Edisi 15-02-2018
Milan Bukan Brad Pitt


RAZGRAD –AC Milan sedang terbang tinggi di awan. Delapan pertandingan terakhir, mereka belum tersentuh kekalahan. Pelatih Gennaro Gattuso langsung banjir pujian dan dianggap layak mendapatkan perpanjangan kontrak hingga 2020.

Direktur Milan Massimiliano Mirabelli sampai melemparkan pujian setinggi langit. Dia menilai legenda Milan itu telah membuat I Rossoneri menjadi sebuah tim dan meletakkan fondasi masa depan. Fondasi yang menurutnya tidak bisa diukur dengan dominasi gelar. Mirabelli masih ingat saat manajemen menunjuk Gattuso. “Awalnya sulit dan saya ingat ada yang agak bingung dalam beberapa hari pertama. Memang benar kami belum mencapai apa pun. Tapi, saya yakin kami menjadi tim. Menang atau tidak, kami tetap sebuah tim,” kata Mirabelli. Suso, pemain sayap Milan, juga memuji peran pelatihnya dalam membangkitkan I Rossoneri . Menurutnya, Milan bermain lebih baik dibandingkan era sebelumnya.

“Dia memiliki metode yang sangat mirip dengan Gian Piero Gasperini (pelatihnya di Genoa) sehingga saya sangat menyukainya. Pelatih bekerja berdasarkan pemain yang dia miliki dan bisa membentuk tim. Kerja keras terbayar, itulah sepak bola, bisa berubah dengan sangat cepat,” tutur Suso. Pujian yang masih membutuhkan pembuktian. Meski tak terkalahkan dalam delapan pertandingan, Riccardo Montolivo dkk belum beranjak ke mana-mana di tabel klasemen Seri A. Mereka bahkan belum menginjak Zona Eropa tempat di mana musim lalu mereka berada. Wajar jika Gattuso langsung mengatakan jika timnya tidak sebagus dan seindah yang dilihat dan dibayangkan. “Ka mi bukan Brad Pitt. Milan sa ma jeleknya dengan saya dan jenggot saya,” ujar Gattuso, dikutip Football- Italia .

Membandingkan Milan dengan dirinya secara fisik bisa jadi dianggap berlebihan. Memang, mereka menjadi tim pengumpul kartu merah terbanyak di Seri A dengan enam kartu. Tapi, atribut yang menjadi identitas dalam keindahan sepak bola, seperti penguasaan bola, akurasi passing , dan jumlah tembakan, Milan selalu masuk lima besar. Bicara penguasaan bola, Milan memiliki persentase 54,7% yang membuat mereka berada di posisi keempat tim yang paling sering menguasai bola dibandingkan kontestan Seri A lainnya. Melakukan ratarata 17,1 tembakan per laga menempatkan Milan di posisi keempat tim dengan tembakan terbanyak di atas Juventus.

Sementara urusan akurasi passing, Milan berada di angka 84,4%, hanya kalah dari Napoli (88%), Juventus (86,7), dan Inter Milan (85,2%). Masalahnya, semua atribut itu dimiliki I Rossoneri saat tampil di kompetisi domestik. Di Eropa, Gattuso belum membuktikan apa-apa. Dia bahkan menelan kekalahan di laga perdana Liga Europa dengan kekalahan saat menghadapi Rijeka di laga terakhir penyisihan grup. Pada laga yang sudah tak berpengaruh tersebut, Milan di bawah kendali Gattuso kalah dua gol tanpa balas. Gattuso memiliki kesempatan membalas saat bertandang ke Bulgaria, Stadion Ludogorets, kandang Ludo go rets, dini hari nanti.

Pasukan Dimitar Di mi trov ini dalam kondisi bagus karena ber ada di puncak klasemen sementara Liga Bulgaria. Dimitrov menilai Milan memiliki ba - nyak potensi dengan transfer 200 juta euro yang dilakukan. Dia pun mengaku timnya su dah mengamati permainan Milan dan su dah mengenal kualitas masing-masing pemain Milan. “Per tandingan melawan Milan lebih bergengsi (dibandingkan kompetisi domestik). Kami harus mengalahkan Milan dengan cara apa pun,” tandasnya.

Ma’ruf