibyo yang menyinggung soal kasus yang kini membuat geger seantero negeri, yakni kasus korupsi e-KTP, yang diceritakan dalam lukisan berjudul Koruptor Dibuang ke Laut, Diadili Ikan Laut Dalam (2017). Karya Masdibyo dengan figur tunggal hanya beberapa. Seperti karyanya berjudul Positive Thinking, bahkan hanya me lukiskan satu kepala manusia tu narambut.

Botak, berantinganting dengan bentuk salip seperti tanda red cross -logo palang merah dunia. Salip merah yang sama juga dilukiskan pada bagian yang menutupi batang hidung manusia yang dilukis kannya. “Dan, hanya Masdibyo sendiri yang tahu kompleksitas ide yang jadi pijakan kreatif untuk karyanya ini,” kata Dwi.

Sementara Gigih Wiyono, judul dan materi karyanya banyak mengambil ide dari lingkungan, alam, dan budaya yang melingkupinya. Ide-ide dari ling kungan itu kemudian dicerna menjadi tafsir-tafsir yang ditransformasi berupa karya. Tak hanya lukisan, Gigih juga kerap membuat karya melalui media batang pohon trembesi, nangka, weru, dan jati.

Karya Gigih berjudul Cinta Ibu (2014) merepresentasikan pembayangannya tentang kasih seorang ibu kepada anaknya atau storge . Lalu, karya dengan judul Tumbuh menghadirkan suatu ungkapan metaforis tiga dimensional tentang sosok ibu yang memegang daya menghidupkan bagi anaknya “Kata-kata atau frase yang dipakai sebagai judul untuk karya Gigih Wiyono adalah kata-kata dari doa-doa yang biasa diucapkan oleh masyarakat agri kultural.

Seperti judul karyanya Ber kah Melimpah, Berkah Utama, Persembahan, Doa Ibu untuk Kesuburan, Tumbuh, dan Ke suburan,” tutur Dwi. Meski berbeda, yang di kerjakan dua seniman ini prinsipnya sama, berkarya lukis, drawing, dan sketsa; sesekali mereka menggunakan benda tiga dimensi ini sebagai media.

Mulamula mereka menangkap ide dari fenomena apa saja yang mereka lihat atau alami, atau dari yang mereka bayangkan, untuk kemudian divisualisasi menjadi materi berupa gambar, bentuk, atau image . “Dalam setiap gejala sesungguh nya terkandung aliran ide yangtakhenti-hentinyameng alir.

Aliran virtual tiada henti itu bak samudra potensi. Tugas seniman tinggallah mengamati dan memba yangkan aliran itu, lalu memetik satu saja dari aliran potensi itu, kemudian ditransfor masi jadi karya. Bentuk dan maknanya bisa apa saja,” tutur Dwi.

Perspektif dan Inspirasi Baru

Kepala Galeri Nasional (GNI) Jakarta Tubagus ‘Andre’ Sukmana menilai, pameran dua se niman yang berbeda wujud dan karakternya ini adalah suatu momen unik karena keduanya menyusun kepingan-kepingan perbedaan yang melekat pada diri masing-masing dengan segala eksistensinya.

Keduanya disatukan dengan sebuah perekat yang disebut semangat kebersamaan dalam berkarya atau olah cipta seni, yang disajikan dalam sebuah ruang pamer untuk didialogkan dan diapresiasi oleh publik luas. Tidak hanya saling menguatkan, dalam pandangan Tubagus, justru sangat mungkin pameran Dua Kutub yang digagas Mas - dibyo dan Gigih Wiyono menciptakan perspektif dan inspirasi baru.

Kedua perupa menerjemahkan penyatuan tersebut karena ada kekuatan persahabat an, yang tentunya membawa energi perdamaian dan kasih sayang. “Apalagi, gagasan ini sarat nilai sosiokultural juga isu politik terkini, utamanya menyinggung keberagaman dan persatuan bangsa Indonesia.

Hal ini menjadi suatu bukti sikap kritis kedua perupa, juga menyiratkan kepedulian sosial serta kecintaan mereka terhadap bangsa dan negara, yang diekspresikan melalui bahasa visual,” ujar Tubagus.

hendri irawan