Edisi 14-02-2018
Menko Polhukam Minta Waspadai Aksi Provokasi


JAKARTA –Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto me min ta agar seluruh pihak mewaspa dai isu-isu provokatif yang akhirakhir ini cenderung meningkat, teruta ma isu yang mengarah pada suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).

Wiranto juga sudah meng instruk sikan kepada aparat ke po li - si an untuk tetap menjaga keaman an secara ekstra, ter uta - ma saat ini sudah memasuki ta - hun politik. ”Tapi harapan saya agar media, masyarakat, se - men ta ra bersikap tenang tidak ter ganggu ikut meributkan.

Me ngapa? aparat keamanan diinstruksikan lebih waspada da - lam rangka menjaga agar ke ra - wan an pemilu atau pilkada bisa d i tekan serendah-rendahnya se hingga pada saat hari H nanti, se muanya bisa berjalan dengan tert ib dan aman,” tandas Wi ran - to di Kantor Kemenko Pol hu - kam, Jakarta, kemarin.

Wiranto pun memastikan bah wa akan ada sanksi tegas ke pa - da provokator yang me main kan isu-isu menyinggung SARA. ”Ka - mi sudah ins truk si kan apa rat ke - amanan untuk me nindak te gas semua usaha yang mem buat pe - milu ini ter no da atau ti dak aman. Ini eng gak ada kom pro mi. Ini ma - s a lah ke hormatan bang sa, ma sa - lah ke maslahatan ki ta ber sa ma.

Eng gak bisa main-main. Tung gu sa ja nanti hasil pe nye li dik an ke po - lisian agar di la por kan ke p ada saya ju g a, tentu war tawan da p at in for - ma si lebih leng kap,” ujarnya. Senada diungkapkan Wakil Ke tua DPR Fadli Zon. Fadli me - nge cam serentetan serangan ter - ha dap tokoh keagamaan yang ter jadi akhir-akhir ini.

Ka re na itu, dia mendesak Polri agar meng usut tuntas aksi-aksi bru tal ter sebut, termasuk motif pa ra pe laku. ”Aksi penyerangan ter ha - dap jamaah dan pimpinan Mi sa di Gereja Lidwina Sleman, Yog ya - kar ta, jelas melukai kita. Sa ya me - nge cam tindakan tak ber adab ter sebut.

Tindakan itu sa ma se - ka li tak mencerminkan ajar an aga ma manapun,” tandasnya. Namun di sisi lain, Fadli juga me minta agar masyarakat jeli me nilai kejadian tersebut. Ap a - la gi, kejadian serupa bukan per - ta ma kali terjadi.

”Jangan sam - pai kita gampang menuduh se - olah aksi terhadap kelompok A pastilah disebabkan kelompok B, atau sebaliknya, sebab saya men cium aroma adu domba an - ta r kelompok di sini, baik ant a r - ke lompok yang berbeda agama, mau pun antarkelompok dalam sa tu agama,” paparnya.

Jika ditarik lagi ke belakang, lan jut Fadli, sebelum peristiwa kekerasan di Gereja Lidwina, ter ca - tat setidaknya ada empat serangan serupa yang kebetulan menimpa pemuka kalangan Is lam dari ormas yang berbeda-be da.

Pertama, kek erasan te r ha dap KH Emron Umar Basyri, peng a suh Pondok Pe santren Al Hi da yah Cicalengka, se orang to koh NU.

Kedua, serangan terhadap Ustad Prawoto, salah satu tokoh Persis (Persatuan Islam) yang ak hirnya meninggal dunia.

Ketiga,serangan terhadap seorang santri dari Pesantren Al Futuhat Garut, oleh enam orang tidak dikenal.

Dan keempat, serang an terhadap Ustad Abdul Basit, yang dikeroyok sejumlah orang di Jalan Syahdan, Pal merah, Jakarta Barat.

Serangan-serangan ter se - but menurut dia terlihat me mi - liki pola target yang sama. Sa - sar annya adalah tokoh atau ke - lom pok keagamaan. M ena rik - nya, sejumlah penyerang yang ber hasil diidentifikasi juga me - mi liki identitas tunggal, yaitu di duga sebagai orang gila.

”Kejadian-kejadian tadi jadi ada po la - nya sehingga jangan heran jika ada sebagian dari kita yang men du ga bahwa saat ini sedang ada semacam upaya adu domba an tarumat beragama di sini, apa pun kepentingannya,” tandas po litikus Partai Gerindra ini.

Isu agama, lanjutnya, adalah isu sensitif, sehingga aparat ke - po lisian harus bekerja cepat dan trans paran agar tidak muncul spe kulasi dan prasangka yang bi sa memicu konflik di tengah m a syarakat. Terlebih di tahunta hun politik seperti sekarang.

Upaya-upaya yang mengarah pada adu domba, membenturben turkan masyarakat, akan se ma kin banyak. ”Itu sebabnya pe merintah, dalam hal ini apa - rat keamanan, harus bisa meng - an tisipasi agar peristiwa serupa tak terulang lagi,” ujarnya. Dari sisi keamanan, ren tet an tin dak kekerasan ini me ru pa kan tam p aran bagi pem e rin tah. Ini me nunjukkan p eme rin tah be - lum bisa memberikan j a min an ra sa aman.

Padahal, ul a ma, san - tri, pendeta, dan jemaat ge reja ada lah warga negara yang ber - hak mendapatkan jaminan keaman an dari pemerintah. Apa lagi, pemerintah juga baru me nyelenggarakan Musya wa rah Besar Pe muka Agama dan Ke rukunan Bang sa pekan lalu. ”Ke napa tiba-tiba bisa muncul ke jadian seperti ini? Ini teguran ba gi kedisiplinan pe merintah, khu susnya aparat k e amanan,” tandasnya.

Pengamat terorisme dari In - do nesian Crime Analyst Forum (ICAF) Mustofa B Nah ra war da ya me ngatakan, di era generasi mi le - nial ini masyarakat sudah se ma - kin cerdas terhadap isu-isu yang ber kembang, ter ma suk isu SARA. Menurut dia, pa da 2018- 2019, isu radikalisme hing ga SARA masih akan terus di kem - bang kan di samping isu pemilu.

Selama ini, sebut Mustofa, isu teror tempat ibadah dan pe - nye rangan aparat kepolisian ma sih bisa dipakai. Namun, yang akan datang di era mi le - nial, semua orang sudah me me - gang smartphone. Dampaknya, in formasi banyak bertaburan di me dia sosial sehingga ma sya ra - kat tidak mudah percaya narasi yang dilontarkan pemerintah.

”Orang-orang sudah me megang media sosial dan sudah ti dak lagi bergantung pada i n for ma si kon vensional. Mereka bisa mencari dari sumber-sumber lain. Kare na itu, trik tentang ke ke rasan te rorisme itu pasti ti dak akan mudah dipercayai ka rena polanya sudah bisa dihafal oleh generasi milenial ini,” ungkapnya.

binti mufarida

Berita Lainnya...