Edisi 13-02-2018
Pelaku Pembunuhan Diduga Orang Dekat


TANGERANG-Seorang ibu dan dua anak gadisnya ditemukan tewas mengenaskan dengan sejumlah luka senjata tajam di tubuhnya. Pelaku pembunuhan diduga kuat merupakan orang yang mengenal korban.

Kapolres Metro Tangerang Kombes Pol Harry Kurniawan mengatakan,mereka ditemukan di kamar rumah di Perumahan Taman Kota II, Blok B6/5, Kelurahan Periuk, Kota Tangerang, kemarin. saat ditemukan tiga korban tewas sedang berpelukan di atas tempat tidur. Korban diketahui bernama Ema, 40, yang merupakan ibu kandung Nova, 19, anak pertama, dan Tiara, 11, anak kedua. ”Di tubuhnya ditemukan banyak luka bekas senjata tajam,” kata Harry. Harry menjelaskan, mayat korban pertama kali ditemukan oleh tetangganya, Marti, sekitar pukul 15.00 WIB yang curiga dengan penghuni rumah karena tidak kunjung keluar rumah sejak pagi hari. ”Bersama ketua RT dan RW, para tetangga masuk ke dalam rumah, dan mendapati korban sudah tidak bernyawa,” ucapnya.

Tidak jauh dari penemuan jasad tiga korban tersebut, Efendi, 40, yang merupakan suami siri korban, ditemukan dalam kondisi kritis akibat sejumlah luka tusukan. Warga yang mengetahui kejadian itu langsung membawa korban ke RS Sari Asih, Karawaci. Sedangkan tiga jenazah dibawa ke RSU Tangerang untuk diautopsi. Dari pemeriksaan sementara di dalam rumah korban, tidak ditemukan adanya barang- barang yang hilang. ”Saat ini kami masih melakukan penyelidikan di lokasi dan pemeriksaan saksi,” katanya. Berdasarkan olah tempat kejadian perkara (TKP), ketiganya diketahui tewas dengan cara dibekap menggunakan bantal dan dibacok secara brutal hingga mengembuskan napas terakhirnya.

"Korban dibekap dan dibacok dengan sajam. Motif dan tersangka pembunuhan sampai saat ini masih dalam proses penyelidikan dan penyidikan Sat Reskrim Polresto Tangerang Kota," ungkapnya. Marti, tetangga korban, mengatakan, awalnya dia curiga dengan rumah keluarga Abi panggilan akrab Efendi yang sepi. Biasanya rumah itu selalu ramai. ”Saya kerumahnya sudah ketok-ketok, tetapi enggak ada yang menjawab. Dari situ saya curiga ada apa-apa soalnya motornya ada,” katanya. Setelah pengurus RT datang, mereka kemudian masuk rumah. Awalnya tidak ada yang mencurigakan. Namun, saat menuju kamar, darah terlihat berceceran di lantai. ”Bu Ema dan dua anak perempuannya ditemukan tewas bersimbah darah. Kecuali ayahnya yang masih hidup. Kondisinya kritis,” jelasnya.

Pelajar SD dan SMP Tewas saat Tawuran

Dua pelajar sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) tewas dalam tawuran antarkelompok remaja di Jakarta Timur, Minggu (11/2) sekitar pukul 03.00 WIB. Keduanya tewas karena mengalami luka tusuk di bagian punggung, leher sebelah kiri dan dada sebelah kiri, serta di bagian leher depan. Kapolres Jakarta Timur Kombes Pol Tony Suryaputra mengatakan, empat pelaku yang tertangkap masih berusia 14-16 tahun dan masih berstatus pelajar. Mereka diketahui berinisial AR, TI, RA, dan M. Walaupun ditahan, keempatnya menempati tahanan khusus yang terpisah dari tahanan dewasa.

"Karena masih di bawah umur, pemeriksaan juga melibatkan Bapas dan KPAI," katanya. Tony melanjutkan, tawuran itu bermula dari aksi saling ejek antardua kelompok remaja di media sosial. Selanjutnya dua kelompok ini bertemu di Jalan Gudang Air, Ciracas, Jakarta Timur. Di lokasi itu, dua kelompok tersebut langsung saling serang. Saat kejadian korban Dedi Kurniawan, 14, terkena sabetan benda tajam. Saat tewas, korban Dedi masih memakai helm. ”Melihat temannya kena (sabetan), para pelaku langsung mengejar lawannya hingga akhirnya korban Muhammad Raffli, 12, terjatuh dan langsung dihujani tusukan oleh kelompok lawan. Jadi ada dua TKP yang pertama di Jalan Gudang Air dan kedua di Jalan Puskesmas,” sebutnya.

Korban Muhammad Raffli adalah pelajar kelas 6 SDN 09 Susukan, Jakarta Timur. Sedangkan Dedi Kurniawan, 14, merupakan pelajar kelas 2 SMP Widya Manggala, Ciracas, Jakarta Timur. Kapolsek Ciracas, Kompol Agus Widar menuturkan, keduanya tewas di lokasi. Para pelaku yang juga masih berstatus pelajar berhasil ditangkap tidak lama setelah tawuran terjadi. "Karena masih di bawah umur, kami limpahkan kasusnya ke polres Jakarta Timur," tukasnya. Psikolog Universitas Pancasila (UP) Auly Grashinta menuturkan, tawuran merupakan tindakan agresif yang ba nyak dilakukan remaja. Namun, pada tataran agresivitas yang tinggi akhirnya ini menjadi tindakan kriminalitas. ”Apalagi jika sampai menimbulkan korban jiwa. Maka ini jelas tindakan kriminalitas,” katanya.

Pada dasarnya remaja memang berada pada tahap pencarian jati diri sehingga melakukan tindakan-tindakan untuk menemukan dirinya.Dalam sosialisasi ini terjadilah interaksi dengan teman sebaya yang mungkin saja sesuai atau tidak sesuai dengan dirinya. ”Nah, dengan kapasitas emosi yang masih labil dan cara berpikir terbatas, seringkali remaja mengambiltindakanyangbelumtepat tanpa pemikiran panjang sehingga seringkali melakukan tindakan yang tidak dipikirkan konsekuensinya,” ucapnya.

Hasan kurniawan/ helmi syarif/ r ratna purnama