Edisi 13-02-2018
Menanti Kehadiran Ponsel Full Screen Display Terjangkau


INI yang akan terjadi pada 2018; para vendor terus berupaya memangkas bezel atau bingkai di bodi ponsel, menghadirkannya ke rentang harga yang terjangkau.

Tujuannya agar pengguna merasa seperti sedang menggenggam sebuah layar dan tidak ada hal lain yang mengalihkan fokus mereka di layar. Pemain besar seperti Samsung dan LG-lah yang memicu tren ini pada 2017, diikuti Apple. Tetapi, yang pertama kali memopulerkan tren justru Xiaomi lewat Xiaomi Mi Mix pada 2016. Ponsel berukuran 6,44 inci tersebut mengusung konsep full screen atau bezel-less . Sekarang masing-masing vendor punya sebutan sendiri terhadap teknologi tanpa bingkai itu, mulai infinity display, full vision display, hingga entireview display . Direktur Riset Counterpoint Technology Market Research James Yan memastikan bahwa desain ponsel berlayar full-screen ini bakal menjadi tren 2018.

“Pengguna smartphone selalu menginginkan layar besar agar menonton lebih nyaman dan tren full screen relevan dengan kebutuhan user yang terus meningkat,” ungkapnya. Yan menambahkan, supply chain untuk membuat full-screen display smartphone saat ini sudah tersedia dan vendor perlu menjadikan fitur tersebut sebagai pembeda di antara kompetisi yang semakin sengit. Pendapat serupa diungkapkan pemerhati teknologi, Lucky Sebastian. Menurut Lucky, dalam waktu tidak lama lagi layar dengan rasio lama akan dianggap ketinggalan.

“Pengguna smartphone menginginkan layar yang lebih lega, tetapi tidak ingin ukuran smartphone membesar signifikan,” ujarnya. Dengan rasio baru yang membuat layar lebih memanjang, ukuran layar secara diagonal membesar, tetapi ukuran smartphone keseluruhan tidak membesar. Menurut Lucky, rasio layar baru ini juga lebih cocok untuk menikmati cinematic experience yang akan semakin umum hadir di smartphone . Disebut sinematik karena bioskop pada umumnya memiliki rasio memanjang seperti ini. Dengan layar memanjang, pengguna merasakan sensasi kenyamanan menonton yang optimal ala bioskop. Dari bahasa desain, layar memanjang juga terlihat lebih langsing dan proporsional, semakin kecil pula bezel yang mengikutinya.

“Dengan screen to body ratio yang lebih bagus, smartphone pun terlihat lebih futuristik,” ujarnya. Fitur full-screen display ini memang baru bisa dirasakan para pengguna ponsel premium di Indonesia, yang rata-rata harganya masih di atas Rp6 juta. Tetapi, hal tersebut tidak lama lagi segera berubah. Sebab, dalam waktu dekat diprediksi vendor mulai merilis model ponsel full screen display mereka di Indonesia dengan harga lebih terjangkau. Konsumen dapat merasakan fitur yang mulanya hanya ada di ponsel premium, di ponsel yang lebih terjangkau daya beli mereka. Pertanyaannya, siapa yang duluan melakukannya?

Karena perusahaan yang paling cepat merespons kebutuhan konsumen inilah yang akan menjadi pemenang, menunjukkan bahwa mereka yang paling adaptif terhadap teknologi dan tren. Apalagi, menurut Lucky, layar memanjang ini akan menjadi acuan baru berikutnya. Dengan smartphone terjangkau, juga menggunakannya, perubahan rasio ini akan semakin cepat, semakin umum. “Dulu ketika ada Windows, Symbian, dan BlackBerry, layar tidak punya acuan. Ada kecil, besar, sesuka hati. Sekarang acuan rasio lebih jelas. Sama seperti televisi, berubah dari 4 : 3 ke 16 : 9, hingga smartphone yang 18 : 9 atau 18 : 9,” bebernya.

Danang arradian