Edisi 13-02-2018
Ketahanan Perbankan Tetap Kuat


JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menilai ketahanan industri perbankan tetap kuat. Hal ini tercermin pada rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan tercatat sebesar 23,2% pada November 2017 dan rasio likuiditas (DPK) berada pada level 22,3%.

Sementara per Desember 2017 rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) ter catat sebesar 2,6% (gross) dan NPL nett sebesar 1,2% lebih rendah dibandingkan dengan Oktober 2017, yaitusebesar2,96%(gross) atau 1,29% (net). Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menga ta - kan, transmisi pelonggaran ke - bijakan moneter melalui jalur suku bunga terus berlangsung. ”Transmisi moneter dari suku bunga terus berlanjut ter cer - min pada penurunan suku bu - nga kredit dan deposito, meski belum dalam besaran yang di - harapkan,” ujar Mirza.

Dia mengungkapkan, bunga deposito turun sebesar 187 bps atau turun sebesar 6,07% mulai dari Januari 2016 hingga Desember 2017. Sedangkan bunga kredit juga turun pada Januari 2016 hingga Desem - ber 2017 sebesar 153 bps atau sekitar 11,3%. Menurut Mirza, transmisi melalui jalur kredit pada tahun 2017 masih terbatas, sejalan de ngan permintaan kredit belum tinggi dan perilaku bank yang masih selektif dalam mem berikan kredit baru. Hal ini tercermin pada pertum buh - an kredit sebesar 8,15% (yoy) atau naik sebesar Rp357 triliun per Desember 2017. Adapun Dana Pihak Ketiga (DPK) per Desember 2017 naik sekitar Rp449 triliun atau naik 9,28% (yoy).

Menurut dia, sejalan de ngan perkiraan perbaikan eko nomi dan penerapan kebijakan makro - prudensial terkait inter mediasi dan pengelolaan likui ditas. Se - lainitu, progrespro gramkon so - lidasi korporasi dan perbankan yang ditem puh, Bank Indo nesia memperkirakan per tum buh - an DPK dan kredit akan lebih baik pada 2018 masing-masing dalam kisaran 9,0-11,0% (yoy) dan 10,0-12,0% (yoy). Mirzamengatakan, dite ngah pertumbuhan kredit perbankan yang terbatas, pembiayaan eko - nomi melalui pasar keuangan, seperti penerbitan saham, obli - gasi, dan medium term notes (MTN) terus tumbuh. Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam menilai, kecukupan modal dan berlimpahnya likui - ditas di industri perbankan Indonesia menunjukkan dua hal.

”Pertama, hal ini berarti in - dustri perbankan kita me miliki ketahanan yang kuat. Kita bisa meyakini industri perbankan tidak akan mudah terguncang oleh krisis seperti yang terjadi pada tahun 1997/98,” katanya saat dihubungi kemarin. Menurut dia, ini sudah di - buktikan bagaimana industri perbankan Indonesia tidak goyah meski diterpa krisis ke - uangan global pada tahun 2008 dan rangkaian guncangan finan sial sesudahnya. Namun, selain mengindikasikan ketahan an, rasio modal dan likui - ditas yang tinggi tersebut juga menyiratkan industri per bank - an Indonesia belum opti mal menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi.

”Rasio modal yang jauh di atas batas minimum yang dite tap kan basel, demikian juga de ngan rasio likuiditas yang be gitu ting - gi, mengindikasikan penya lur - an kredit perbankan yang tidak maksimal,” ujarnya. Lebih lanjut dia men - jelaskan, rendahnya penyaluran kredit pada tahun 2017 berarti juga rendahnya investasi se - kaligus menyiratkan ter - batasnya kontribusi perbankan terhadap pertumbuhan ekonomi. Meski demi - kian, kondisi rasio kredit ber - masalah terus menunjukkan per baikan setelah mengalami pun caknya pada tahun 2015- 2016. Upaya res truk turisasi kre - dit perbankan diikuti perbaikan harga komo ditas secara simul - tan mempercepat perbaikan kon disi kredit bermasalah.

”Tahun ini harga komoditas masih menunjukkan tren ke - naik an. Oleh karena itu, kita bisa berharap kondisi kredit bermasalah di industri per - bank an akan lebih baik lagi,” kata dia. Menurut Pieter, semakin membaiknya rasio kredit ber - masalah sementara rasio modal likuiditas begitu tinggi seharus nya bisa dimanfaatkan perbankan untuk meningkatkan penya lur an kredit tahun ini. ”Target per tumbuhan kre dit 10-12% se lama 2018 se sung - guhnya terlalu kecil, apabila kita mengharapkan pertumbuh an ekonomi 5,4%,” katanya.

Menurut dia, perbankan harus dipacu untuk lebih ber - peran mendorong pertum - buh an ekonomi. ”Jangan dibiar kan perbankan terus men jadi makhluk malas me - nikmati ke untungan ber limpah, semen tara rakyat dan pemerintah berupaya keras mengerjakan PR yang sudah terlalu lama tidak dikerjakan, yaitu mem bangun ber - bagai infrastruktur yang sangat kita butuhkan,” kata - nya.

Kunthi fahmar sandy