Edisi 14-02-2018
Investasi Asing di Jabar Tembus Rp66 T


BANDUNG– Selama periode 2017 penanaman modal asing (PMA) di Jawa Barat mencapai USD5,14 miliar atau sekitar Rp66,8 triliun. Realisasi investasi itu menjadi yang terbesar di Indonesia.

Kepala Dinas Penanaman Mo - dal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Jawa Barat Da - dang Mohamad mengatakan, realisasi investasi di Jawa Barat tahun lalu menduduki urutan pertama untuk investasi asing dan urutan ketiga untuk rea li sa - si investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) 2017. Menurut Dadang, investasi ter besar berasal dari Jepang se - nilai USD1,92 miliar, se dang - kan realisasi investasi PMDN mencapai Rp38,39 miliar.

”Se - ca ra umum investasi di Jabar tumbuh. Pertumbuhannya di - dukung oleh peningkatan laju per tumbuhan PMDN, semen - ta ra pertumbuhan PMA meng - ala mi sedikit perlambatan,” ka - ta Dadang pada High Level Meeting (HLM) di Gedung Sate, Kota Bandung, kemarin. Dia mengakui, peningkatan laju pertumbuhan PMDN di do - rong investasi pada industri ma - kanan, kertas, dan percetakan, serta sektor pergudangan dan komunikasi.

Namun, dari sisi lokasi, pangsa PMA terbesar di - salurkan ke wilayah yang me - rupakan basis industri seperti Kabupaten Bekasi, Karawang, Cirebon, Kabupaten Bogor, dan Kota Bekasi. Sedangkan pangsa PMDN terbesar tersebar ke Karawang, Kabupaten Bekasi, Kota Bogor, Su medang, dan Majalengka.

Se mentara itu, Forum West Ja - va Incorporated (WJI) 2018 meng usulkan peningkatan ka - pa sitas infrastruktur pendu - kung pariwisata melalui ke giat - an investasi untuk mendorong perekonomian Jawa Barat.

Kepala Kantor Bank Indo - nesia (BI) Jabar Wiwiek Sisto Wi dayat mengatakan, sesuai de ng an arahan Presiden Joko Wi dodo untuk meningkatkan kapasitas pariwisata, pihaknya meng usulkan perbaikan infrastruktur pen dukung pariwisata agar sek tor ini bisa ber kem - bang.

Pe ngem bangan sektor ter sebut bisa dilakukan melalui pe nguat an investasi dengan merangkul investor pada sektor pariwisata. Meski demikian, untuk sek - tor tersebut, masih banyak tan - tangan yang mesti dihadapi. ”Per tama adalah belum opti - mal nya kerja sama sister pro - vince/sister city yang dimiliki Jawa Barat.

Selain itu, sebagian be sar peluang investasi di ting - kat kota/kabupaten juga belum dilengkapi dengan feasibility studysehingga tidak dapat di ka - tegorikan sebagai clean and clear projects,” kata Wiwiek. Di sisi lain, terdapat per be - da an implementasi perizinan terpadu satu pintu dan 3-Hours Investment Licensing Service pada tingkat provinsi dengan tingkat kota/kabupaten.

Kon - disi itu menjadi penghambat pada realisasi investasi di Jawa Barat. Wiwiek Sisto Widayat pun memaparkan kondisi per - ekonomian Jawa Barat. Laju per tumbuhan ekonomi (LPE) Ja wa Barat meningkat dari 5,20% (yoy) pada triwulan III 2017 menjadi 5,32% (yoy) pada triwulan IV 2017. LPE Jawa Barat pada triwulan IV 2017 ini kembali mengungguli na sional yang tumbuh 5,19%.

“Meningkatnya per tum - buh an ekonomi Jawa Barat pa - da triwulan IV dibanding tri - wu lan sebelumnya. Lebih ba - nyak didorong oleh konsumsi rumah tangga seiring dengan ber lang sung nya momen libur akhir ta hun serta inves ta - si,”imbuh dia.

arif budianto