Edisi 14-01-2018
Kitab Suci Perjuangan KPK


“Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah.” Pesan bijak Imam Al-Ghazali ini terngiang saat saya memulai ulasan tentang buku Aku KPK.

Pernyataan filsuf muslim yang memiliki nama panjang Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i ini saya sodorkan juga bukan tanpa alasan. Menulis adalah salah satu upaya mewariskan peradaban dan masa depan, juga menyebarkan nilai, ajaran, kepercayaan, ideologi ser ta menebarkan optimisme, menjaga semangat, dan melan jutkan perjuangan.

Buku Aku KPK yang diterbitkan Komisi Pem berantasan Korupsi (KPK) ini, bagi saya, menghadirkan se mua hal tersebut. Ditambah lagi buku ini tak sekadar men ceritakan masa lalu dan masa kini, tapi juga memotret dan me wariskan masa depan. Bukan juga hanya keberhasilan, tapi keburukan KPK secara lembaga dan para personel di dalamnya pun diurai.

Sebagai bunga rampai, buku ini boleh dibilang paket kom plet. Karena para penulisnya ber asal dari berbagai jenjang di KPK. Baik yang masih berada di KPK ataupun yang sudah purnatugas. Tak hanya pimpinan periode 2015-2019 dan penasihat sekarang yang terlibat, pimpinan dan penasihat periode sebelumnya juga ambil bagian.

Selain itu para penulis dalam buku ini juga mencakup seluruh bagian pegawai KPK mulai dari pegawai biasa, deputi, direktur, sekretaris, humas, penyidik, penyelidik, jaksa hingga petugas keamanan dan pramusaji. Dengan beragam penulis yang ada seperti di atas, buku ini juga hakikatnya menggambarkan egalitarianisme atau kesetaraan yang ada di KPK.

Kesetaraan itu ju ga bukan hanya dapat dilihat dari unsur penulisnya, tapi memang begitu adanya roh orga ni sasi di KPK selama ini. Jika para pembaca ingin mengetahui kisah di balik layar bagaimana KPK secara lembaga dan para insan di dalamnya, buku Aku KPK adalah ja wabannya. Buku ini me ngupas perjalanan usia 14 tahun KPK atau 15 tahun KPK (diukur dari tanggal pengesahan UU KPK pada 27 De sem - ber 2002).

Ba nyak ki sah, peristiwa, kejadian, langkah, dan kinerja yang disebut sebagai of f the record yang belum pernah muncul di media massa me ngemuka. Dengan mem baca bu ku ini kita seperti masuk ke dalam pengalaman dan peristiwa yang dialami para penulisnya. Bah kan kita seolah ada pada saat kejadian.

Menyimak buku ini kadang bisa mem buat kita tertawa lepas, menangis, trenyuh, bergidik, menger nyit kan da hi, geleng-geleng kepala, bah kan juga respek. Semua rasa ber cam pur aduk men jadi satu. Ya, karena setiap tu lis an bera sal dari tangan pertama yang mengalaminya.

Saya sempat mem bayangkan buku ini menjadi pilot project rujukan penulisan buku serupa di berbagai ins tan si/lembaga/ kementeria. Kare na sepengetahu an saya hingga kini belum pernah ada buku seperti yang dituliskan para insan di KPK ini. Yang ada paling sekadar biografi atau auto bio grafi maupun pengalaman personel instansi/lembaga/kemen terian yang hanya ditulis satu orang, dua orang, atau ke lompok orang yang tidak men cakup semua unsurnya.

Secara umum, buku Aku KPK ber bicara paling tidak tentang 10 hal yang bukan sekadar bicara tentang tugas penindakan dan pencegahan semata.

1. Perihal kehidupan para personel KPK dan solidaritas di lingkup internal.

2. Proses dan budaya organisasi yang berlangsung di KPK.

3. Proses penanganan kasus/perkara bahkan dari tahap pengaduan masyarakat.

4. Berbagai krisis, badai, serangan, dan teror yang menimpa KPK mau pun para personelnya serta bagaimana jalan keluar, solusi, dan pemecahannya.

5. Religiositas para personel KPK.

6. Pengorbanan para pegawai KPK yang meninggalkan jabatan di instansi asal.

7. Para personel KPK saling intai dan melaporkan kesalahan ke Pengawas Internal.

8. Bagaimana har monisasi, sinergi serta komunikasi KPK dengan lembaga lain, termasuk para penegak hukum lain.

9. Kedekatan KPK dengan seluruh komponen masyarakat dan media massa, termasuk para jurnalis.

10. Kriteria dan harapan seperti apa sosok pimpinan dan pegawai KPK.

Bicara tentang pimpinan dan pegawai menjadi Aku KPK , ada beberapa potongan tulisan yang bisa disodorkan. Pimpinan dan pe gawai KPK harus sudah selesai dengan diri sendiri, hindarkan kepentingan politik dan jauh kan niat meningkatkan popularitas individual, jangan berpikir KPK sebagai batu loncatan menuju jabatan lebih karena di KPK bukan bekerja, tapi berjuang untuk rakyat dan negeri; dan para insan di KPK hanya boleh takut kepada Tuhan.

Di dalam buku ini tak hanya disajikan perihal puja-puji, tapi juga saling kritik, saling serang, saling tuding secara gagasan dan pendapat. Melihat bera gamnya unsur penulis dan materi bahasannya, buku Aku KPK ini memang layak disebut sebagai “kitab suci” perjuangan KPK. Tapi ada sedikit catatan dan kritik dari saya atas buku ini.

Pertama, para pimpinan KPK (termasuk yang purnatugas) terlalu membanggakan bagaimana pimpinan saat periode pimpinan tersebut menjabat.

Kedua, porsi pembahasan tentang krisis yang menimpa KPK, terutama di 2015, lebih dominan.

Ketiga, kesalahan pengetikan baik kata, diksi maupun frasa masih terlalu banyak. Di bagian akhir ulasan ini, saya ingin menghadirkan dua pernyataan. Ali bin Abi Thalib mengung kapkan, ilmu ibarat hewan buruan, ma ka ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Pun Pra moedya Ananta Toer pernah berkata, orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama dia tak menulis, dia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Karena me nu lis adalah bekerja untuk keabadi an. Jadi, terlepas dari apa dan bagaimana pembaca nantinya memaknai isi dalam buku ini, tetap salut untuk keberanian KPK dan para insan di dalamnya yang menghadirkan buku ini.

Bagi pembaca dan masyarakat yang ingin mendapatkan buku ini, silakan mendatangi langsung Gedung Merah Putih KPK di Jalan Kuningan Persada, Kaveling 4, Kuningan Jakarta Selatan. Karena buku dengan editor Nugroho Dewanto ini tak dijual, melainkan dibagikan gratis alias cuma-cuma oleh KPK.

sabir laluhu