Edisi 14-02-2018
Pria Bunuh Keluarga Mantan Istri


BOGOR - Sakit hati lantaran mantan istrinya menikah lagi, seorang pria berinisial TS, 39, tega membunuh mertuanya, J, 48, dan ES, 42, suami baru istrinya tersebut.

Tidak hanya itu, pelaku juga membakar rumah yang dihuni korban dini hari kemarin. Pembunuhan keji yang terjadi di Kampung Cijurey RT 1/ 1, Desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor ini berawal saat TS mendatangi kediaman mantan istrinya berinisial C, 21, pukul 23.30 WIB.

“Berdasarkan keterangan dari anak korban, pelaku yang membawa senjata tajam langsung masuk ke dalam rumah dan menusuk C dan suaminya. Pelaku kemudian menusuk mertuanya hingga mengalami luka parah,” ujar Kapolres Bogor AKBP AM Dicky kemarin.

Tidak sampai di situ, pelaku juga membakar rumah dengan bensin. Saat itu C yang dalam kondisi terluka, bersama anaknya berhasil keluar rumah menyelamatkan diri. Nahas, mertuanya dan suaminya yang juga mengalami luka tusukan tidak berhasil keluar rumah sehingga tewas terbakar.

“Korban J dan ES tewas terbakar di dalam rumahnya. Kemudian pukul 01.00 WIB, pelaku ditemukan warga setempat sudah tewas gantung diri di kandang cacing tidak jauh dari lokasi kejadian, tepatnya di Kampung Cijurey RT 01/03, Sukamakmur,” papar Dicky. Menurut Dicky, saat ini korban C masih dirawat di rumah sakit terdekat.

Sementara polisi masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengumpulkan barang bukti dan keterangan saksisaksi di sekitar lokasi pembunuhan. “Dugaan sementara, pelaku cemburu karena mantan istrinya baru menikah dua minggu,” katanya.

Kapolsek Sukamakmur Iptu Hendra Kurnia menjelaskan, korban tewas J dan ES hubungannya menantu dan mertua. ES merupakan suami C yang baru dinikahinya beberapa pekan lalu. “Kedua korban ditemukan tewas di dalam rumah yang terbakar, sementara pelakunya bunuh diri,” jelasnya.

Psikolog Universitas Pancasila (UP) Aully Grashinta menuturkan, untuk melakukan tindakan pembunuhan biasanya dilandasi motif yang sangat kuat. Saat diindikasikan tidak ada keterlibatan orang di luar rumah maka bisa diduga pada kasus ini lebih pada permasalahan internal keluarga.

Dalam pembunuhan sadis biasanya ada dua yang utama, yaitu masalah psikologis dan ekonomi. Masalah psikologis misalnya soal harga diri dan cemburu. Masalah ekonomi misalnya ingin menguasai harta korban atau sebab lain seperti gangguan jiwa, halusinasi, dan kepercayaan (ritual).

Perbuatan sadis belakangan ini sering terjadi karena kondisi masyarakat sekarang yang lebih berorientasi pada penyelesaian masalah secara kekerasan bahkan hingga menyebabkan kematian. “Padahal, seharusnya banyak permasalahan yang bisa diselesaikan dengan cara yang lebih baik dan solutif,” katanya.

Soal percobaan bunuh diri yang dilakukan pelaku, menurut Shinta, ini menandakan pelaku benar-benar tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah, sehingga satu-satunya cara terbaik menyelesaikan masalah menurut pelaku adalah dengan mengakhiri hidupnya.

“Menyesal atau lari dari jerat hukum akan lebih mendorong untuk kabur. Tapi kalau memutuskan bunuh diri, juga menunjukkan bahwa sebenarnya pelaku betul-betul pada kondisi tertekan sehingga tidak bisa melihat alternatif pemecahan masalah selain mengakhiri hidupnya,” pungkasnya.

Suami Pembunuh Istri dan Dua Anak Perempuan Jadi Tersangka

Kasus pembunuhan sadis terhadap Ema, 40, ibu kandung dan dua putrinya, Nova, 23, dan Tiara, 13, di Perumahan Taman Kota Permai II, Kota Tangerang, Banten, akhirnya terungkap. Pelakunya ternyata orang dekat yakni Mochtar Effendi, 60, suami siri korban.

Kapolrestro Tangerang Kombes Pol Harry Kurniawan mengatakan, dari hasil keterangan dan pemeriksaan saksisaksi serta petunjuk yang ada di lokasi, pelaku pembunuhan itu diketahui adalah suami siri korban. “Dari hasil pemeriksaan saksi dan olah TKP di lokasi, saksi mahkota Mochtar Effendi kami tetapkan sebagai tersangka,” kata Harry.

Motif pembunuhan sadis itu adalah ekonomi. Pelaku tidak terima istri sirinya mengambil kredit mobil tanpa meminta persetujuan dirinya. “Istrinya itu kredit mobil tanpa sepengetahuan suami sirinya, terus ada kesulitan pembayaran dan minta kepada suaminya si Mochtar Effendi.

Mochtar Effendi karena nggak sanggup dan tanpa seizin suami, ribut masalah ekonomi selama tiga hari, puncaknya hari Senin,” kata Harry. Berdasarkan keterangan warga sekitar, keluarga ini memang tidak harmonis. “Cekcok mulut itu berakhir pembunuhan.

Pisau yang digunakan pelaku untuk melakukan pembunuhan berhasil kami temukan, diselipkan pelaku di lemari pakaian kamar tidurnya,” jelasnya. Petugas juga berhasil menemukan ponsel milik korban yang telah dirusak dan dibuang pelaku ke atap rumah.

haryudi/ hasan kurniawan/ r ratna purnama


Berita Lainnya...