Edisi 23-02-2018
Mengenal Tinnitus


TINNITUS merupakan kondisi yang bisa dialami semua orang dari segala usia. Namun, kondisi ini umumnya dialami lansia yang berusia di atas 65 tahun.

Sesuai artinya, tinnitus ditandai dengan munculnya bunyi-bunyi tertentu pada telinga, seperti bunyi berdenging, berdesis, bahkan siulan. Bunyi ini bisa terdengar pada salah satu atau kedua telinga penderita. Sebagian besar bunyi tinnitus hanya bisa terdengar penderitanya.

Tetapi, ada juga tinnitus yang terkadang bisa terdengar dokter yang memeriksa kondisi telinga pasien. Di antara mereka yang menderita tinnitus, hanya 36% yang mengalaminya secara terus-menerus. Bagi mereka yang mengalami kondisi ini seharihari, dengungan tersebut amat meng ganggu yang memengaruhi saat berpikir, emosi, pendengaran, tidur, dan berkonsentrasi.

“Terpaan suara di pekerjaan maupun rumah tampaknya berhubungan dengan tinnitus kronik. Maka itu, terpaan suara ini bisa diminimalisasi seharusnya,” kata pemimpin peneliti Dr Harrison Lin, asisten profesor di Department of Otolaryngology-Head and Neck Surgery di University of California, Irvine, AS, dikutip webmd.

Dokter juga bisa mengevaluasi dan mengobati pasien yang mengalami tinnitus kronik lebih baik dengan merekomendasikan evaluasi audiological serta terapi suara dan pendengaran, juga intervensi psikogis. Untuk keperluan penelitian ini, Lin dan koleganya mengevaluasi data sekitar 76.000 orang dewasa mengambil bagian pada National Health Interview Survey pada 2007.

Menggunakan sampel untuk memperkirakan prevalensi tinnitus di penjuru populasi AS, peneliti memperkirakan sedikitnya 10% orang dewasa menderita tinnitus. Di antara mereka yang menderita kondisi ini, 27% mempunyai gejala lebih dari 15 tahun dan 36% bahkan mengaku mengalami gejala yang terus-menerus.

Sekitar 15% mengalami gejala tersebut sehari sekali, sementara lebih dari 14% mengalami gejala atau gangguan setidaknya sekali seminggu, dan sisanya mengalami gangguan kurang dari seminggu.

Tinnitus amat umum diderita mereka yang konsisten diterpa suara bising dan keras di pekerjaan maupun ketika istirahat. Sekitar 7% mengatakan bahwa tinnitus adalah masalah besar dibandingkan 42% yang mengatakan kondisi itu hanyalah masalah kecil. Sekitar 49% mengonsultasikan tinnitus kepada dokter dan 45% mendiskusikan pengobatannya dengan dokter.

Tinnitus juga bisa disebabkan pemakaian obat yang bisa merusak pendengaran. Seperti kemoterapi dan beberapa antibiotik. “Tidak ada obatnya, tidak ada jalan untuk mengurangi, bahkan menghilangkan dengungan atau tinnitus.

Pengobatan yang direkomendasikan satu-satunya adalah menggunakan alat bantu dengar atau terapi behavioral kognitif,” kata Henry, juru bicara American Speech-Language- Hearing Association.

Meskipun banyak produk yang mengklaim dapat menyembuhkan tinnitus, tidak ada bukti bahwa suplemen, vitamin, dan pengobatan lainnya dapat menyembuhkan tinnitus. Jika mengalaminya, lakukan tes pendengaran karena 90% orang dengan tinnitus telah kehilangan pendengaran.

sri noviarni