Edisi 13-02-2018
Sinergi Generasi Muda Harumkan Kopi Sumatera Barat


Industri kopi di Sumatera Barat (Sumbar) terus membangun dari hulu hingga hilir. Para pelakunya saling mendukung, termasuk anak-anak muda pencinta kopi.

Merek kopi dari Solok, Sumbar, juga sempat muncul di adegan film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2). Hal itu menjadi bukti adanya sentuhan dan sinergi di kalangan anak muda dalam mengharumkan merek kopi lokal. Kerja sama apik berhasil dikembangkan antara koperasi petani kopi di hulu dengan pengusaha warung kopi modern di hilir. Mereka sengaja fokus melayani langsung para end user demi harga jual yang lebih baik. Salah satu pengurus Koperasi Solok Radjo Teuku Firmansyah merupakan anak muda usia 32 tahun dari Solok, Sumbar. Koperasi yang berlokasi di Aie Dingin, Solok, itu mengurusi produksi dan pemasaran green bean alias biji kopi. Teuku bercerita, semua berawal dari aktivitas di komunitas sejak 2012.

Kesibukan mereka kemudian dikukuhkan dalam wadah koperasi. Peran koperasi ini sangat strategis menghidupkan industri kopi di Sumbar yang telah lama tertidur. Menurut Teuku, pengembangan kopi di Sumbar agar menjadi produk bernilai tambah dan berharga jual tinggi masih belum sesuai harapan. ”Wawasan pengolahan kopi masyarakat rendah. Ditambah harga kopi yang masih rendah hingga tahun 2000 ke atas. Ini membuat masyarakat dulu banyak menebang tanaman kopinya,” ujar Teuku saat dijumpai di Rumah Kreatif BUMN milik BNI di Padang belum lama ini. Dia menuturkan, salah satu area kebun kopi di Sumbar berada di dataran tinggi Solok dan tersebar di lima kecamatan lainnya, seperti Payakumbuh, Solok Selatan, Pasaman, dan Agam di kaki Gunung Singgalang.

Jenis yang ditanam petani, yaitu arabika dan robusta. Saat ini permintaan kopi, baik arabika maupun robusta, sudah naik. Begitu juga dengan harganya mulai merangkak naik. Teuku menambahkan, produksi optimal biji kopi arabika dari daerah Solok bisa mencapai 15 ton per tahun. Soal penjualan, mereka sudah memiliki segmen pasar tersendiri. Strateginya dengan memasok untuk end user atau menggandeng pemilik gerai coffee shop. Mitra toko kopi tersebut merupakan pendukung utama koperasi itu. Setidaknya terdapat lebih dari 10 mitra di Sumbar dan lebih dari 20 mitra untuk daerah lainnya. Salah satu bukti hubungan erat dengan kedai kopi ialah saat nama kopi Solok muncul di adegan film AADC 2.

Munculnya nama kopi Solok disebutnya sebagai bentuk apresiasi rekan-rekan di Klinik Kopi yang menjadi pembeli kopi mereka. ”Kami tidak bayar untuk promosi itu, hanya apresiasi Klinik Kopi saja karena rasanya unik lalu direkomendasikan oleh mereka,” ujarnya. Tantangan menghidupkan industri kopi di Sumbar, menurutnya, membutuhkan bantuan semua pihak. Saat ini jumlah pengusaha kedai kopi masih sedikit di Sumbar. Peran kedai kopi lokal sangat penting untuk menyerap hasil biji kopi dan mengedukasi masyarakat tentang industri kopi. Selain itu, juga dibutuhkan pengadaan bibit berkualitas untuk petani.

Sementara itu, selera anak muda masa kini yang senang nongkrong di kafe, mendorong pemuda, seperti Fajri Jumaiza untuk membuka usaha kedai kopi di Padang. Pria berusia 23 tahun itu membuka kedai kopi bernama Dua Pintu Coffee di Kota Padang pada 2015. Awalnya, dia berjualan kopi melalui program wirausaha di kampusnya di Universitas Andalas. Dengan modal sekitar Rp25 juta di awal usaha, kini dia menghasilkan omzet Rp30 juta per bulan. ”Ciri khas kopi Solok rasanya agak asam seperti lemon dan ada cita rasa rempah Pelanggan saya mayoritas penikmat kopi Solok. Jadi, kalau saya banyak membeli kopi dari luar Sumbar malah rugi, karena peminatnya sedikit,” ujar Fajri yang juga berasal dari Solok.

Dia juga melakukan kolaborasi dengan Koperasi Solok Radjo untuk meningkatkan brand awareness kopi lokal. Di kedainya terdapat ruang pamer atau showcase beberapa produk dari koperasi. Para pengunjung mendapat layanan untuk membeli produk dalam porsi sedikit. Sedangkan pembelian kopi di atas 10 kg bisa langsung ke koperasi. ”Sinergi kami ini dengan nama Radjo Project. Pembeli yang ingin mencoba produk bisa datang ke kedai kami. Bahkan, mereka bisa membeli campuran dari beberapa varian rasa. Ini bermanfaat juga untuk pedagang kopi skala kecil yang lain,” ujarnya.

Pameran kuliner yang digelar BNI pekan lalu berlokasi di Rumah Kreatif BUMN (RKB) BNI di Kantor Pos Kota Padang. Menteri BUMN Rini Soemarno juga sempat menyaksikan demo cara pengolahan masakan rendang oleh pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).

Hafid Fuad