Edisi 13-02-2018
Jakarta Masih Kekurangan Air Bersih


JAKARTA – Jakarta terancam kekurangan air bersih. Selain penggunaan air tanah, faktor lain terjadinya krisis air yakni perubahan iklim dan kurang pekanya pemerintah dalam menjaga sumber mata air.

Ironisnya Jakarta berada di po - sisi keenam dari 12 kota-kota besar di dunia yang mengalami krisis air bersih. Posisi teratas yakni Cape Town, Afrika Se lat - an menjadi kota besar pertama di era modern yang menghadapi ancaman kehabisan air bersih. Kota kedua yang krisis air yakni Sao Paolo, Brasil (selengkapnya lihat infografis). Hasil ini berdasarkan survei PBB pada 2014 terhadap 500 kota terbesar di dunia yang memperkirakan satu dari em - pat kota dunia mengalami ma - salah air. Pada 2030 kebutuhan air tawar sekitar 40% lebih ting - gi dari ketersediaan akibat per - ubahan iklim, ulah manusia, dan pertumbuhan penduduk.

Menyikapi ini, Direktur PAM Jaya Erlan Hidayat me - nga takan, Jakarta hingga saat ini belum mengalami krisis air, namun kalau warga tidak bi - jaksana dan pemerintah tidak peka melestarikan alam atau sumber mata air kemungkinan akan terjadi krisis. “Itupun tidak terjadi begitu saja,” ujar Erlan, kemarin. Menurut dia, yang terjadi saat ini Jakarta masih ke ku - rangan air bersih sekitar 9.100 liter per detik. Air bersih yang dikelola dan didistribusikan dua operator PAM Jaya yakni Palyja dan PT Aetra sebanyak 17.000 liter per detik. Se men - tara, kebutuhan air bersih bagi warga Jakarta yang mencapai 10 juta jiwa sebanyak 26.100 liter per detik. Terlebih kebutuhan air ber - sih di Jakarta sangat tergan - tung pada daerah sekitarnya seperti Sungai Citarum, Jawa Barat dan Cisadane, Tangerang. Kondisi sungai di Jakarta hanya 4% yang menjadi sumber air bersih.

“Jakarta bisa krisis apa - bila tidak ada penambahan sup - lai air bersih,” ucapnya. Untuk mengatasi itu, peng - olahan air limbah menjadi air bersih harus dikembalikan se - per ti semula mengingat 18 me - ter kubik per detik penggunaan air bersih, sekitar 80-90% mengalir lagi sebagai air limbah setelah digunakan pelanggan. PAM Jaya juga menambah pasokan air bersih melalui pem - bangunan Water Treatment Plants (WTP) yang bisa me nam - bah 500 liter per detik. WTP yang sudah berfungsi yakni di Kanal Banjir Barat (KBB) Karet, Jakarta Pusat yang dikirim ke Muara Baru dan sebagian ke kawasan Ku ning - an, Gatot Subroto, serta Sudirman. Sementara, WTP KBB Hutan Kota, Jakarta Barat ditargetkan ber operasi awal Juli 2018 dan WTP Kali Pesang gra han ditargetkan pada 2019.

“Se belum 1997 kita da - pat mengambil pa sok - an air bersih dari Su - ngai Ci liwung. Sete - lah ham pir 20 ta - hun apa yang ter - jadi de ngan Sungai Cili wung, saat ini kondisi air sangat kro nis,” ujar Erlan. Terkait pu - tusan Mahkamah Agung (MA) me - ngenai pem ber - hen tian swas ta - nisasi air di Ja karta tentu PAM Jaya akan me matuhinya. PAM Jaya bersama Aetra dan Palyja telah sepakat membahas re - strukturisasi per janjian kerja sama dengan menandatangani berita acara kesepakatan (MoU) pada 25 September lalu. Wakil Gubernur DKI Ja kar - ta Sandiaga Uno memastikan putusan MA ihwal pengelolaan air harus diikuti, termasuk memastikan layanan dan akses air bersih khususnya masya ra - kat kelas menengah ke bawah dan bagaimana masyarakat me - nengah ke bawah mendapatkan air dengan harga murah.

“Inti - nya bagaimana supaya akses selain dibuka juga terjangkau harganya buat masyarakat. Itu yang jadi fokus kita ke depan,” kata Sandi. Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas Perindustrian dan Energi DKI Jakarta Agus Saryanto mengatakan, pe nu - run an muka air tanah tidak be - gitu signifikan. Sejak dilim pah - kan dari Dinas Sumber Daya Air pada 2017, penggunaan air tanah per bulan hanya sekitar 600.000 meter kubik. Kemung - kinan itu akibat meningkatnya pelayanan PAM Jaya. Terlebih penggunaan air tanah saat ini hanya sekitar 4.281 perusa ha - an komersil dari sebelumnya pada 2014 mencapai 4.431 perusahaan.

“4.281 itu memiliki izin penggunaan air tanah. Kami hanya mengawasi dan mengen - dalikannya,” ungkapnya. Penurunan muka air tanah di Jakarta berkisar minus 15 cm yang didapat dari salah satu sumur pantau. Ukuran tersebut masih manual dan hanya ada 11 sumur pantau. Maka itu, ins - tansinya segera mengaktifkan sis tem digital dan waktunya ter - pantau per hari atau setiap jam. Pengamat kebijakan publik Universitas Indonesia Agus Pambagyo menuturkan, Pem - prov DKI melalui PAM Jaya harus segera menghentikan peng gu naan air tanah. Bila tidak di la kukan dengan cepat, pesisir pan tai utara Jakarta bisa ber pindah ke pusat kota meng - ingat setiap tahunnya per mu - kaan ta nah turun 5-10 cm per tahun.

“Sekarang kita lihat ba gaimana PAM dan dua ope ratornya Palyja dan Aetra memenuhi kebutuhan air baku. Kalau tidak cepat jangan harap penggunaan air tanah berhenti,” katanya.

Bima setiyadi