Edisi 13-02-2018
Empat Karateka Mundur dari Pelatnas


JAKARTA- Pengurus Besar Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (PB Forki) prihatin dengan mundurnya empat atlet karate dari Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Asian Games 2018.

Kondisi itu membuat persiapan tim Indonesia menjadi kurang kondusif jelang ajang olahraga multievent terbesar di Asia tersebut, Agustus mendatang. Sekretaris Jenderal PB Forki Lumban Sianipar mengungkapkan, sebelum memutuskan mundur, empat atlet tersebut, yakni Sisilia Ora dan Ahmad Zigi Zaresta Yuda (kata perorangan), Srunita Sari Sukatendel (kumite -50 kg), serta Cok Istri Agung Sanistyarani (kumite -55 kg), sempat menghilang dari pelatnas. PB Forki sempat melakukan pencarian dan meminta penjelasan sehingga mangkir dari pelatihan. Akhirnya, saat dipertemukan keempat atlet itu memutuskan keluar dari pelatnas dengan alasan yang tidak jelas.

Dia mengklaim empat atlet tersebut tidak mengikuti peraturan yang sudah dikeluarkan PB Forki. Tidak hanya atlet, empat pelatih juga menyatakan mundur dari pelatnas tanpa alasan, termasuk Frans Nurseto. Anehnya, tiga jam setelah melayangkan surat pengunduran diri, Frans kembali meminta Sekjen Forki untuk kembali meminta dimasukkan dalam jajaran pelatih. Namun, permohonan tersebut sudah terlambat karena telah dilaporkan ke Ketua Umum PB Forki Gatot Nurmantyo. “Terkait dengan mundurnya empat atlet dan pelatih semuanya didasari keinginan sendiri dalam arti tidak ada tekanan atau masalah di PB Forki. Untuk atlet, dia beralasan tidak mau ditangani pelatih yang ditunjuk pengurus dan merasa nyaman bersama pelatih pelatnas yang lama,” ungkap Lumban, di Kantor PB Forki, Jakarta, kemarin.

Lumban juga mengungkapkan jika keempat atlet itu mengaku keberatan mengikuti seleksi ulang selama di pelatnas. Bahkan, mereka hanya ingin pelatnas dilakukan di Belleza (tempat pelatnas yang sebelumnya). Padahal, PB Forki telah menyusun program pelatnas yang berjalan sejak 4 Februari lalu, seperti latihan fisik, pemeriksaan psikologis, pemeriksaan kesehatan, dan latihan teknis. Mengingat penting dan strategisnya Asian Games untuk Indonesia, PB Forki melaksanakan program pelatnas meskipun dukungan dari pemerintah belum turun. Meski demikian, pelatnas PB Forki pada umumnya berjalan lancar dan atlet memiliki semangat yang tinggi karena mereka merasa baru kali ini mendapatkan kompetisi secara sehat.

Karena itu, Lumban beserta pengurus lain merasa yakin tim ini akan menyumbangkan hasil terbaik untuk Indonesia. Saat ini, tim pelatnas karate dihuni 28 atlet yang diproyeksikan tampil di Asian Games 2018. Nantinya, atlet pelatnas akan menjalani seleksi sebanyak dua kali untuk pembentukan tim inti karate Asian Games 2018 akhir Maret dan Mei. Demikian halnya tim pelatih yang diisi delapan orang. Terpisah, empat karateka yang mundur dari pelatnas mengadu ke Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Mereka berharap semuanya bisa secepatnya kembali ke pelatnas karate.

Mereka juga meminta agar berita negatif yang menyebutkan mereka kabur dari pelatnas karena menolak pelatih baru yang ditunjuk pengurus Forki serta takut tidak lolos seleksi tidak lagi dimunculkan. Sisilia mengaku tidak takut kalah bersaing dari seleksi. Dia hanya menolak ikut pelatnas persiapan Premiere League di Paris, 26-27 Januari lalu. “Kami meminta agar pelatih yang telah dua tahun menangani kami diikutkan. Namun, keputusan itu sangat bertolak belakang dengan kebijakan yang dilakukan PB Forki,” tandasnya.

Raikhul amar