Edisi 13-02-2018
Tawarkan Solusi Jitu Mengatasi Keterbatasan APBN dan APBD


JAKARTA– Gubernur Jawa Timur Dr H Soekarwo mempunyai solusi jitu mengatasi keterbatasan APBN dan APBD dalam lima tahun terakhir. Solusi yang ditawarkan berupa inovasi pembiayaan Jawa Timur (Jatim). Ada dua jenis inovasi pembiayaan yang ditawarkan, yaitu fiscal engineering dan creative engineering.

“Rekayasa pembiayaan perlu dilakukan di Jatim dengan kondisi stagnan atau keterbatasan pada APBD dan APBN,” kata Soekarwo saat memaparkan visi, misi dan pencapaiannya di juri Program Indonesia Visionary Leader (IVL) di Auditorium Gedung Sindo, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Kamis (25/1). Menurut Pakde Karwo-sapaan gubernur Jatim ini, pembiayaan dengan model fiscal engineering diterapkan melalui loan agreement Bank Jatim dengan Pemprov Jatim, rekonstruksi pembiayaan subsidi ke non subsidi (Agro-Maritim Financing), pembentukan Badan Layanan Umum Daerah/BLUD, serta pen dirian badan usaha yang bergerak di bidang Pedagang Besar Farmasi (PBF) dan Pedagang Besar Alat Ke se hatan (PBAK).

Melalui loan agreement, Bank Jatim memberikan suku bunga kredit murah 6-9% untuk UMKM. Dengan demikian, pembiayaan ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah industri pri mer-sekunder dan mencegah ur ba ni sasi, serta secara etos kerja juga bisa men didik UMKM menjadi entrepreneur. Pembiayaan tersebut antara lain untuk mendanai onfarmpada proses primer sekunder atau dinamakan Agro Maritim Financing. Ini antara lain dilakukan dengan melihat potensi share pertanian Jatim terhadap PDRB mencapai 13,65% dengan tenaga kerja sebanyak 33,40%. Solusi pembiayaan ini diharapkan bisa menggeser nilai tambah ke pedesaan, sehingga menjadi solusi terhadap anomali inflasi di pedesaaan, serta menurunkan kemiskinan di pedesaan.

Melalui pembiayaan model fiscal engineering ini, jelas orang nomor satu di Jatim tersebut, Pemprov Jatim juga memberlakukan BLUD pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang salah satu contohnya yakni rumah sakit. Dengan diberlakukannya BLUD ini, pelayanan tidak menggunakan APBD. Demikian pula, dilakukan pendirian PBF dan PBAK yang akan meningkatkan PAD dan sekaligus efisiensi. “Yang terbaru, tahun 2018, Pemprov Jatim mem-BLUD-kan sebanyak 20 SMKN yang berada di bawah Dinas Pendidikan Provinsi Jatim,” kata Pakde Karwo.

Sedangkan model pembiayaan creative engineering diterapkan pada pinjaman bank dan non bank, obligasi daerah, dan memperbanyak model Public Private Partnership (PPP). Jatim juga mengusulkan corporate bond yang secara prinsip disetujui, tetapi nasih dipelajari teknisnya oleh OJK. Pakde Karwo menjelaskan, ada pun yang dijual pada corporate bond ini adalah prospek proyeknya. Sebagai contoh, prospek Pelabuhan Probolinggo dengan pengelola PT Delta Artha Bahari Nusantara (DABN) Port Service. Pelabuhan ini memiliki potensi 40%n lebih efisien dibandingkan Pelabuhan Tanjung Perak.

Sementara untuk pembiayaan dengan PPP telah dilakukan Proyek SPAM Umbulan yang menjadi showcasekerja sama pemerintah badan usaha. Dalam hal ini, Pemprov Jatim antara lain memiliki peran memberi dukungan perizinan, pengadaan tanah, konservasi wilayah serapan, serta menerima air dan membayar tarif ke badan usaha, suplai air, dan menerima tarif dari PDAM. Inovasi yang dipaparkan Pakde Karwo tersebut mendapat pujian para panelis. Di antaranya Rektor Universitas Paramadina Prof Firmanzah PhD. Rektor berusia muda ini menilai inovasi pembiayaan yang dilakukan sebagai terobosan di Jatim. Menurutnya yang paling bagus adalah pembiayaan SPAM Umbulan.

“Kalau semua daerah melakukan seperti Jatim, Indonesia bisa seperti Tiongkok yang bisa cari solusi pembiayaan,” puji Firmanzah. Sementara itu, Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Sumarsono juga mengapresiasi berbagai terobosan inovasi Jatim yang cukup banyak termasuk inovasi pembiayaan yang dilakjkan Pakde Karwo.

Nuriwan trihendrawan/ masdarul kh/tim litbang koran sindo