Edisi 23-02-2018
Berharap Penulis Baru dari Buku ” Kelas Skenario”


DItengah semakin meningkatnya jumlah penonton film Indonesia dari 37 juta pada 2016 menjadi 42 juta pada 2017, ada kondisi yang cukup miris; tidak sebandingnya jumlah film bioskop dengan jumlah penulis skenario yang ada.

Ketua asosiasi Penulis Indonesia untuk Layar Lebar (Pilar) Salman Aristo menyebut, penulis skenario yang aktif dan tercatat di Pilar hanya 80 orang. Jika dihitung dengan yang tidak aktif, jumlahnya hanya 100 orang lebih sedikit. Padahal untuk 2017, jumlah film yang beredar mencapai 116 buah.

Itu pun sudah turun dibanding tahun 2016 yang mencapai 124 film. “Bahkan, waktu saya baru terjun menjadi penulis skenario paruh waktu tahun 2005, jumlahnya nggak sampai 10. Jadi, walau saya masih penulis baru, sudah bisa dapat tawaran menulis enam film dalam setahun.

Buat saya, ini ada yang tidak beres,” ujar penulis yang biasa disapa Aris tersebut. Karena kegelisahan inilah, Aris bersama story editor Arief Ash Shiddiq membuat buku Kelas Skenario . Buku ini bisa dibilang menjadi buku berbahasa Indonesia pertama yang memberikan panduan menulis naskah film.

Buku setebal 136 halaman ini memuat langkah demi langkah cara membuat cerita film. Mulai membuat premis, menciptakan karakter yang kuat dalam cerita, membuat drama tiga babak dan sekuen, hingga membuat naskah film.

Buku terbitan Esensi (Erlangga Group) ini juga menyertakan tips membuat dialog yang tepat dan menarik hingga memberikan gambaran tentang industri penulisan skenario di Indonesia.

“Sejak 2009, saya bikin workshop penulisan skenario lewat PlotPoint Kreatif. Tetapi, hasilnya tentu terbatas, sementara kita butuh lebih banyak penulis. Dengan bikin buku ini, semoga ilmunya jadi lebih cepat tersebar,” ujar Aris yang menulis skenario di antaranya untuk Laskar Pelangi, Athirah, Sang Penari, Garuda di Dadaku, Negeri 5 Menara, Hari untuk Amanda , dan Catatan Akhir Sekolah .

Meski sudah piawai dalam menulis dan mengajar, Aris dan Arief mengaku membutuhkan waktu hingga sekitar empat tahun untuk mewujudkan buku ini. “Awalnya dari 2013.

Kami butuh waktu lama untuk merumuskan pengertian cerita karena definisinya selalu berubah dan berkembang,” tutur Arief dalam peluncuran buku Kelas Skenario di Galeri Indonesia Kaya pada Rabu (21/2).

Tentu saja, meski Aris menyebut skenario adalah fondasi sebuah film, bahwa “sebelum skenario ada, sutradara dan yang lainnya tidak mungkin bisa bekerja”, masalah kekurangan penulis film bukan satu-satunya masalah dalam industri perfilman nasional.

Dalam diskusi yang menyertai peluncuran buku ini, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf menyebut bahwa industri membutuhkan ekosistem yang sehat agar bisa berkembang. “Kebijakannya harus mendukung. Film banyak dan penonton ada, tetapi bioskop kurang tetap saja sulit berkembang.

Karena itu, kami buka keran investasi untuk asing di bidang bioskop. Kami juga fasilitasi untuk sineas mencari investor,” ungkap Triawan. Sementara dari sisi sumber daya manusia, Kepala Pusat Pengembangan Film (Pusbangfilm) Kemendikbud Maman Wijaya menyebut bahwa kementeriannya tengah melakukan revitalisasi 119 SMK di seluruh Indonesia untuk menyiapkan tenaga terampil di bidang perfilman.

herita endriana