Edisi 15-02-2018
Pahami Karakter Setiap Anggota Tim


Kereta Api (KA) Bandara Soekarno Hatta menjadi transportasi baru bagi masyarakat di ibu kota dan sekitarnya yang ingin menuju Bandara Soekarno Hatta.

Berbagai strategi dan terobosan diperlukan agar moda transportasi yang dikelola PT Railink ini bisa menjadi pilihan utama konsumen. irektur Utama PT Railink Heru Kuswanto mengakui masih banyak yang perlu diperbaiki dari KA Bandara Soekarno Hatta mulai dari fasilitas seperti sistem ticketing hingga waktu tempuh yang bisa lebih dipersingkat. Sebagai pimpinan Railink yang juga sudah berkarier panjang di PT Kereta Api Indonesia (KAI), Heru menye but, tantangan terbesar adalah dalam meng-create demand. Adapun di lingkungan internal perusahaan, pria kelahiran Grobogan itu menekankan pentingnya integritas serta mendorong partisipasi tim dalam setiap perencanaan. Apalagi strategi yang dijalankan? Berikut petikan wawancara KORAN SINDOdengan Heru Kuswanto.

KA Bandara Soekarno Hatta sudah beroperasi lebih dari sebulan. Sejauh ini bagaimana evaluasinya?

Dari pengalaman kami mengoperasikan kereta api bandara pertama di Kualanamu, Medan, juga cerita dari operator serupa di Malaysia dan negara lain, memang membutuhkan waktu untuk menawarkan produk baru sejenis transportasi publik ini. Memang ada beberapa habit yang harus disesuaikan, tapi trennya tumbuh. Untuk pertumbuhan pe - num pangnya sendiri, jujur masih belum ter - capai. Tapi, saya masih punya keyakinan bahwa kalau daya saing diperbaiki, software dimasifkan, kemudian ada programprogram menarik lainnya, maka tinggal soal waktulah. Darisisi suplai produk, masihbelum sempurna. Artinya masih kami kembangkan. Contohnya yang di Manggarai belum selesai. Di sana baru ada dua jalur, tapi belum ada fasilitas lain. Nanti akan jauh lebih bagus dengan dua lantai. Di Duri juga belum selesai. Tapi, Insya Allah, bulan ini selesai sehingga per 1 Maret, kita sudah merancang milestone baru.

Bisa dijelaskan secara sing kat, seperti apa tahapan pe ngembangan dan dampaknya?

Saat ini frekuensi perjalanan masih 80 perjalanan dan segera akan ber tam - bah menjadi 82 perjalanan. Kalau hari ini waktu tempuhnya ada yang masih 1 jam, nanti menjadi rata-rata 30 menit. Kita masih punya ranah lain lagi. Kita juga akan bikin shortcut, mungkin tahun depan. Memang ini bertahap. Sekali lagi ini menyangkut pembangunan infra struktur, butuh waktu, investasi, dan segala macam.

Bagaimana memperkenalkan KA Bandara Soekarno Hatta sebagai transportasi alternatif lebih luas kepada masyarakat?

Kalau produk baru ini pasti larinya ke sosialisasi. Semakin masif, maka semakin bagus. Itu yang umum kita lakukan. Tentu di marketing kita juga punya beberapa program yang bagus dan kita harapkan itu bisa mempercepat pertumbuhan dari volume penumpang tadi. Kita juga punya tiket yang berbasis kuota, jadi nanti kita jual. Itu semua sedang kita persiapkan. Semoga bulan ini bisa diluncurkan.

Bagaimana dengan daya saing harga bila di - bandingkan dengan transportasi publik lainnya?

Sebenarnya relatif, karena di Medan yang cuma 28 km itu tiket kita jual Rp100.000 juga tumbuh terus penumpangnya dari tahun ke tahun. Di sini 36 km jarak tempuhnya, harganya Rp70.000. Sebenarnya tarif nya Rp100.000, cuma kami diskon. Kami harapkan itu menjadi daya tarik bagi pelanggan. Masalah murah atau mahal itu sering kali relatif. Maka kami berkeyakinan untuk lebih banyak menggenjot ke arah peningkatan daya saing. Semakin tinggi daya saing sebuah produk, maka nanti ke arah karakter demand-nya. Kalau kita sudah menganggap sebuah produk itu bagus, maka tarifnya dinaikkan pun sebenarnya kita masih akan melihat ke situ.

Dengan adanya kereta bandara ini, apakah artinya daya saing kita tidak kalah dari negara lain?

Sebenarnya yang saya tahu bahwa di negara-negara dianggap bagus itu adalah keberadaan KA bandara. Ini menjadi semacam supremasi di bidang transportasi sebuah negara. Kita lihat seperti Jepang yang men dewa kan peran public transport karena di sana dengan berbagai kebijakan untuk mendorong transportasi umum itu akhirnya tercipta. Kita dengan negara tetangga sendiri yang masih satu rumpun saja kalah. Malaysia punya kereta bandara pada 2002. Tapi, bagi kami di Railink dan PT KAI serta Angkasa Pura II (AP II), yang penting mulai dulu deh. Masalah belum sempurna ya nanti kami sempurna kan. Kami masih punya next step untuk memperbaiki daya saingnya.

Ada rencana membidik daerah mana lagi untuk mengembangkan KA bandara?

Railink ini sebenarnya anaknya dua BUMN, PT KAI dan AP II. Tahun ini induk kami sudah menerima tujuh lagi bandara. Kalau bicara mengenai bandara-bandara yang ada di wilayah pengelola AP II, mungkin Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati bagus juga kalau nanti sudah clear masalah pengelolaannya oleh siapa, kami tertarik untuk masuk. Tapi itu nanti kalau menurut forecast yang ada di BIJB secara bisnis baru bisa dimasuki tahun 2023.

Boleh tahu berapa belanja modal (capex) tahun ini?

Tahun ini tidak terlalu banyak karena kami baru investasi di Bandara Soekarno Hatta. Kami hanya ambil untuk memperbarui sistem tiket di Medan. Di Medan, kami masih menggunakan sistem tiket dari pihak lain yang kontraknya habis April ini. Kami akan ganti dengan sistem kami sendiri, karena kami sudah membangun sistem ticketing di sini, yaitu Airport Railways Ticketing System (ARTS).

Terkait leadership, prinsip kepemimpinan seperti apa yang bapak terapkan di perusahaan?

Kalau saya lebih ke arah partisipatif. Saya lebih suka membangun teamwork daripada membangun secara otoriter. Dalam hal apapun, saya libatkan tim saya untuk berpartisipasi, misalnya dalam perencanaan. Tapi yang tidak bisa ditawar adalah soal integritas. Integritas dari berbagai sudut pandang, saya tidak mainmain. Bagi saya, banyak gaya kepemimpinan yang meng inspirasi, salah satunya gaya kepemimpinan Ki Hajar Dewantara. Paling penting yang di depan harus kasih contoh yang baik-baik. Di perusahaan, saya lebih suka bilang tim daripada anak buah, karena lebih dua arah. Itu saya terapkan tidak hanya di dunia kerja, tapi juga di keluarga. Sebagai pimpinan, kita harus mengerti karakter masing-masing anggotanya. Harus dipahami juga bahwa karakter setiap anggota itu tidak ada yang sama. Tim yang bagus di mata saya adalah tim yang bervariasi.

Berapa jumlah karyawan Railink saat ini?

Karyawan di sini 140 orang. Tidak terlalu banyak karena memang kami desain untuk ramping. Contoh tadi sistem ticketing , itu masterpiece kami di Railink. Kalau selama ini di PT KAI pakai sistemnya orang, di Medan juga masih pakai orang, di sini kami bangun sendiri. ARTS yang kami bangun itu sudah sesuai dengan arahan pemerintah menuju nontunai.

Apa saja tantangan yang bapak rasakan selama berkarier di perkeretaapian?

Tantanganpalingberatituketika createdemand. Kadang teori saja tidak cukup. Sebaliknya orang tidak berteori kadang sukses membangun bisnisnya. Paling berat mem - bangun demand daripada membangun kapasitas. Kemudian tantangan mengelola orang. Sebenarnya apa pun perusahaannya, menurut saya itu kuncinya pada manusia. Pokoknya, kita harus pintar mengelola orang. Jangan sampai punya anak buah tidak bagus lalu dibuang. Kita harus adil bahwa kita tidak bisa menuntut segala sesuatu sesuai seperti yang kita inginkan.

Oktiani endarwati/inda