Edisi 14-01-2018
Film Cinta di Khatulistiwa


BADAN Ekonomi Kreatif (Bekraf) mendukung film Boundless Love sebagai salah satu perwujudan dari program promosi Shooting Location/Location Service yang dibawa pada pertemuan misi bisnis di Shanghai pada Mei 2017.

Judul film Boundless Love bila diartikan dari bahasa Mandarin mempunyai arti “cinta di khatulistiwa”. Pemilihan nama itu karena lokasi Indonesia yang terletak di khatulistiwa.

Film ini didukung oleh berbagai instansi pemerintahan kedua negara, seperti Divisi Administrasi Film Tiongkok, Divisi Budaya Tiongkok dan Divisi Hubungan Internasional Tiongkok. Sementara itu, dukungan juga diberikan dari Bekraf, Pusbangfilm, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Pemerintah Kota Bandung, dan KBRI Beijing.

Pembuatan film sesuai dengan “One belt, one road” yang bertujuan mempererat hubungan antarberbagai negara di dunia. Diharapkan pembuatan film tersebut dapat mempererat hubungan antara Indonesia dan Tiongkok.

Pembuatan film ini melibatkan kru yang terdiri dari 77 orang, di antaranya 25 orang Tiongkok, sisanya kru Indonesia. Aktor dan aktris terdiri dari dua negara, aktor pemeran utama dari Tiongkok, Shen Hao, aktris pemeran utama Indonesia Putri Ayudya, beserta aktor dan aktris lainnya yang tidak kalah pamor seperti Ray Sahetapy, Ade Firmansyah, Nungki Kususmaastuti, dan Maryam Supraba.

“Selama 2 tahun berturut-turut saya sudah mulai mempersiapkan film ini, dari lokasi hingga produksinya. Terlepas dari banyaknya rintangan, saya berharap film ini bisa memberi makna tentang cinta sejati yang benar-benar murni (tanpa ada batasan negara, suku, agama, budaya, dan lainnya),” ujar sang sutradara, Wang Yimin.

Putri Ayudya terpilih menjadi pemeran utama wanita bernama Nova setelah melalui seleksi secara ketat. Dari 60 orang calon, sutradara Wang langsung tertarik kepada Putri yang menunjukkan karakter wanita periang dipenuhi dengan jiwa muda, dan kedetailan dalam berakting.

Kendala terbesar dalam proses pembuatan film ini adalah bahasa. Peran translator dalam proses syuting sangat berpengaruh karena 70 persen adegan menggunakan bahasa Mandarin. Shen Hao mengaku perbedaan budaya dan bahasa menjadi hambatan dalam berkomunikasi.

Bagaimanapun kedua pemeran utama harus saling mengenal terlebih dahulu untuk memperkuat ch emistr y dalam film. Film ini mengambil beberapa lokasi syuting, yaitu Palembang dan Bandung. Palembang dipilih untuk memperkaya cerita yang tidak lepas kaitannya dengan Sungai Musi dan Jembatan Ampera.

Adapun Bandung dipilih karena film ini bernuansakan hubungan antara Indonesia-Tiongkok, dan hubungan kedua negara dimulai dari Konferensi Asia Afrika yang terjadi di Bandung.

Lama syuting di Indonesia dimulai dari tanggal 22 Desember 2017 hingga 11 Januari 2018 dan diperkirakan akan tayang pada bulan Agustus 2018 dengan durasi film berkisar 100 menit.

mg8




Berita Lainnya...