Edisi 13-03-2018
Los Cabos Kota Paling Berbahaya di Dunia


LOS CABOS –Amerika Selatan dan Amerika Tengah mendominasi daftar kota-kota paling berbahaya di dunia. Meski demikian, kota-kota di Amerika Serikat (AS) dan Afrika Selatan juga muncul dalam daftar itu.

Daftar itu disusun lembaga analis anti-kekerasan asal Meksiko, Seguridad, Justicia Y Paz (Keamanan, Keadilan, dan Perdamaian). Lembaga itu me - nempatkan setiap kota dalam peringkat sesuai dengan ting - kat pembunuhan per 100.000 penduduk. Los Cabos di Meksiko mun - cul sebagai kota paling penuh kekerasan di dunia menurut laporan baru tersebut. Adapun Kota Caracas di Venezuela dan Acapulco menempati pering kat kedua dan ketiga. Ber tengger di posisi 50 kota ter atas adalah sebanyak 42 kota berada di Amerika Selatan. DiAS, KotaStLouis, Balti more, New Orleans, dan Detroit masuk daftar tersebut. Adapun Cape Town, Durban, dan Nelson Mandela Bay di Afrika Selatan juga muncul di peringkat 50 besar.

Jamaika, Honduras, Puerto Rico, Kolom bia, El Salvador, dan Guate mala, jugaadadalamdaftar ter sebut. Brasil merupakan negara dengan jumlah terbesar dengan 17 kota di daftar itu. Posisi Bra sil diikuti Meksiko, Venezuela, dan AS. Dalam kasus St Louis, pe ne - liti menemukan kota itu meng - alami 205 pembunuhan pada 2017 dengan populasi 300.000 orang untuk tingkat pem bu - nuhan 65,83 per 100.000 orang sehingga menempati rangking 13. Keke ras an di negara bagian Missouri juga telah meningkat sejak ke rusuhan Ferguson pada 2014 dan 2015.

“Dibandingkan dengan 2016, ada penurunan kekeras - an di Honduras dengan hanya dua kota di daftar yang turun dari peringkat tiga dan empat menjadi rangking 26 dan 35,” ujar para penyusun laporan itu dikutip Daily Mail. Laporan itu juga memuji Pemerintah Honduras atas upaya mengatasi geng-geng pen jahat terorganisasi dan me - mulihkan ketertiban di ber - bagai penjara. Dengan ber ba gai langkah tersebut, maka ting kat kejahatan dan kekeras an di kota itu pun berkurang. “Negara lain yang meng - alami penurunan jumlah keke - ras an adalah Venezuela, meski ini bukan hal bagus,” ungkap laporan itu.

Alasan penurunan itu bu kan karena berkurangnya jum lah kekerasan, tapi melemahnya kontrol pemerintah se hingga otoritas tidak bisa lagi secara efektif menghitung jum lah pembunuhan di kota-kota mereka. Para peneliti menyoroti dua kota, yakni Cumana dan Gran Barcelona yang dikeluar kan dari posisi 50 besar karena mereka tidak bisa secara efek tif me nen - tu kan tingkat pem bunuhan di dua kota itu. Venezuela mengalami ke - kerasan selama protes anti - pemerintah pada 2017 akibat meluasnya kelaparan dan skan - dal korupsi yang melilit rezim Presiden Nicholas Maduro. “Adapun kekerasan di Meksiko mengalami peningkatan tajam pada 2017 dengan 12 kota yang masuk daftar itu termasuk lima kota kembali masuk sejak 2015,” tulis laporan itu.

Data itu tercermin dalam tingkat pembunuhan nasional yang mencapai rekor 29.000 pada tahun lalu dan mencapai puncaknya saat perang nar koba 2011. Data ini merupa kan ter - tinggi sejak rekor ter jadi pada 1997. Perang kartel narkoba itu karena bangkitnya kartel Jalisco New Generation yang diyakini bertanggung jawab atas me - ningkatnya kekerasan. San Salvador di El Salvador yang menjadi basis geng haus darah MS13 juga muncul di rangking 17 dalam daftar itu. Rangking ter tinggi kota di Ame - rikaUtaraialahStLouis, Missouri yang menempat rangking 13 dengan tingkat pem bunuhan 65,83 per 100.000 pen duduk. Tiga kota lain ialah Balti more, New Orleans, dan Detroit.

Satu kota dari Guatemala, Puerto Rico, dan Jamaika juga muncul dalam rangking itu serta tiga kota dari Afrika Selatan. Secara rinci, Kota Caracas, Vene - zuela, mengalami 119,87 pem - bunuh anper100.000penduduk. San Pedro Sula di Honduras mengalami 111,03 pembunuhan per 100.000 pen duduk. San Salvador di El Salvador, meng - alami 108,54 pembunuhan per 100.000 pen duduk.

Syarifudin





Berita Lainnya...