Edisi 14-02-2018
Poros Mahasiswa-Tumbuhkan Komunitas Peduli Pangan


Belum lama ini publik Tanah Air dikejutkan dengan kasus kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk dan campak yang menimpa saudara sebangsa kita di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua.

Tercatat 70 korban meninggal dunia, 66 dikaren akan campak dan 4 orang oleh gizi buruk. Data dari RSUD Agats, Kabupaten Asmat, total kasus gizi buruk dan cam pak mencapai 568 kasus pada ku run waktu Januari hingga Desember 2017. Isu gizi buruk dan campak di Papua ini menggelinding bak bola salju.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo jadi sasaran kritik, termasuk oleh mahasiswa. Puncaknya, ketika Ke tua BEM Universitas Indonesia Zaadit Taqwa mengacungkan kartu kuning ke pada Presiden Jokowi pada acara yang digelar di UI, sebagai ben tuk per ingatan akan tugas pe merintah untuk memenuhi kebutuhan pa ngan dan gizi rakyat. Mengurai masalah ini ada sejumlah hal berkontribusi sebagai penyebab.

Salah satunya ketidak ta huan warga Asmat mengenai bahaya campak yang ditandai dengan tidak dilakukannya imunisasi terhadap anakanak mereka. Berikutnya, ku rangnya pasokan pangan di sana yang menyebabkan gizi buruk menimpa anakanak. Selanjutnya, kurangnya fasilitas kesehatan di daerah paling timur Indonesia ini.

Tentu ini menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah, baik pusat mau pun pemerintah daerah setempat. PR yang harus di selesaikan melalui kerja keras. Gizi buruk ini terjadi salah sa tu nya karena tidak adanya pe nge lolaan pangan yang baik dari pemerintah dan masyarakat. Lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Food and Agriculture Organization (FAO) menempatkan Indonesia di urutan kedua negara pembuang makanan sam pah terbesar di dunia.

Ini ironi karena di saat yang sama masih ada 19,4 juta masyarakat Indonesia yang kelaparan. FAO memperlihatkan buruk – nya pemanfaatan pangan di Indonesia. Dalam situasi seperti ini muncul kelompok masyarakat yang peduli. Ini hal yang menggembirakan dan per lu terus didorong. Salah satu conto hnya komunitas anti lapar Garda Pa ngan di Surabaya, Jawa Timur.

Garda Pangan merupakan komunitas penyelamat makanan surplus yang ada di kota tersebut. Menarik mengetahui latar belakang anggota komunitas ini sehingga tergerak un tuk berbuat. Tiga orang pendiri ko mu nitas awal nya miris melihat banyak masyarakat Surabaya yang masih tak acuh dengan makanan berlebih, bah kan membuang makanan.

Dari situ ketiganya tergerak menyelamatkan makanan yang berlebih. Tentu saja aspek kebersihan atau higienitas dan kualitas makanan tetap diutamakan. Makanan harus dipastikan masih baik, baik tekstur, bau, maupun rasa nya sebelum diterima. Ketika dinilai layak, makanan tersebut langsung di ke mas untuk diberikan kepada yang membutuhkan.

Mereka telah men ja lin kerja sama dengan satu restoran dan lima katering kelas menengah ke atas. Para penggiat komunitas ini menyebut pemerintah tak punya aturan pasti soal pengelolaan makanan surplus. Kalausaja adaaturan, bukanti dak mungkin masalah kelaparan di perkotaan bisa teratasi.

Sampai saat ini Garda Pangan telah menye la mat kan poten si makanan yang terbuang hingga jutaan porsi. Angka ini tentu tidak sebe rapa jika dibandingkan de nganke seluruhan makanan yang ter buang setiap hari nya di berbagai pelosok Tanah Air. Ma kanan lebih itu seha rus nya bisa dinikmati sebagian masyara kat Indone sia yang memang membutuhkan.

Belajar dari komunitas ini sudah seyogianya daerah lain memanfaatkan pangan yang ada demi menghidupi sebagian masyarakatnya yang memerlukan. Komunitas seperti ini juga seharusnya didorong agar bisa berkembang demi menanggulangi masalah kelaparan yang masih jadi problem keluarga yang ekonominya lemah. Di sisi lain, ini juga bisa memberikan perbaikan gizi bagi masyara - kat yang menerima makanan.

ABDULLAH FAZA ALFANSURI

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta