Edisi 13-02-2018
Wajah Baru Terminal Pondok Cabe Minimalis


TANGERANG– Pembangunan Terminal Pondok Cabe di Jalan Kemiri Raya, Pondok Cabe Udik, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel), segera rampung. Terminal terbesar di kota pemekaran Kabupaten Tangerang itu akan segera diuji coba, tinggal menunggu pelimpahan ke Badan Pengelola Transportasi Jakarta (BPTJ).

Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany mengatakan, terminal yang digadang-gadang pengganti Terminal Lebak Bulus tersebut dikelola oleh BPTJ. “Pelimpahan aset Terminal Pondok Cabe ke BPTJ sebagai badan yang akan mengelolanya dilakukan April ini,” kata Airin di Universitas Pembangunan Jaya, Bintaro, beberapa waktu lalu. Airin mengatakan, terminal ini mengusung konsep kawasan transit terpadu atau transit oriented development (TOD) dan terintegrasi TransJakarta sehingga menghubungkan Tangsel dengan Jakarta.

“Nanti konsepnya TOD dan operasionalnya akan dilakukan oleh BPTJ. Target kami April ini sudah selesai diserahterimakan sehingga bisa cepat beroperasi,” katanya. Apalagi, saat dia melakukan memantau lokasi terminal sudah mulai terlihat aksi vandal di beberapa titik. Dengan begitu, akan membuat terminal terasa menjadi kumuh dan terkesan kurang perawatannya. Kemarin saya lihat ke lapangan sudah ada yang mencoretcoret karena memang belum beroperasi. Mudah-mudah kalau sudah berfungsi tidak ada lagi yang coret-coret,” ujar wali kota dua periode ini. Sebelum resmi beroperasi Pemkot Tangsel masih harus menunggu masa pemeliharaan selama enam bulan oleh pihak kontraktor yang membangun.

Demi memudahkan akses terminal, Airin juga akan melakukan komunikasi dengan Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy untuk membantu pembebasan lahan yang ada di Jalan Kemiri lewat dana hibah. “Untuk fasilitas penunjang seperti jalan, kami sudah menyampaikan ke provinsi waktu pertemuan dengan Pak Wagub bahwa kami minta ada anggaran hibah untuk pelebaran jalan yang ada di Jalan Kemiri,” ungkapnya. Dalam melangsungkan pembangunan itu, pihaknya tidak bisa bekerja sendirian. Dibutuhkan banyak koordinasi dengan pemerintah daerah yang akan terdampak. “Kami juga akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk meminta dana pelebaran jalan. Sebab, Pemkot Tangsel tidak memiliki biaya untuk pembebasan lahan tersebut,” ujar Airin lagi.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Tangsel Sukanta menambahkan, masih banyak yang harus dibenahi di Terminal Pondok Cabe di bidang sarana dan prasarananya. “Banyak yang harus dipersiapkan untuk penyempurnaan Terminal Pondok Cabe. Terutama jalan masuk harus diperlebar 24 RW, melintang dari arah depan pintu masuk Universitas Terbuka,” papar Sukanta. Menurut dia, hal itu telah sesuai dengan kajian pihaknya yang menyebutkan bahwa harus ada pembebasan dan pelebaran Jalan Kemiri ke UT, juga harus dibuat fly-over dari pintu terminal ke jalan.

“Jika jalan berdasarkan kajian, amdal lalin harus ada pembebasan Jalan Kemiri ke UT dan kedua harus dibuat fly-over dari pintu terminal sampai dengan ke jalan raya. Harus terkoneksi,” paparnya. Kepala Bidang Bangunan Gedung Non-Perkantoran Dinas Bangunan dan Penataan Ruang Kota Tangerang Selatan Buwana Mahardika menjelaskan, Terminal Pondok Cabe sudah hampir rampung. “Yang pasti, pembangunan Terminal Pondok Cabe sudah sesuai anggarannya. Sebetulnya Terminal Pondok Cabe ini sedang kami rencanakan untuk diuji coba dalam waktu dekat,” ungkapnya.

Saat ini pihaknya tengah menunggu kesiapan dari Dinas Perhubungan Kota Tangsel sebagai pengelola terminal itu. Dalam dua-tiga minggu ke depan, terminal tersebut diharapkan sudah beroperasi. “Kalau kemarin kami sudah bicara awal mungkin dua-tiga minggu ke depan. Tapi dengan catatan, saudarasaudara kita yang masih menggunakan akses bisa segera dibebaskan,” ujarnya. Masih adanya pedagang sayuran dan buah yang berada di pintu masuk terminal, menyulitkan bus dan angkutan kota yang akan masuk ke terminal. Pedagang ini sudah berjualan di situ tahunan. “Di pintu masuk, masih ada teman-teman yang berusaha. Kalau itu sudah clear , maka sudah bisa dipakai. Ini yang masih mengganjaldan negosiasinya belum ketemu dengan pedagang,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, lahan yang digunakan untuk berdagang oleh para pedagang itu adalah jalan kota, berada di pinggir Jalan Kemiri, dan menghalangi pintu masuk menuju terminal dan sedang dibicarakan. Saat beroperasi nanti Terminal Pondok Cabe tidak akan bisa seperti yang diharapkan, seperti yang ada di Terminal Lebak Bulus. Namun, untuk versi minimalisnya bisa dimasukkan. “Ini seperti versi minimalisnya. Minimal penumpang tidak kepanasan dan ada WC di dalamnya. Kalau istimewanya, saya masih belum bisa bilang sekarang karena interiornya saja belum ada,” ungkapnya. Untuk yang sudah dibangun dan selesai, kantor pengelola, ruang tiket, ruang tunggu, ruang parkir pengunjung, dan pengantar, air, listrik, penerangan, shelter bus lima dan dua untuk angkutan kota.

“Sebetulnya konsep Terminal Pondok Cabe itu seperti bandara. Jadi, aliran penumpang seperti di pesawat di bandara. Datang langsung beli tiket di lantai dua dan saat turun langsung naik bus,” paparnya. Di terminal itu juga tidak ada ruang untuk bus dan angkot berhenti sehingga bus yang melaju langsung ke tempat tujuan. Luas terminal ini sendiri mencapai 3 hektare, dibangun tiga tahun. “Itu kami kerjakan bertahap selama tiga tahun, dari 2015. Pada 2015 itu pejabat yang lama membelanjakan uang Rp19 miliar untuk shelter angkot dan jalan keluar masuk angkutan umum,” ungkapnya.

Pada tahun kedua, yakni 2016, pejabat yang lama menghabiskan Rp10 miliar untuk perkerasan jalan bus. Dan pada tahun ketiga, yakni 2017, seluruh biaya digunakan untuk membangun gedung, dan isinya. “Kalau target penyelesaian, secara minimalis untuk operasional bus sudah. Tetapi masih banyak yang harus dilengkapi, seperti marka jalan dan kelengkapan ruangan,” tuturnya.

Hasan kurniawan