Edisi 14-01-2018
Solusi Makan Siang Hemat


Dua tahun terakhir Kulina yang diprakarsai oleh Andy Fajar Handika hadir di Jakarta sebagai penyelamat kebutuhan makan siang warga Ibu Kota.

Para pemesan yang umumnya pekerja tak harus keluar kantor, bahkan tanpa perlu memesan, makanan siap diantar sebelum jam makan siang.K ulina, startup digital di bi dang jasa katering, siap mem berikan menu lezat, bergizi, dan sehat yang ber beda setiap hari. Pelanggan cukup membayar Rp25.000, makanan pun siap diantar.

Ini tentu saja praktis dan menghemat pengeluaran para pegawai. Mereka tidak perlu lagi ma kan di restoran atau mengeluarkan anggaran jajan lain secara berlebihan. Pelanggan hanya perlu mendaftar pa da aplikasi, serta menentukan kapan mau diantar ma kanan.

Jika sedang tak ada di kantor karena cuti atau rapat di luar kantor sekalipun, pengiriman dapat dialihkan untuk hari lain, diatur melalui kalender di aplikasi Kulina. Inilah cerita Andy, pendiri Kulina, yang baru saja terpilih dalam Google Launch pad satu-satunya dari Indonesia pada tahun ini. Kulina juga men jadi startup pertama dari Indonesia, bahkan dunia, untuk bidang kuliner.

Selamat Kulina terpilih dalam prog ram Google Launchpad batch kelima, satu-satunya dari Indonesia. Bagaimana kesan Anda serta apa yang Anda harapkan melalui program ini?

Senang pasti. Yang membuat ka mi tam bah bersemangat karena disana akan bertemu startup level interna sional. Jadi istilahnya kami naik kelas. Kami akan ke Silicon Valley, ki b latnya pa ra penggiat dunia digital. Ini akan men jadi pengalaman yang luar biasa. Google Launchpad tidak ha nya akan mendukung pertumbuhan Kulina den gan sumber daya yang di miliki Google dan para mentornya, te tapi juga membantu proses peng galangan da na yang sedang berlangsung guna me ningkatkan skala bisnis.

Bagaimana Anda bisa ikut program Google Launchpad?

Ini pendaftaran yang kedua kali. Sebelumnya pada batch kedua Kulina pernah coba mendaftar, tapi gagal. Beberapa waktu lalu saat menghadiri aca ra Google, bertemu orang dari Google Indonesia. Saya bercerita tentang Kulina. Dia menyarankan saya untuk da f tar kembali. Padahal, itu sudah last mi nute, tapi saya coba daftar lagi. Kenapa tidak? Dan ternyata beruntung, Ku lina dipilih.

Apa keunggulan Kulina atau apa yang Anda tawarkan kepada pelanggan?

Kulina tidak memiliki dapur, bu kan ka mi juga yang memasak. Na mun, Kulina tetap bertanggung jawab penuh dalam kualitas makanan, juga ke tepatan waktu datangnya makanan. Makan siang mereka akan da tang se belum pukul 12.00. Kalau tidak, akan kami gratiskan. Kami me miliki dua mitra katering dan pengantar.

Mi tra jasa antar kami pilih sendiri, semen tara katering mereka yang mendaftar. Katering kelas me nengah yang masih rumahan, tetapi pernah menyediakan pesanan ratusan porsi setiap hari. Kateringnya juga harus di pastikan bersih dan lezat.

Para mi tra yang sudah mendaftar kerja sama me ngerjakan menu berbeda setiap hari, yang sudah ditentukan Kulina. Kami turut membantu para pelaku usaha kecil menengah karena mereka mung kin hanya dapat order di akhir pe kan atau waktu tertentu, tidak setiap hari. Acara-acara juga dalam skala kecil seperti acara kantor atau tetangga.

Bagaimana Kulina melakukan quality control atas dapur yang bah kan tidak dimiliki sendiri?

Kami melakukannya dengan tiga hal prinsip. Kurasi sebagai syarat awal bergabung menjadi dapur mitra. Edukasi dapur dengan melibatkan in-house nutritionist maupun chef yang bekerja sa ma dengan kami, dan terakhir yang tak kalah penting adalah feedback untuk setiap makanan yang diproduksi, yang diperoleh dari rating serta komentar konsumen.

Bagaimana perkembangan Kulina saat ini?

Pelanggan yang sudah tercatat aktif me mesan 20.000 orang. Rata-rata se tiap hari Kulina mengantar 3.000 ma kan siang. Sebanyak 400 katering su dah mendaftar, namun baru 14 yang ter pilih untuk bermitra dengan Ku lina. Te tapi, seiring dengan semakin banyak nya pelanggan, setiap minggu ber tambah satu katering. Ten tu ini un tuk kepuasan pelanggan yang sudah ter sebar di seluruh wilayah Jakarta.

Ini memang terobosan baru. Bagaimana Anda bisa terpikir untuk membuat katering online seperti ini?

Saya sudah 10 tahun ber ke cim pung di bisnis makanan, punya res to ran di Yog yakarta. Pada 2015 saya baru menyadari ada masalah serius da lam usaha restoran, yakni properti. Ka re na 70% pengusaha mengalokasikan dana un tuk urusan properti. Orang mau punya restoran pasti yang di p ikirkan tem pat. Kalau mau tempat ba gus, strategis, pasti sewanya ma hal.

Ka lau mau be li tanah pun pas ti har ga nya tinggi. Lalu saya tersadar itu tidak sebanding de ngan apa yang di jual. Mi salnya di res toran saya, dari ta hun 2007 harga na si goreng Rp15.000. Lima tahun kemudian har ga nasi goreng tidak akan naik ter lalu jauh, mungkin h a nya mencapai Rp20.000, se dang kan harga properti atau tanahnya saja bisa naik 10 kali lipat. Kemudian saya juga punya restoran dengan menyewa tempat.

Se tiap tahun memang ada pertumbuhan keuntungan 5%, sementara harga tanah nya terus merangkak naik lebih besar. Saya membuat perjanjian dengan pe milik lahan dengan sistem bagi hasil. Di tahun awal menguntung kan bagi pemilik tanah, namun tidak de ngan tahun-tahun terakhir karena harga dolar yang te rus naik.

Dulu bagi hasil memang terasa sangat diuntungkan, tapi ketika profit dari restorannya tidak terlalu tinggi dan harga tanah malah bisa naik 10 kali lipat, mereka lantas ber ubah pikiran untuk menggunakan sis tem perjanjian sewa seperti biasa saja. Saya punya empat restoran di berbagai tempat, ada di mal, di pinggir jalan, ada yang di bangunan sendiri.

Kesadaran saya yang tadi itu mem buat saya berpikir untuk menciptakan inovasi. Saya membuat online res taurant, namanya makandiantar.com, pada 2014. Makanan dari semua res to ran sa ya dapat dipesan melalui website. Cu kup laris, sampai saya buka dapur central sendiri untuk me mu dahkan. Masalah datang ketika pe sanan sudah sam pai limit, order sudah mentok, tidak cukup lagi sehing ga harus bikin da pur.

Nah, pada 2015 saya bertemu partner saya. Dia ce rita masalah di Ja kar ta. Tidak ada makanan murah un tuk para pekerja, karena harga pro per ti yang mahal. Akhirnya terpikir untuk mem buat pemecah masalah ini. Hanya ada dua pi lihan, buka dapur di sana atau tidak punya dapur sama sekali.

Berdasarkan analisa dari pengalaman di Yogyakarta, ketika pesanan sudah banyak, tidak bisa tambah lagi karena tem pat yang terbatas, kami memutus kan tidak memiliki dapur sendiri. Melainkan bermitra dapur dengan kat ering rumahan. Lahirlah Kulina. Itulah perbedaan bisnis konvensional dengan startup digital.

Mengapa dimulai di Jakarta? Ada kah terpikir untuk membuat Ku lina di kota lain?

Buka di Jakarta karena memang ingin memecahkan masalah di Ibu Kota. Makanan mahal, juga waktu jam ma kan siang yang terbatas. Di kota lain tentu memiliki masalah berbeda.

Perbedaan apa yang Anda rasakan saat berbisnis kuliner secara kon vensional dan startup digital?

Pada dunia digital, semua aspek bisa di-track dan data driven. Kalau kon vensional banyak yang tidak bisa di-track. Con toh simpelnya, kita ti dak bisa tahu ba gaimana ekspresi waiter terhadap customer, tidak tahu waiter ngomong. Padahal interaksi itu penting. Di digital, se gala in ter aksi dengan customer bisa ke tahuan dan di-track.

Menurut Anda, bagaimana perkembangan startup di Indonesia?

Saya memprediksi akan semakin ber kembang seiring dengan kian banyaknya ide kreatif untuk memecahkan masalah. Pertumbuhan bisnis konvensional maupun digital punya fondasi yang sama, yakni ingin men dapatkan pelanggan baru dan mem pertahankan pelanggan lama. Bed a nya, bisnis digital secara natural ada lah data driven,sehingga segala keputusan diambil tidak hanya dari intuisi dan mengira semata, tetapi dari fakta ser ta data yang ada.

ananda nararya