Edisi 14-01-2018
Dipilih Karena Kota Kuliner dan Busana


NAMA besar Bandung sebagai kota kuliner, busana, dan heritage menjadi keuntungan tersendiri bagi kota yang dulu dijuluki Parisj van Java ini.

Tren sifting memberi dampak besar bagi leisure economic di Kota Bandung. Kendati sebagai destinasi wisata ada di urutan ketiga secara nasional, setelah Bali dan Yogyakarta, Bandung masih memiliki daya tarik yang tak dimiliki kota lain. Kota ini masih menawarkan surga pada inovasi kuliner, busana, dan heritage -nya.

“Sebenarnya Bandung sudah dari dulu menjadi leisure, tempat orang beristirahat. Termasuk urusan MICE, Bandung sudah jadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika. Saat ini 70% PAD Kota Bandung dari sektor kepariwisataan seperti hotel, restoran, tempat hiburan, dan destinasi wisata,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Kenny Dewi Kaniasari.

Menurut dia, Bandung masih melekat dengan julukan sebagai kota tujuan kuliner dantempat belanjabusana. Sesuaisurvei, 40% wisatawan datang ke Bandung karena kulinernya. Sisanya karena Bandungs ebagai destinasi wisata, kebudayaan, heritage, dan lainnya. Bandung, menurut dia, telah memenuhi syarat sebagai kota wisata, dilihat dari tiga komponen, yaitu aksesibilitas, amenitas, dan atraksi.

Aksesibilitas Bandung terus digenjot seperti perbaikan jalan, trotoar, dan infrastruktur pendukung lain. Dari sisi amenitas, Bandung memiliki sekitar 400 hotel, dengan jumlah kafe dan restoran mencapai 1.000 unit. Untuk menggenjot pariwisata Ban dung, berbagai upaya dilakukan Pemkot Bandung, dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, untuk mempertahankan dan menggenjot angka kunjungan wisa tawan.

Salah satunya melakukan MoU dengan Kabupaten Bandung Barat (KBB) terkait join promotion . “Jadi, kami bikin program untuk majukan wisata dua daerah. Misalnya kami manfaatkan KBB sebagai wisata alamnya. Sedangkan di Bandung banyak amenitasnya. Bisa saling me leng kapi. Kita juga bisa bagi-bagi wisa tawan nya,” kata Kenny.

Untuk mempertahankan Bandung sebagai destinasi wisata, harus ada upaya membangun ekosistem yang saling berkaitan satu sama lain. Pariwisata tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, namun pemerintah, warga, akademisi, media, dan swasta harus kompak dan melengkapi sehingga target kunjungan wisatawan sebanyak 7,5 juta pada 2018 bisa tercapai.

“Shifting dari belanja ke leisure sudah kita rasakan. Tinggal bagaimana kita meningkatkan kunjungan wisatawan ke Bandung. Perlu ada kekompakan, kesadaran wisata, dan tata pesona harus dibangun. Bagaimana caranya bikin Bandung tidak macet, walaupun wisatawannya terus berdatangan,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) Provinsi Jawa Barat Budijanto Ardiansyah meng akui, terjadi shifting masyarakat dari sebelumnya belanja ke leisure atau memilih ber wisata. Tren itu diakuinya telah terjadi sejak beberapa tahun terakhir, setelah teknologi memudahkan masyarakat melakukan upload foto jalan-jalan.

“Memang ada ke mungkinan lari ke leisure consumption . Itu karena mengunggah foto sudah menjadis ebuah tren sehingga orang pergi ke mana-mana. Tetapi saya tidak bisa memastikan, berapa shifting dari konsumsi ke leisure ,” kilahnya. Budijanto mengakui, dunia pariwisata terus meng alami perkembangan. Tren kenaikannya rata-rata sekitar 10% per tahun.

Acara travel mart yang digelar dalam beberapa tahun terakhir juga tidak pernah sepi. Artinya, minat seseorang melakukan perjalanan memang besar. Untuk wisatawan domestik, Bandung masih menjadi destinasi wisata yang dicari karena faktor kuliner, busana, dan alasan lain. Sisi itu Bandung masih kuat, meski dihadapkan pada persaingan destinasi wisata baru di Indonesia bagian timur seperti Labuan Bajo.

arif budianto