Edisi 15-02-2018
Kanker Paru Tak Hanya Ancam Perokok


KANKER paru tidak hanya mengancam perokok. Nyatanya, mereka yang tidak merokok dengan pola makan sehat pun bisa terkena.

Lantas, apa yang menjadi penyebabnya? Baru-baru ini awak media dikejutkan dengan kabar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho yang divonis kanker paru-paru stadium IV. Padahal, dia mengaku selama ini tidak merokok serta selalu mengonsumsi makanan sehat dan bergaya hidup aktif, juga tidak memiliki riwayat kanker di keluarga. Meski begitu, kepada para jurnalis, dia mengatakan ikhlas menerima ujian tersebut dan tetap berusaha bekerja seperti biasa.

Kejadian yang menimpa Sutopo mengingatkan kita bahwa meskipun kanker paru sering dikaitkan dengan kebiasaan merokok, bukan jaminan mereka yang tidak merokok bisa terbebas dari ancaman penyakit mematikan ini. Bukan hanya Sutopo, Dana Reece, istri mendiang aktor Christopher Reeve, juga mengungkapkan dirinya menderita kanker paru. Dengan tegas, dia mengatakan tidak pernah merokok dan berharap masyarakat tidak mengasosiasikan merokok dengan penyakit itu. Faktanya, sekitar 20% penduduk AS meninggal akibat kanker jenis itu setiap tahunnya, sementara mereka tidak merokok.

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko kanker paru, seperti dikutip Medicaldaily. Di antaranya, lingkungan yang memegang peranan penting dalam risiko kanker paru. Menurut Badan Perlindungan AS, gas radon adalah penyebab kanker paru pada bukan perokok. Radon adalah gas radioaktif tidak berwarna, tidak berbau yang terbentuk secara alami sebagai hasil dari pembusukan elemen radioaktif seperti uranium. Merujuk American Cancer Society, orang dapat terekspos pajanan radon di rumah atau bangunan yang terbuat dari tanah atau batu dengan karakteristik radioaktif yang tinggi.

Gas yang dihasilkan dari tanah atau batu itu dapat menembus masuk ke bangunan melalui retakan pada dinding atau fondasi. Berangkat dari fakta ini, orang yang menghabiskan waktu di basementatau lantai terendah dari suatu bangunan akan memiliki risiko lebih tinggi terkena terpaan gas radon. Berikutnya gaya hidup, meski mereka yang tidak merokok menurunkan risiko kanker paru, gaya hidup bisa menjadi faktor risiko lainnya. Sebut saja berlamalama berada di ruangan yang penuh asap rokok. Walau tidak selalu menyerang perokok aktif, tetap saja perokok yang paling tinggi risikonya terkena.

Dr Elisna Syahruddin dari RS Persahabatan mengatakan, perokok yang berusia 40 tahun ke atas lebih berisiko karena sudah lama merokok. Timbunan residu rokok di paru-paru inilah yang menyebabkan kanker akhirnya muncul. Risiko yang sama, bahkan lebih tinggi, terdapat pada mereka yang terpapar asap rokok atau perokok pasif. “Yang berbahaya dan menyebabkan kanker paru adalah asap rokoknya, bukan rokoknya,” kata dr Elisna. Aliran asap yang masuk ke napas dapat merusak saluran pernapasan manusia.

Asap rokok adalah karsinogen sehingga ber potensi menyebabkan kanker dalam tubuh manusia. Studi Globocan (IARC) menemukan bahwa penyakit kanker paru merupakan penyebab kematian utama akibat kanker pada penduduk pria (30%). Kanker ini juga penyebab kematian kedua akibat kanker pada penduduk wanita (11,1%).

Sri noviarni