Edisi 13-02-2018
Bupati Ngada Diduga Terima Suap Rp4,1 Miliar


JAKARTA – Komisi Pemberan tasan Korupsi (KPK) akhirnya menetapkan Bupati Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), sekaligus calon gubernur NTT yang diusung PDIP dan PKB, Marianus Sae, sebagai tersangka penerima suap Rp4,1 miliar.

KPK menduga sebagian da - ri uang suap tersebut ren ca na - nya dipergunakan untuk ke - pentingan Pilkada Serentak 2018. Wakil Ketua KPK Ba sa - ria Panjaitan mengatakan, tim KPK melakukan operasi tang - kap tangan pada Minggu (11/2) di tiga daerah, yakni Su - ra baya, Jawa Timur, serta di Ba jawa (Ibu Kota Kabupaten Ngada) dan Kupang, NTT. Dalam operasi ini, tim KPK meng amankan lima orang. Me re ka adalah Bupati Ngada pe riode 2015-2020 Marianus Sae, Ketua Tim Penguji Psi ko - tes Calon Gubernur NTT Am - bro sia Tirta Santi, ajudan Bu - pati Ngada bernama Dionesisu Kila, Direktur PT Sinar 99 Per - mai Wilhelmus Iwan Ulumbu, dan pegawai Bank BNI Cabang Bajawa Petrus Pedulewari.

“Diduga sebagai penerima MSA (Marianus Sae), Bupati Nga da periode 2015-2020 dan di duga sebagai pemberi, yakni WIU(WilhemusIwanUlum bu). Total uang yang diterima Bu pati Ngada, baik yang di trans fer ataupun diserahkan tunai oleh WIU sekitar Rp4,1 mi liar,” ung - kap Basaria saat kon ferensi pers di Gedung Me rah Putih KPK, Jakarta, kemarin. Mantan staf ahli Kapolri Bi - dang Sosial Politik ini mem be - ber kan, Wilhelmus meru pa - kan salah satu kontraktor di Ka bupaten Ngada yang kerap men dapatkan proyek-proyek se jak 2011.

Untuk kepentingan penyuapan kepada Maria - nus, maka Wilhelmus mem - buka rekening atas namanya sejak 2011 dan mem berikan kar tu anjungan tunai (ATM) bank tersebut pada 2015 ke - pada Marianus. Pakar politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Un tir - ta) Banten Leo Agustino me - ngatakan, ada beberapa ka ji an menyatakan bahwa korupsi kepala daerah memiliki pola 2- 2-1. Dua yang pertama me - nunjuk kan dua tahun pertama me ngembalikan modal po - litik. Dua yang kedua mak - sudnya dua tahun berikutnya digu na kan untuk menda pat - kan mo dal politik.

“Satu tahun ter akhir di - manfaatkan untuk vote buying, di mana semuanya bu kan ber - asal dari dana pribadi, tapi dari dana korupsi. Jika pun ada dana pribadi, maka siklus nya dana tersebut harus kem bali lagi,” ungkapnya.

Sabir laluhu