Edisi 13-02-2018
Dari Pendaki Jadi Biliuner


YVONChouinard tidak pernah berniat menjadi biliuner seperti sekarang. Ia mendirikan perusahaan pakaian dan peralatan outdoor Patagonia semata karena tidak ada produk di pasar yang sesuai keinginannya. Kini, Patagonia menjadi salah satu merek outdoor terbesar di Amerika.

Pada usia 20-an tahun Yvon Chouinard menghabiskan lebih dari 6 bulan dalam setahun untuk melintasi Amerika Utara dan Pegunungan Alpen. Terkadang ia bisa begitu miskin dan tidak punya uang hingga hidup dengan hanya 50 sen sehari (Rp7.000). Bahkan, ketika hidup di alam bebas, ia bisa memakan tupai, dan bersembunyi dari penjaga hutan untuk memperpanjang batas waktu berkemah di taman. Chouinard adalah pria yang cinta dengan alam dan kehidupan bebas. Filosofi hidupnya itu lantas disematkan di Patagonia, yang mulanya hanyalah perusahaan yang memproduksi aksesori dan perlengkapan pendakian dan panjat tebing.

Pada 2015 penjualan omzet Patagonia menembus USD750 juta. Dan sekarang, kekayaan Chouinard mencapai USD1 miliar. Chouinard adalah seorang peselancar, pemain kayak, pendaki gunung, yang kemudian menjadi pebisnis yang eksentrik. Dia sendiri tidak pernah ingin menjadi kaya. Karena di Patagonia, dia lebih suka berfokus untuk mengembalikan keuntungan ke alam. Bahkan, Chouinard malah berupaya untuk memperlambat pertumbuhan Patagonia dan profitnya, untuk menjaga perusahaan tersebut tetap kecil. Namun, hal tersebut justru membuat Patagonia membesar.

“Saya tidak pernah berupaya untuk menjadi pebisnis. Hanya risih ketika melihat sebuah produk. Saya selalu bilang, saya bisa membuat lebih baik dari ini. Ketika saya naik gunung, saya merasa bisa membuat peralatan naik gunung yang lebih baik lagi,” katanya. Chouinard mendorong Patagonia untuk menerapkan praktik ramah lingkungan, termasuk membuat kain dari botol plastik daur ulang. Di ajang Black Friday 2011, Patagonia mencetak iklan satu halaman di The New York Times yang mendorong pelanggan untuk malah tidak membeli produknya.

Perusahaannya bahkan menawarkan perbaikan gratis untuk pakaiannya supaya konsumen tidak segera membeli produk lagi. “Hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk planet ini adalah untuk menjaga barang-barang kita digunakan lebih lama,” kata Chouinard. Tentu saja, bagi dunia bisnis, hal tersebut mungkin dianggap aneh. Bahkan, kontraproduktif. Bagaimana mungkin perusahaan justru meminta konsumen untuk tidak membeli produk mereka. Namun, justru hal itu dianggap sesama pebisnis sebagai hal yang cerdas. “Saya yakin dia membuat keputusan-keputusan bisnis yang cerdas,” tutur Susie Tompkins Buell, salah satu pendiri North Face dan teman lama Chouinard.

“Dia berusaha memberikan nilai dan filosofi terhadap perusahaannya,” katanya. Lahir pada 1938 di Lisbon, Maine, Chouinard dan keluarganya pindah ke Burbank, California, saat berusia sekitar 8 tahun. Di sana Chouinard bergabung dengan klub elang berusia 14 tahun dan belajar untuk menjelajahi tebing. Pada usia 16 dia mengemudikan Ford 1940 yang dia bangun ke Wyoming, di mana dia menghabiskan musim panas dengan belajar mendaki gunung. Pada tahun 1957 ia mulai merintis usahanya sendiri dan menamai startup Chouinard Equipment. Selama bertahuntahun, dia mencari nafkah dengan menjual perlengkapan dari bagian belakang mobilnya di Wyoming, pegunungan Alpen, dan Yosemite.

Katalog pertama Chouinard Equipment, yang diterbitkan pada 1972, dibuka dengan sebuah esai yang menasi - hati para pendaki untuk membuka mata terhadap dampak lingkungan dari olah - raga mereka. Selama perjalanan ke Skotlandia pada tahun 1970, Chouinard membeli baju rugby yang dia kenakan saat memanjat di AS. Kain yang kokoh menarik perhatian pendaki lainnya, jadi dia mengimpor beberapa kaus dan mereka langsung menjualnya. Chouinard juga mulai men - jual sarung tangan, topi, dan celana pendek. Beberapa tahun kemudian, dia mengganti bisnis pakaiannya, Patagonia, pegunungan terjal di selatan Argentina.

Sebagai tindakan kepedulian terhadap lingkungan, Patagonia menyumbangkan ruang kerja, sebuah kotak surat dan sejumlah uang kepada seorang mahasiswa pascasarjana yang bekerja untuk menyelamatkan satwa liar di sebuah sungai yang tidak jauh dari kantor perusahaan di Ventura, California. Sekitar 1974, perusahaan tersebut hampir bangkrut setelah harus menjual kaus cacat dengan harga diskon, dan seorang akuntan mengenalkan Chouinard kepada seorang anggota mafia di Los Angeles yang menawarinya pinjaman dengan bunga sebesar 28%. Chouinard menolak proposal tersebut. Namun, Patagonia berhasil bertahan, dan pendapatan melonjak dari USD20 juta menjadi USD100 juta antara pertengahan 1980-an dan 1990-an.

Menolak Disebut Pebisnis

Selama periode itu, ia sadar Chouinard memang seorang pengusaha. “Saya ingin menjauhkan diri saya sejauh mungkin dari sosok pengusaha,” tulis Chouinard dalam bukunya. “Jika saya harus menjadi pengusaha, saya akan melakukannya sesuai dengan keinginan saya sendiri,” katanya. Pada 1986 perusahaan tersebut menyumbangkan 10% keuntungan kepada kelompok-kelompok kecil yang bekerja untuk menyelamatkan lingkungan; Patagonia kemudian menaikkan janji tersebut menjadi 1% dari penjualan jika jumlahnya lebih tinggi.

Pada 1988 perusahaan ini meluncurkan kampanye lingkungan nasional pertamanya, sebuah dorongan untuk deurbanisasi Lembah Yosemite. Setelah krisis lain pada awal 1990-an, Patagonia justru berupaya memperlambat pertumbuhannya. Namun, perusahaan outdoor tersebut masih berkembang dengan kecepatan tinggi. Dalam bukunya, Chouinard mengatakan penjualannya tumbuh 25% di tengah krisis keuangan 2008-2009, dan keuntungan meningkat tiga kali lipat antara 2008 dan 2014. “Sebagian besar perusahaan akan memimpikan jenis pertumbuhan itu,” kata Andrew Alvarez, seorang analis pakaian jadi di firma riset IBISWorld. “Saya pikir mereka bukan perusahaan yang antikemapanan, tapi sangat menyadari tujuan perusahaan untuk kembali ke alam, menjadikannya bagian dari bisnis model,” ungkapnya.

Namun, sejumlah karyawan Patagonia memastikan bahwa moto perusahaan memang untuk amal. Seperti pada awal 1990-an, Patagonia mulai menggunakan kapas organik, dan melatih Nike dan Gap tentang bagaimana membuat peralihan terhadap produk ramah lingkungan. Pada awal 2000-an, Patagonia bermitra dengan produsen peralatan pancing Blue Ribbon Flies untuk menciptakan gerakan “1% for the Planet”, sebuah koalisi bisnis yang berjanji untuk menyumbangkan 1% dari penjualan mereka ke lingkungan. Pada 2009 Chouinard berbicara dengan pembeli Wal-Mart di seluruh dunia tentang bagaimana raksasa ritel dapat menerapkan bisnis ramah lingkungan.

“Ini nyata, bukan sebuah cerita, bukan strategi, ini adalah hal yang nyata,” kata Craig Wilson, mantan karyawan Patagonia yang bekerja di departemen pemasaran dan digital perusahaan selama delapan tahun sampai 2006. Wilson menulis sebuah buku yang merinci bagaimana model bisnis Patagonia bisa menyelamatkan perusahaan sekaligus menyelamatkan planet ini. Chouinard dianggap telah mencapai dan menjalankan filosofi hidupnya, yakni menciptakan sebuah bisnis yang mengilhami orang lain untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar mereka. Chouinard masih melakukan traveling sepanjang tahun.

“Apa pun yang ingin dia lakukan, dia melakukannya karena dia percaya akan hal itu,” kata temannya, Tompkins Buell. Pada usia 78 tahun Yvon Chouinard mampu mentransformasi obsesinya terhadap mendaki, dan merawat lingkungan, menjadi salah satu perusahaan yang sangat populer di dunia.

Danang arradian