Edisi 14-02-2018
Komunikasi Industri Sawit Zaman Now and Next


Dalam setiap kesempatan bertemu dengan teman-teman media, baik cetak maupun elektronik, satu topik paling hangat dibahas adalah tantangan bisnis diera di gital.

Bahasa kerennya, menghadapi era disruptif za man now. Terutama media ce tak, tidak saja penjualan koran yang terus turun, pendapatan iklan juga— pelan tapi pasti—tumbuh negatif. “Kalau masih ada penjualan koran, itu mungkin karena masih ada generasi old yang belum sepenuhnya tune in dengan transformasi komunikasi di gital saat ini,” ujar seorang teman wartawan.

Saya tidak sepenuhnya percaya dengan itu. Karena bagi saya pribadi, membaca sebuah informasi bukan sekadar tentang kecepatan, tetapi juga kedalaman, akurasi, dan kre dibilitas, baik media maupun penulisnya. Jadi, saya yakin, media konvensional akan tetap bertahan karena dalam tiga aspek yang saya sebutkan tadi, jauh lebih baik dibandingkan dengan media berplatform digital apalagi dibandingkan dengan media sosial.

Namun, apakah generasi zaman now peduli dengan akurasi sebuah informasi? Bahkan generasi old yang hidup di zaman now pun seperti ikut menikmati inflasi informasi yang serba cepat dan instan. Soal benar atau salah, itu urusan belakang.

Komunikasi Industri Sawit

Berbeda dengan sektor lain yang lebih urban, sektor kelapa sawit yang agraris dan rural masih baru memulai membangun cetak biru komunikasi industri. Meskipun secara bisnis pasar produk minyak sawit besar dan captive, tetapi tantangan keber lanjutan me nuntut industri sawit membuka diri. Bukan hal mudah, tentu saja karena pu luh an tahun industri ini men jadi besar tanpa perlu membangun komunikasi dan beriklan.

Permintaan pasar yang tinggi sempat membuat pelaku usaha terlena untuk hanya berfokus pada urusan pasar dan ope ra sional. Urusan lain seperti komunikasi adalah opsional. Te tapi itu adalah wajah sektor per kebunan kelapa sawit zaman old, itu masa sekitar lebih dari 10 tahun ke belakang.

Pada zaman now, pakar ekonomi menyebutnya sebagai era disruptif, tantangan industri sudah berubah. Para pesaing minyak sawit, yaitu negara produsen minyak nabati nonsawit, tidak tinggal diam melihat pertumbuhan minyak yang sangat pesat. Apalagi dalam pasar minyak nabati dunia, sawit me megang pangsa pasar terbesar, yaitu sekitar 31%.

Sejak menjadi nomor satu di dunia itulah berbagai kampanye negatif dan hoax terus bertebaran, yang muara akhirnya adalah ingin menyudahi kejayaan sawit dalam pasar minyak nabati dunia. Isu kesehatan, emisi gas rumah kaca, isu-isu keber lanjutan, ketenagakerjaan, isu lahan, konflik sosial, hingga isu hak asasi manusia adalah sedikit dari ribuan isu negatif lain yang dialamatkan ke sektor perkebunan kelapa sawit.

Jika berbagai kampanye negatif dan hoax ini tidak diatasi, bukan tidak mungkin industri penyumbang devisa ekspor terbesar nasional, yaitu USD 23 miliar ini, lambat laun akan mati suri.

Komunikasi Sawit

Dari sejumlah sur vei independen yang dilakukan beberapa media, persepsi publik di Indonesia tentang kelapa sawit, dalam kurun 10 tahun terakhir, sudah jauh lebih baik. Dari data Bidang Komunikasi GAPKI (Ga bungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) pada 2016, sekitar 55% pemberitaan me dia nasional (media cetak dan online) positif, 25% netral, dan 20% sisanya masih negatif.

Angka ini jauh lebih baik dibandingkan dengan data tahun 2009 karena sekitar 81% berita media nasional tentang sektor kelapa sawit adalah negatif. Jika ditelaah lebih dalam hasil survei tahun 2016 tersebut, sebagian besar informasi posi tif tentang sawit adalah terkait dengan aspek makro ekonomi (sumbangan devisa, penyerapan tenaga kerja, dan pe ngembangan wilayah).

Berita tentang CSR per usahaan sawit belum signi fikan. Sedangkan berita negatif ter kait dengan isu-isu sosial dan keberlanjutan. Me li hat data ini, ke depan, strategi komunikasi in dustri sawit (termasuk oleh masing-masing perusahaan perkebunan sawit), idealnya ber fokus pada isu-isu tanggung jawab sosial per usahaan dan keberlanjutan. Infor masi tentang kontribusi eko no mi sawit akan menggelinding dengan sendirinya.

Tantangan Era Digital

Lantas bagaimana persepsi ne tizen tentang sektor kelapa sawit? Dari hasil survei yang sama pada 2016, warganet se pertinya belum tersentuh de ngan program komunikasi sa wit, mes kipun kita tidak bisa me raba secara jelas siapakah real com munity war ganet itu. Namun yang pasti 90%, per sep si netizen tentang sawit masih sangat negatif. Tidak perlu riset terlalu dalam.

Kalau kita pernah mengikuti akun Twitter pesohor Leonardo de Caprio saat datang ke Aceh dan berciut tentang perlunya menghentikan konsumsi minyak sawit untuk me lin dungi habitat gajah, jutaan netizen mendukung cuitan itu. Sementara jika ada status atau cuitan positif tentang sawit di media sosial, bisa dipastikan se kitar 90% warganet yang me res pons akan bernada negatif.

Itulah fakta bahwa sektor perkebunan kelapa sawit yang menghidupi 25 juta penduduk Indonesia ini juga sedang menghadapi era disruptif. Era komunikasi digital yang sepenuhnya tidak bisa kita kendalikan. Benar kata Dilan. Rindu kepada Milea itu berat. Tapi Dilan juga perlu tahu, mengelola bidang komunikasi di sektor perkebunan kelapa sawit itu jauh lebih berat. Kalian pasti tidak kuat, biar aku saja. Salam!

TOFAN MAHDI

Mantan Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos (2007), VP Communications PT Astra Agro Lestari Tbk, dan Kepala Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki)

Berita Lainnya...