Edisi 21-01-2018
Putri Bangsawan Jepang dalam Penggalan Sejarah RI


Rasanya benar sekali istilah yang selalu dilontarkan berbagai pihak bahwa sejarah tergantung pada siapa yang menulis. Karena itu, dibutuhkan lebih banyak kisah perjuangan tertulis untuk melengkapi sejarah bangsa.

Buku ini salah satu di antaranya. Memang buku ini ber - baur dengan kisah hi - dup penulisnya sen - diri, Siti Aminah Madjid Usman- Hiroko Osada. Itulah sebabnya, buku ini juga merupakan me - moar. Dilengkapi dengan kisah hidup dan perjuangan seorang putri bangsawan Jepang untuk kemerdekaan Indonesia. Karena itu, buku ini dimulai dari kisah hidup Siti Aminah sen diri. Sejak dari tanah ke la - hiran dan kisah keluarga Osada. Lahir di Kofu yang ibu kota Per - fektur Yamanashi, kira-kira 100 kilometer dari Tokyo, ibu kota Jepang. Lahir pada 4 Oktober 1914, lebih dari 103 tahun lalu. Kalau kelahiran luar negeri bo - leh dicatat, bisa jadi Siti Aminah termasuk WNI berusia tua yang masih hidup.

Kini tinggal di dae - rah Cipete, Jakarta Selatan. Lagi pula, beliau masih sehat dan ma - sih membaca seutuhnya me - moar nya ini. Ayahnya Akira Osada meru - pa kan turunan ke-16 Gozoku atau golongan bangsawan sa - mu rai, Kai Genji, yang turun-te - mu run selama 300 tahun sejak masa Shogun Tokugawa. Ke - luar ganya bukan saja keturunan bangsawan memiliki tanah luas serta keluarga yang dihormati, tetapi juga dari keluarga ter di - dik. Ayahnya saja yang menjadi pimpinan keluarga Osada, me - nyelesaikan sekolahnya di Tok - yo English College serta Tokyo Senmon Gakko yang berdiri pada 1882 dan kelak menjadi Uni versitas Waseda.

Begitu juga ibu nya yang lulusan Tsuda Ei ga - ku Juku (Tsuda Womenís Eng - lish College). Begitu pun anggota keluar - ga nya yang lain. Termasuk Siti Aminah sendiri yang ketika lahir bernama Tsuyuko Osada dan s e - te lah menikah dengan Mad - jid Usman menjadi Tsuyuko Madjid Usman, setelah me - nye lesaikan sekolah tingkat atas di Kofu, lalu meram - pung kan pendidikan bidang sosiologi di Nihon Joshi dai ga - ku atau Japan Womenís Uni v - ersity di Tokyo. Di Tokyo ini pulalah Tsuyuko Osada ber - temu Abdoel Madjid Usman yang datang dari Hin dia Belanda. Abdoel Madjid Usman me ru - pakan pemuda pribumi Indo ne - sia (yang ketika itu masih ber - nama Hindia Belanda) pertama yang datang untuk belajar di Jepang (hal 39).

Tiba di Kota Kobe pada 1933, bersama te - man nya Muhammad Gaus Mah yudin. Kedatangan mereka me narik perhatian masyarakat dan dimuat di Kobe Shimbun, surat kabar terbesar di Jepang bagian barat kala itu. Tsuyuko Osada bertemu per - tama kali dengan Masdjid Usman dalam pertemuan para ahli pekerja sosial di Tokyo se - kitar 1935. Dalam pertemuan ter sebut, Madjid menyam pai - kan keadaan Hindia Belanda dan usahanya mem per juang - kan kemerdekaan Tanah Airnya.

Di kala perte mu - an tersebut, Tsu yuko sudah me - nye lesaikan se kolahnya dan men jadi pekerja sosial. Sedangkan Madjid Us man sejak 1933 tercatat sebagai mahasiswa Universitas Meiji di Tokyo. Sebagai mahasiswa, Madjid Usman tidak hanya sekadar belajar, tapi juga aktif di berbagai kegiatan, terutama berhubung an dengan per - ge rakan ke - me r d e k a a n Indonesia. Didalam prolog buk u , Prof Dr Sudarsono Hardjosoekarto menulis, “Alangkah ka getnya sa ya ke ti ka mengetahui bahwa sua mi Ibu Siti Aminah yang ber nama Ab doel Madjid Usman (alm) adalah pemuda Indonesia per tama yang ku liah di Je pang, dan merupakan pendiri da ri Sari kat Indonesia tahun 1933.

Tahun 1987-1989, saya menjabat Ke - tua PPI (Persatuan Pelajar Indo - nesia) di Jepang. PPI tidak lain adalah penerus dari Sarikat Indo nesia yang didirikan Bapak Abdoel Madjid Usman ketika beliau kuliah di Universitas Meiji” (hal 2). Tentu masih banyak sekali kegiatan lain yang dilakukan Madjid Usman selama di Je - pang. Kegiatan yang dite rus - kan nya setelah menikah dan mem boyong istrinya Siti Ami - nah ke Hindia Belanda pada 1936. Di setiap perjalanan, ke - dua insan ini memiliki banyak ki - sah hingga berujung di Padang, kampung halaman Madjid Usman.

Hidup dengan budaya jauh berbeda tentu membawa per juangan tersendiri bagi Siti Ami nah. Sementara Madjid Usman juga berjuang terus de - ngan idealismenya, khususnya memperjuangkan kemer de ka - an negeri yang dicintainya. Karena yang berkuasa adalah Belanda, sejak awal Madjid su - dah dicurigai dan diawasi terus PID (polisi rahasia Belanda). Sam pai akhirnya, mereka (se ke - luarga yang terdiri dari Madjid Usman, Siti Aminah, dan dua anak mereka yang lahir di Pa - dang, yakni Harun dan Sal - myah) dibawa ke Batusangkar, Surabaya, Ngawi, Yogyakarta, dan berujung untuk ditawan di Garut.

Sampai akhirnya dibe - bas kan setelah Belanda (dan se - kutu) takluk kepada Jepang. Ketika kembali ke Padang, Madjid Usman masih mene rus - kan langkah perjuangannya. Se - mula Madjid menjadi penasihat gubernur, menjadi redaktur surat kabar Padang Nippo, bah - kan sempat menjadi Bur ge me - ester (Wali Kota) Padang. Se - men tara Siti Aminah meng ge - luti beragam kegiatan, yakni men jadi juru bahasa di kantor gu bernur, mengajar bahasa Je - pang di Padangpanjang, di sam - ping mengasuh anak. Namun, dasar niatnya tetap mem per - juangkan kemerdekaan nege ri - nya, setiap pekerjaan yang di - lakukan Madjid tetaplah disisipi ide dan niat ini. Kerja sama ha - nya taktik perjuangan.

Keadaan di Sumatera kian memburuk. Dalamsituasise perti itu, Madjid diminta bekerja di Pusat Intelijen Kabinet Pe - merintah Militer di Tokyo. Kesempatan ini diharapkannya untuk sekaligus memprotes per - lakukan tentara Jepang ter ha dap rakyat di Hindia. Di Jepang, Madjid mengisi kehidupan de - ngan beragam kegiatan, ter - masuk membina hubungan de - ngan mahasiswa Indonesia dan ikut mendirikan Kedubes RI di Tokyo hingga tiba masanya ia kembali ke Indonesia. Pada 25 Mei 1955, sehari setelah Le bar an, tepat pada hari ulang ta hunnya ke-48, Madjid Usman mengem - buskan napasnya yang terakhir.

Pada akhir 1955, enam bulan setelah kepergian Madjid Usman, dalam keadaan tidak memiliki apa-apa Siti Aminah kembali ke Jepang dan memulai hidup baru. Pada Agustus 1989, Madjid Usman mendapat peng - hargaan sebagai Perintis Ke - merdekaan dari Pemerintah Dae rah Sumatera Barat. Pada Mei 2007 dilakukan peringatan 100 tahun kelahiran Abdoel Madjid Usman. Buku ini dise le saikan pada 2017 ketika usia Siti Ami - nah mencapai usia 103 tahun. Buku ini dilengkapi epilog dari sang anak, Salmyah Madjid Usman, dan bunga rampai dari sejumlah sahabat, seperti Azwar Anas, Halida Nuriah Hatta, Prof Dr Mestika Zed, Prof Dr Ali Hasjmy, dan beberapa lainnya.

Tulisan kenangan dari kepo nak - an: A Kemal Idris, Prof Dr Abdoel Hamid, dan Hussni Oesman. Selain itu, juga dilengkapi tu lis an Suribidari Samad yang mem - bantu Siti Aminah menu lis kan - nya dan Hasril Chaniago sebagai penyuntingakhir. Membacabuku ini amat mengasyikkan. Walau diselingi banyak istilah asing, khususnya Jepang, baha sa nya ringan dan mengalir. Di lengkapi pula foto-foto hasil pe nelusuran yang amat men du kung.

Baharuddin aritonang
penulis