Edisi 13-02-2018
Merambah ke Online, Tidak Tinggalkan Pelanggan Tradisional


LEGO identik dengan permainan bongkar pasang kepingan plastik. Seiring perkembangan teknologi, LEGO juga merambah video games. LEGO bekerja sama dengan raksasa internet Tencent untuk menciptakan video games dengan target pasar di China.

Hadirnya LEGO dikonten dan platform digital menunjukkan per usaha an asal Denmark itu te lah berubah dan merambah pasar baru. Hal itu dilakukan LEGO karena melihat perkembangan pasar di China yang selalu tumbuh. “Kerja sama antara LEGO dengan Tencent dalam menemukan cara yang lebih kreatif untuk menjangkau anakanak dan menciptakan konten lebih menarik,” kata Kepala LEGO di China Jacob Kragh dilansir Reuters . Langkah yang dilaksanakan pada awal tahun ini merupakan bentuk strate gi LEGO merebut pasar China.

Pasalnya, kinerja keuangan pada semester awal 2017 menunjukkan penurunan dan cenderung mengecewakan. Pe nurun an penjualan itu pertama kali terjadi dalam satu dekade terakhir, yakni turun sebesar 5% menjadi USD2,38 miliar. LEGO mengalami penurunan penda patan karena pasar-pasar yang sudah matang, seperti di Amerika Serikat dan Eropa mengalami kelesuan. Sedangkan pasar yang tumbuh pesat adalah China mencapai dua digit. Nanti LEGO akan fokus pada sistem penjualan online . Sementara itu, Kepala Eksekutif LEGO Group Jorgen Vig Knudstorp selalu berpikir untuk membuat LEGO yang unik. Dia senantiasa mengunjungi ritel dan berkoordinasi dengan pema - sar an.

Dia juga pernah belajar di Mas sa - chusetts Institute Technologi (MIT) hanya untuk mengetahui pola belajar anak. Tak hanya itu, dia menghabiskan tiga hari di konferensi LEGO untuk orang dewasa di Washington DC. “Mereka semua menginspirasi untuk kembali menghasilkan produk yang kreatif,” ungkap Knudstorp. “Saya pun harus meng habiskan waktu ber sa ma anakanak untuk bermain LEGO,” ujarnya. Melansir Financial Times, Knud storp menjelaskan tentang pentingnya LEGO yangsudahmenjadi brand populer. “LEGO punmenjaditargetpem ba jak an,” katanya. Hal itu semua dilakukan demi brand . Dia menceritakan, banyak orang me - ngi rim surat kepadanya tentang pen - ting nya LEGO dalam kehidupan me reka.

“Suara dari konsumen membuat kami tetap bertahan. Brand yang kami te kankan adalah memberikan penga - laman pembangunan kreatif kepada semua orang,” tuturnya. Dia pun selalu membalas surat yang dikirimkan me la - lui pos ataupun surel (surat elektronik/email) kepada pelang gannya. Seiring perkembangan media sosial, Knudstorp pun mendengarkan ke luh an dan cerita tentang LEGO dari media so sial, terutama Twitter. “Kami me ne kan - kan pentingnya mendengar. Twit ter dan media sosial memberikan kita tanggung jawab untuk mendengar isu dan hal yang di sampaikan pelanggan,” paparnya.

Tak hanya pelang gan, Knudstorp juga perhatian para kar yawannya. Dia terbilang pemim pin yang punya hati, termasuk manakala harus melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi kar - ya wannya. Dia mencoba mengaitkan dirinya d e ngan karyawan yang akan di - ru mahkan. Dia menawar kan pelatihan dan hadir di depan kar ya wan - nya langsung. “Saya menghabiskan wak tu 40 jam untuk ber te mu dengan karyawan yang akan di pu tus kerja,” ujar Knudstorp. “Mereka bertanya: bagaimana masa depan saya? Tentu saya tidak bisa men - jamin, tapi saya akan peduli. Menjadi transparan dan jujur sangat penting untuk membangun moral,” ujarnya.

Selalu Mengucapkan Terima Kasih

Meskipun masuk jajaran eksekutif, Knudstorp juga selalu turun tangan da - lam memberikan pe la - yan an kepada pelanggan. Dia m e n y e m - pat kan diri men jawab su - rel dari pe lang - gan, menceritakan do ngeng kepada pasien anak-anak yang rela menabung untuk membeli LEGO. Dia ingin me ne - kankan pelayanan kepada pelanggan bu kan hanya urusan produk per usa - haan, tetapi mem beri kan hati kepada mereka. Dalam menjalankan kepe mim pin - annya, Knudstorp juga tergolong rendah hati.

Dia selalu mengucapkan terima kasih kepada semua orang, baik kar yawan maupun pelanggan ka rena telah melaksanakan pe rintah dan arahannya. “Kamu jangan men ja - lankan per usahaan berdasarkan apa yang diceritakan karyawan ke padamu. Kamu harus me - nge lola perusahaan ber da - sar kan suatu ke inginan,” katanya. Tidak mengenal kontrol ter - hadap anak buah dan ope rasional perusahaan me ru pa kan prinsip yang dijalani Knuds torp.

“Saya menekankan kon teks lokasi di bandingkan pengontrolan,” tuturnya. Dia mengaku tidak suka dengan banyak per usa haan yang meng utamakan kontrol terhadap kinerja anak buahnya. “Aki batnya, kamu meng hu - kum berdasarkan apa yang sebenarnya tidak kamu inginkan,” katanya.

Andika hendra