Edisi 14-02-2018
Langkanya Kedamaian


Mengapa kedamaian di negeri ini semakin langka? Kerusuhan, kekerasan, dan pembunuhan justru merebak di mana-mana.

Di Jakarta banyak kekerasan ber ujung pembunuhan. Di Madura beda pendapat antara guru dan murid berujung pembunuhan. Di Jawa Barat ustaz dibunuh tanpa sebab yang jelas. Di Sleman pastor dibacok tanpa sebab yang jelas pula. Gejala macam apa ini? Bagaimana kita harus melihatnya? Kita bersyukur diberi Allah SWT organ tubuh bernama mata.

Mata ada lah alat untuk melihat. Dengan melihat, da pat ditangkap keberadaan realitas di sekitar kita. Nyatalah, di situ ada bermacam-ragam realitas. Ada kedamaian, pun kerusuhan, dan sebagainya.

Bagi orang-orang arif dan alim, mata itu identik “pisau tajam”. Mata dapat digunakan untuk tujuantujuan amat luas. Bila digunakan untuk melihat ke dalam diri (introspeksi), de ngan “pisau tajam”, dapat diku pas “kerakkerak kehidupan” yang menyelimuti hati. Hati kemudian kembali menjadi jer nih, salim, dan sehat.

Ke jer nihan hati membuka pintu lebar-lebar masuknya nur ilahi. Pada siapa pun yang terjaga hati nuraninya, akan tergerak jiwa-raganya untuk berbuat ke baik an bagi sesama. Berbuat baik adalah buah dari pohon peng lihatan, yakni penglihatan dengan mata hati maupun mata kepala. Terinspirasi dari sini, pen ting sekali menatap lang kanya kedamaian dengan meng gunakan mata hati, bu kan se kadar mata kepala.

Dari sini pula, dapat dicegah peng hakiman atas orang lain dengan ukuran-ukuran diri sendiri. Pen dekatan sosial-kemanusiaan akan mengantarkan per jalanan kehidupan bersama sarat dengan belas kasih (compassion). Muaranya, terwujud kedamaian. Hemat saya, pembicaraan tentang langkanya kedamaian di negeri ini wajib ditukikkan pada nilai-nilai Pancasila, melalui pemahaman yang benar, utuh, menyeluruh, dan berdasarkan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.

“Bhinneka Tunggal Ika” secara linguistik berarti beraneka ragam, tetapi satu. Rangkaian kata-kata ini merupakan sem boyan, slogan, atau moto agar maknanya mu dah di ingat untuk di pahami tentang ideo logi bang sa Indo nesia, yakni Pancasila. Dari semboyan itu tersirat pemberi ta huan kepada siapapun tentang jiwa dan semangat keaneka ragaman suku, agama, ba hasa, dan berbagai aspek kebudayaan lain di Indonesia.

Keaneka ragaman itu bukan untuk dipertentangkan satu dengan lainnya, tetapi untuk digali dan diselami potensi, daya, atau kekuatannya agar daripadanya diperoleh rahmat sehingga se makin menyatu di dalam wadah keindonesiaan. Dalam perspektif ideologi, sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung nilai-nilai religius, yang digali dari agamaagama yang ada di Indonesia.

Islam mengajarkan kepada umat nya tentang makna perbedaan, kebinekaan, dan keberagaman agar daripadanya saling mengenal. Allah SWT berfirman: “Hai ma nusia, sesungguhnya Kami men ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu ber bang sabangsa dan bersuku-suku su pa ya saling mengenal. Se sung guh nya yang paling muliadian ta ra kamudi sisi Allah ialah yang pa ling berta k wa di antara kamu. Se sungguhnya Allah Maha me nge ta hui lagi Maha Mengenal.“ (QS 49: 13).

Makna kenal-mengenal dalam perbedaan itu jauh melampaui apa yang disebut toleransi. Toleransi merupakan sikap saling menghormati antarke - lompok atau antarindividu disertai upaya menjauhkan dari diskriminasi. Puncak dari pemaknaan kenal-mengenal dalam perbedaan adalah takwa. Sampai derajat ketakwaan itulah – mestinya pengimple mentasian Bhinneka Tunggal Ika.

Semakin kuat pemahaman tentang makna keaneka ragaman pada diri seseorang, atau suku, atau golongan, akan semakin terbuka peluang bagi orang, suku, atau golongan itu untuk berkontribusi mewujudkan kedamaian bersama. Dari kenal-mengenal dapat ditarik pelajaran dan pengalaman pihak lain guna pening kat an kadar ketakwaan masingmasing.

Langkanya kedamaian di tengarai berjalan seiring dengan langkanya budaya mem beri dan budaya berbagi antarsesama. Masing- masing etnis, golong an, suku, pemeluk agama cenderung mendesakkan kepentingannya sen diri, seraya memaksa pihak lain untuk mengakuinya. Klaim bah wa dirinya memiliki hak indi vi dual setara dengan hak individual pihak lain memicu mun culnya sikap egois-individual, eks klusif, dan arogan.

Padahal, da lam fitrahnya manusia selain makhluk individu, juga makh luk sosial. Dalam agama pun ada fungsi individu dan ada fungsi sosial. Dalam ke langkaan ke da maian itu, layak diper tanyakan, sudahkah ajar an sosialkeagamaan dipraktik kan secara benar? Maraknya kerusuhan-kerusuhan di negeri ini merupakan bukti gagalnya pendidikan ka - rakter.

Teramat sulit ditemukan “guru” dalam makna esensialnya sebagai orang yang pantas “digugu dan ditiru”. Teramat langka pemimpin yang mampu memberi keteladanan. Pendidik an budi pekerti, tinggal ipian, tanpa kenyataan. Implikasinya, penyakit peradaban merebak di mana-mana. Indikatornya:

(1) keengganan menjalin hubungan kenal-mengenal;

(2) keengganan berbagi ilmu, berbagi harta, berbagi kasih-sayang;

(3) semakin kuatnya ego pribadi, ego insti tusi, ego kelompok;

(4) semakin sengitnya persaingan (utamanya di bidang politik dan bisnis);

(5) teganya menihilkan atas rival-rivalnya.

Kini begitu banyak saudarasaudara kita salah persepsi. Dia kira harta ber-jibun, kekuasaan kuat, kepopuleran memikat men jadi garansi terwujudnya kehidupan damai dan mulia. Tidak demikian. Semua itu fatamorgana belaka. Kesalahan persepsi itu berakibat fatal. Banyak orang tersesat menjadi koruptor, teroris, ekstremis, perampok, pembunuh, dan perilaku jahat lain. Mereka itulah perusak-perusak kedamaian.

Demi negeriku Indonesia, sesungguhnya introspeksi dan pengendalian diri merupakan perbuatan mulia untuk mewujudkan kedamaian. Da lam kesunyian, marilah kita bertanya: “Apa yang telah ku perbuat un tuk negeri ini”? Wallahualam.

SUDJITO ATMOREDJO

Guru Besar Ilmu Hukum, Kepala Pusat Studi Pancasila UGM 2013-2015