Edisi 14-01-2018
Hadirkan Novel Susah Sinyal


Sukses dengan film Susah Sinyal, Ernest Prakasa bersama Ika Natassa menuangkan kisah dalam filmnya itu ke dalam sebuah novel.

Mengenai Ika Natassa, dia pernah menulis novel Critical Eleven dan enam karya lain. Bisa dikatakan, dirilisnya novel ini merupakan sebuah terobosan yang tak biasa dilakukan komika yang juga sutradara Ernest Prakasa terhadap film terbarunya. Film Susah Sinyal yang sampai saat ini sudah sukses menembus angka 2 juta penonton direncanakan akan hadir dalam bentuk novel.

Menurut ayah kandung Snow Auror Arashi dan Sky Tierra Solana ini, film memiliki ke terbatasan durasi sehingga ada beberapa hal di film yang tidak bisa dijelaskan terlalu banyak karena keterbatasan tersebut. Karena itu ia memiliki ide un tuk mengadaptasi film kedalam novel sebagai pengembangan cerita orisinal atau naskah yang ia tulis bersama sang istri Meira Anastasia.

Dikatakan Ernest, jauh sebelum penayangan Susah Sinyal di bioskop, dia memang sudah berencana membuat sebuah novel yang diadaptasi dari skenario film tersebut. Dan per te muannya dengan seorang penulis bernama Ika Natassa akhirnya mem buat cita-cita pria 35 tahun ini hampir terwujud.

“Jadi, ini film Susah Sinyal original story, artinya memangbukan diangkat dari novel. Aku ngobrol sama Ika, minta masukan dari Ika sebagai penulis gimana kalau film ini skenarionya kita adaptasi ke dalam sebuah novel. Terus Ika bilang, ‘Boleh, sini gua aja yang bikin.’ Akhirnya ya kita mencoba kolabora siin di novel Susah Sinyal ini,” ujar Ernest Prakasa kepada KORAN SINDO seusai soft laun ching novel Susah Sinyal di Hong kong Cafe, kawasan Tham rin, Jakarta belum lama ini.

Komika kelahiran Jakarta, 29 Januari 1982 ini mengaku memang sudah beberapa kali melempar wacana untuk mengejar sesuatu bersama Ika sehingga akhirnya mereka mencoba berkolaborasi di novel Susah Sinyal . Ernest menilai, Ika punya gaya yang sangat khas dalam tulisannya dan pas mengadaptasi tulisan yang di buatnya bersama sang istri, Meira.

Ia merasa senang mendapatkan pengalaman baru bagaimana menuangkan cerita film kesebuah novel. Meski Ika tinggal di Medan, hal itu tak menjadi hambatan. Ika pun meminta Ernest mengirimkan skenario film tersebut dan langsung terkesan saat mem bacanya. ‘’Aku minta skenarionya, aku baca. Waw , its really good ,’’ ujar Ika. Ika pun mengaku merasa belum pernah melihat skenario yang sedemikian padat ceritanya.

Baik dari sisi komedinya, emosi maupun hubungan antara ibu dan anak. ‘’Pokoknya se mua kompletlah. Jujur, setiap merilis buku, aku gugup dan gelisah. Kali ini gelisahnya ber lipat karena baru pertama kali nulis bukan dari ceritaku dan diadaptasi dari skenario film. Kerja sama dengan Ernest juga pertama kali, ini kolaborasi yang seru,” ucap Ika Natassa.

Ika menjelaskan bahwa salah satu hal yang bakal diulas lebih mendalam adalah hubungan Ellen dengan papa Kiara, mantan suaminya. “Itu kan tidak diceritakan seperti apa di film. Terus hubungan Ellen dan almarhum papanya yang akhirnya menjadi inspirasi buat dia jadi pengacara itu di film kita nggak punya ruang men ceritakan. Itu di novel diceritain ,” imbuhnya.

Ika juga mengaku belum pernah mengunjungi Sumba sehingga dia harus melakukan riset melalui video-video yang ada. Hal itu juga dilakukannya ketika membuat novel Critical Eleven, dirinya belum pernah menginjakkan kaki di New York. Tantangannya lainnya, dia harus mengembangkan cerita dari hanya 100 halaman dari Ernest dan Meira menjadi hampir 300 halaman.

Ernest mengaku senang dengan kolaborasi bersama Ika Natassa dalam menelurkan karya novel terbarunya ini dan hebatnya, meskipun novel tersebut baru akan rilis awal Februari 2018, di masa preorder kemarin pemesanan novel tersebut sudah mencapai 1.000 eksemplar lebih. “Kemarin siang kita buka preorder 1.000 eksemplar dan habis dalam waktu setengah jam. Pembacanya Ika agak hardcore emang kayaknya,” ucapnya.

thomasmanggalla