Edisi 15-02-2018
Jenderal Besar di Formula 1


KEKURANGAN bukan jadi satu halangan untuk mencapai kesuksesan besar. Tim principal tim balap Formula 1 Mercedes-Petronas, Toto Wolff, berhasil mengubah kekurangan menjadi kesuksesan yang sulit dilupakan orang. Seperti apa ceritanya?

Toto Wolff, tim balap Formula 1 Mercedes-Petronas, tidak akan pernah lupa dengan lomba balap mobil yang dia ikuti pada 1994 silam di Osterreichrin (sekarang Red Bull Ring), Austria. Berbekal pengalaman balap yang lengkap dan titel juara Austrian Formula Ford Championship dan German Formula Ford pada 1992-1994, Toto Wolff terlihat begitu yakin menjadi pemenang di lomba balap mobil tersebut. Saat perlombaan berlangsung, Toto Wolff memang mampu merangsek ke depan. Dia bahkan sudah sempat memimpin beberapa lap di sirkuit tersebut. Namun, kenyataan pahit terjadi saat pembalap Austria lainnya, Ale xander Wurz, begitu mudah menyalip mobil balap yang dia kendarai.

“Saya sudah dalam posisi terbaik namun kemampuan dia lebih baik. Dia bahkan memperlihatkan apa yang mem be - dakan saya dengan dia,” kenang Toto Wolff. Selama berada di belakang Alexander Wurz, pria kelahiran 12 Januari 1972 tersebut benarbenar harus menerima kenyataan pahit karena kalah balapan. Begitu balapan selesai, dia lang - sung menyadari segala keku rangan - nya. “Saya tidak akan pernah bisa menjadi pembalap besar. Pe - ristiwa Alexander Wurz me - rupakan satu dari beberapa peristiwa yang membuktikan keinginan saya menembus Formula 1 memang bukan jalan yang tepat. Balapan sepertinya bukan bakat saya,” kata Toto Wolff.

Sudah jatuh tertimpa tangga, sponsor yang mendukung Toto Wolff balapan mobil tiba-tiba mundur. Entah karena melihat Toto Wolff tidak memiliki potensi atau enggan mengucurkan dana yang terus membengkak. Peristiwa tersebut sampai membuat Toto Wolff putus asa. Dia sempat ingin mengucapkan selamat tinggal dengan balapan mobil. Namun, kecintaan Toto Wolff pada dunia balap tidak serta-merta membuatnya melepaskan balapan mobil. Berkaca pada strategi perang Sun Tzu, “mengenali diri sendiri adalah jalan memenangi semua pertempuran”. Setelah itu, Toto Wolff lang - sung memasukkan gigi mun dur dari balapan mobil.

Berkaca dari filosofi perang Sun Tzu, Toto Wolff mulai menganalisis apa kelebihan yang dia miliki. Dia sadar kemampuan mengemudikan mobil balap bukan kemampuan terbaiknya. Dia mulai mengetahui berada di belakang kemudi mobil balap memang bukan untuknya. Dia mulai mencoba arah yang berbeda, berada di belakang sebuah tim balap Formula 1. “Saya mulai menyadari apa yang saya miliki. Saya mulai mencoba membuat kemampuan tersebut jadi lebih baik,” ujar Toto Wolff.

Hampir lebih dari dua dekade kemudian, Toto Wolff kembali menyapa dunia balap mobil yang sempat dia ingin tinggalkan. Saat ini Toto Wolff merupakan salah satu tim principal tim Formula 1 yang sangat disegani. Setelah bergabung dengan Mercedes- Petronas pada 2013, Toto Wolff mengubah tim tersebut menjadi sangat dominan. Selama 2013-2017, sebanyak tiga kali tim Mercedes- Petronas menjadi juara balap mobil Formula 1.

Pembalap Mercedes-Petronas bahkan begitu dominan dalam setiap balapan. Akhirnya, Toto Wolff berhasil menaklukkan ajang balap mobil paling prestisius tersebut bukan dengan di belakang palang kemudi tapi di belakang tim balap mobil. “Perlu dicatat, saya melakukannya dengan perjalanan panjang,” ucap pria yang menikahi pembalap mobil wanita Skotlandia, Susie Wolff. Sejak memutuskan gantung helm balap mobil, Toto Wolff mencoba menempuh jalan yang berbeda menuju balap mobil dunia, yakni berbisnis. Bakat bisnis Toto Wolff memang tidak muncul mendadak begitu saja. Bakat bisnis tersebut ternyata mengalir dari keluarga Toto Wolff. Ayahnya seorang pengusaha yang sukses di Austria.

Memang ayahnya tidak mengajarkan bagaimana berbisnis yang baik karena meninggal dunia saat Toto Wolff berusia 8 tahun. Dia mulai mempelajari bisnis saat tidak lagi mengikuti balap mobil dan mendaftarkan diri ke kelas bisnis yang dimiliki Vienna University of Economics. Tidak hanya belajar bisnis dari ruangan kelas. Toto Wolff juga melakukan praktik bisnis langsung di luar ruangan. Dia mencoba magang di sebuah bank di Warsawa, Polandia. Tidak cukup di situ. Dia kemudian bekerja di sebuah perusahaan besi di Austria. Di perusahaan inilah kariernya semakin menanjak. Setelah itu, dia nekat membuat sebuah perusahaan investasi bernama Marchfifteen.

Bersama Marchfifteen, Toto Wolff berinvestasi ke perusahaan internet skala kecil bernama UCP. Hebatnya di tangan Toto Wolff, UCP menjadi perusahaan internet yang sangat besar. Bahkan, dia berhasil menjual perusahaan tersebut ke perusahaan komunikasi Belanda, Deutsche Telekom, pada 2001 dengan angka penjualan 154 juta poundsterling atau hampir Rp3 triliun. Pertemuan Toto Wolff dengan balap mobil Formula 1 terjadi pada 2009 saat dia mendengar tim balap Formula 1 asal Inggris, Williams, tengah kesulitan finansial. Agar bisa terus bertarung di ajang balap mobil prestisius tersebut, Williams membutuhkan kucuran dana segar.

Momen inilah yang ditunggu Toto Wolff untuk kembali ke dunia balap mobil. Perjalanan memutar yang dia tempuh untuk kembali ke dunia balap tersebut akhirnya datang juga. Tidak tanggung-tanggung dia langsung membeli 16 persen saham kepemilikan Williams. Saham kepemilikan ini sangat besar. Apalagi Williams tergolong pelit untuk membagi saham mereka. Bahkan, Adrian Newey, sosok legendaris Formula 1 yang masih hidup saat ini, hengkang dari Williams karena tidak pernah kebagian saham. Semakin mengejutkan karena Toto Wolff tidak hanya membeli saham, juga meminta agar dirinya dilibatkan dalam tim balap Formula 1 Williams.

Hebatnya, Toto Wolff berhasil mengangkat performa Williams di balap mobil Formula 1. Sampai-sampai Claire Williams, mantan deputy principal Williams, yang juga anak kandung Frank Williams, memuji habishabisan Toto Wolff. “Dia adalah sosok yang sangat cerdas di olahraga ini. Dia akan tercatat dalam sejarah sebagai jenderal tim yang sangat hebat di olahraga ini,” katanya. Keberhasilan inilah yang membuat Mercedes tertarik menggaet Toto Wolff. Mereka menginginkan sosok revolusioner yang tidak hanya mampu mengangkat tim balap tersebut sukses di balap mobil, juga bisnis. Dari segi bisnis, Mercedes memang memiliki catatan yang mentereng. Namun, secara olahraga balap mobil, tim ini gagal total.

“Mereka mengatakan kepada saya, secara perusahaan mereka adalah perusahaan yang tiap tahun meraih keuntungan 100 miliar euro. Namun, mereka masih bingung dengan olahraga ini. Mereka mencari orang yang bisa melakukannya lebih baik lagi,” ucap Toto Wolff. Tantangan tersebut pun langsung diterima Toto Wolff. Dengan catatan, dia memiliki keterlibatan di tim tersebut dengan kepemilikan saham sebesar 30 persen. Langkah ini mirip dengan langkah yang dilakukan Toto Wolff saat bersama Williams. Hebatnya setelah tanda tangan kontrak dilakukan, tim balap Mercedes-Petronas menjelma jadi tim balap yang disegani dan penuh prestasi.

Toto Wolff masih bisa meneruskan mim - pinya berada di atas panggung balap mobil dunia. Toh setiap kali para pembalap Mercedes- Petronas memenangi seri balapan, dia ikut berdiri di atas podium kemenangan. Seperti filosofi perang Sun Tzu, dia telah mengenali dirinya sendiri untuk memenangi semua pertempuran.

Wahyu sibarani