Edisi 15-02-2018
Modal Tottenham


TURIN – Kejutan dihadirkan Tottenham Hotspur di Allianz Arena. Kerap dianggap anak bawang, tim berjuluk The Lilywhites tersebut justru pulang dengan kebanggaan seusai menahan raksasa Seri A Juventus pada leg pertama babak 16 besar Liga Champions, Rabu (14/2).

Tottenham jelas diuntungkan dengan keberhasilan mereka mencetak gol tandang. Mereka berada di atas angin mengingat leg kedua bakal berlangsung di Wembley Stadium, 8 Maret mendatang. Harry Kane dkk berpeluang mengulangi catatan manis di Liga Champions musim 2010/2011 atau delapan tahun lalu. Ketika itu, Tottenham yang diasuh Harry Redknapp melaju ke perempat final setelah menyisihkan wakil Seri A lainnya, AC Milan, dengan agregat 1-0 sebelum dihentikan Real Madrid.

Pelatih Mauricio Pochettino tidak dapat menyembunyikan kebanggaannya seusai menahan imbang Juventus. Dia menilai para pemain Tottenham menunjukkan kematangan mentalitas sehingga tidak panik meski sempat tertinggal 0-2 lewat dua gol Gonzalo Higuain di menit kedua dan kesembilan. Tottenham sukses menyamakan kedudukan melalui gol dari Kane di menit ke- 35 dan Christian Eriksen (71). “Kami tidak memulai laga dengan baik. Tapi, kami menunjukkan kematangan untuk bersaing di Liga Champions. Kami mendominasi Juve dan memaksa mereka bermain ke dalam. Kami terus berkembang dari berbagai aspek. Saya pikir kami memiliki pengalaman lebih baik musim ini,” kata Pochettino, dilansir Soccerway.

Senada dengan Pochettino, Kane mengungkapkan bisa mencuri gol di Allianz Stadium merupakan modal sangat penting. Kendati berada di atas angin, penyerang tim nasional Inggris tersebut menganggap laga legkedua bakal jauh lebih sulit karena Juve akan tampil habishabisan untuk membalikkan keadaan. Tantangan bakal lebih berat mengingat sebelum bersua Juve, Tottenham harus tampil pada tiga pertandingan di pentas domestik. Yang terdekat, Hugo Lloris dkk bakal menghadapi Rochdale AFC di babak kelima Piala FA, Minggu (18/2).

“Berhadapan dengan tim besar seperti Juve di Liga Champions di luar kandang, Anda bisa saja mendapatkan hasil buruk. Hasil imbang menunjukkan karakter skuad sehingga kami bisa kembali ke permainan. Mendapatkan dua gol tandang dan melakoni legkedua di Wembley jelas hasil yang bagus,” paparnya Sukacita Tottenham dirasakan berbeda oleh Juve. Untuk kedua kali mereka gagal mendulang kemenangan setelah unggul dua gol atau lebih. Terakhir kali La Vecchia Signoramerasakannya pada leg kedua semifinal Liga Champions musim 1998/1999. Ketika itu, Juve yang sempat unggul 2-0 malah meradang lantaran sang lawan, Manchester United (MU), membalikkan keadaan menjadi 3-2.

Menanggapi hasil minor tersebut, Pelatih Massimiliano Allegri menganggap timnya bermain cukup baik, terutama di babak kedua dan hanya kurang beruntung dalam hal kebobolan. Dia pun menatap laga legkedua dengan optimisme. Menurutnya, Juve akan melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk membalikkan keadaan. Allegri berharap La Vecchia Signora dapat kembali diperkuat dua andalannya, Paulo Dybala dan Blaise Matuidi.

“Kami akan pergi ke London dengan menganggap legkedua seperti final. Tottenham mungkin akan memiliki tekanan lebih besar ketimbang kami. Patut diingat, Juve tidak pernah diunggulkan di babak 16 besar. Peluang kami meraih hasil bagus 50% sebelum pertandingan dan 50% setelahnya,” tandasnya.

Alimansyah