Edisi 13-03-2018
Poros Ketiga Butuh Komunikasi Intensif


JAKARTA– Upaya membentuk poros ketiga di luar poros koalisi pengusung Pre si - den Joko Widodo (Jokowi) dan poros koalisi Prabowo Subianto diakui cukup berat.

Namun, upaya itu dinilai masih terbuka sepanjang komunikasi dilakukan secara intensif oleh tiga partai yang berpeluang menggagas poros ketiga, yakni Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Demokrat, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). “Semua terbukalah. Nah, itulah makanya perlu per te - muan-pertemuan, paling tidak informal dulu. Masih men ja - jaki. Karena syaratnya itu 20%, kan tidak mungkin sendiri,” kata Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan di Gedung MPR/DPR, Jakarta, kemarin. Zulkifli mengungkapkan, secara rasional dari kalkulasi jumlah kursi memang yang pal - ing realistis Pilpres 2019 hanya akan ada dua pasang calon. Hal itu mengingat saat ini koalisi partai pengusung Presiden Jo - ko wi saja sudah lebih dari 50 jumlah kursi di DPR.

“Makanya saya bilang dua poros, Tapi, ka - lau memang ada poros ketiga, itu perlu ada keajaiban walau - pun secara rasional dua poros,” ungkapnya. Bagi PAN, kata dia, per te mu - an-pertemuan informal yang dilakukan tiga partai yakni PAN, Demokrat, dan PKB baru awal dari upaya untuk me real isasikan gagasan poros ketiga. Semua par - tai masih dalam po sisi mem buka kemungkinan berdasarkan kal - kulasi masing-masing partai. “Kita juga punya hak, partai lain juga punya. Ma ka nya perlu per te - muan-per te muan, paling tidak informal dulu, itu saling men - jajaki,” tegasnya.

Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Roy Suryo mengungkapkan, posisi par tai - nya masih sama-sama 50% jika melihat kemungkinan apakah akan bergabung dalam salah satu poros yang ada atau me - milih untuk membuat poros ke - tiga. Rapat pimpinan nasional (rapimnas) yang digelar Partai Demokrat memang belum me - nentukan arah dukungan pada Presiden 2019. “Memang be - lum memberikan apakah kami akan menjadi partai yang untuk poros ketiga atau ke salah satu poros karena semua harus mem pertimbangkan,” katanya. Roy mengungkapkan, selain faktor syarat dukungan, hal yang menjadi pertimbangan Partai Demokrat karena ketika mengusung calon mem bu tuhkan sosok yang betul-betul kuat.

Untuk itu, kata dia, Partai Demokrat akan mem per hi - tung kan secara matang siapa yang akan mereka usung dalam Pilpres 2019. “Jadi, tidak benar kalau kita sudah ke salah satu karena ka - laupun kita mendukung Jokowi dan salah satu poros itu, bagi Demokrat, kalau mendukung tentu dengan beberapa syarat dulu,” ucapnya.

Gerindra Deklarasi Prabowo Awal April

Sementara itu, Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon mengungkapkan, par tainya akan segera men de - kla rasikan Prabowo Subianto sebagai capres dalam Rapat Koordinasi Nasional (Ra kor - nas) Partai Gerindra awal April 2018. Dalam kesempatan itu pimpinan pusat Partai Gerindra akan mendengar suara dari ka - der-kader Gerindra dari daerah. Saat ini sebagian pengurus dae - rah Gerindra telah mendekla ra - sikan dukungan kepada Pra bo - wo Subianto untuk kembali mencalonkan diri sebagai pre si - den dalam Pilpres 2019. “Re nc - ananya mungkin akan di se leng - garakan awal April. Setelah itu baru akan deklarasi,” kata Fadli.

Bagi Gerindra, mendeklara - si kan Prabowo hanyalah ma sa - lah momentum karena me - mang tidak punya alternatif un - tuk mencalonkan di luar sosok Prabowo. Pencalonan kembali Prabowo sebagai capres me ru - pakan aspirasi yang berasal dari seluruh pengurus dan kader dari DPC, DPD, hingga DPP. “Pencalonan Pak Prabowo itu datang dari bawah, bottomup- lah. Jadi di daerah-daerah meminta. Permintaan dari ba - wah itu nanti mengonfirmasi ke tingkat nasional, jadi bukan dari atas ke bawah, tapi dari bawah ke atas. Ini yang di - lakukan oleh Partai Gerindra,” ungkapnya.

Adapun posisi cawapres yang akan mendampingi Pra - bowo, kata Fadli, Partai Ge rin - dra tentu akan berkomunikasi dengan partai politik yang men - jadi mitra koalisinya. Soal partai mana yang bakal menjadi mitra koalisi, Fadli mengungkapkan bahwa saat ini masih ada empat partai yang belum mendekla - rasi kan capres yakni PAN, PKS, PKB, dan Partai Demokrat. Arti - nya, mereka masih terbuka un - tuk bekerja sama dengan partai lain dalam mengusung calon presiden dan calon wakil pre si - den, termasuk dengan Partai Gerindra. “Di situ kan nanti akan ada pembicaraan tentang elektabi - li tas, kapasitas, kapabilitas, dan lain-lain. Jadi, pembicaraan itu ruangnya masih sangat panjang karena masih cukup waktu se - kitar 4-5 bulan sampai awal Agustus 2018,” terangnya.

Prati k no Bantah Jadi Ketua Tim Seleksi Cawapres Jokowi

Tim internal Jokowi dan partai-partai koalisi tengah menggodok kriteria calon wakil presiden (cawapres) untuk Pre - siden Joko Widodo (Jokowi). Ka barnya, tim tersebut dipim - pin oleh Menteri Sekretaris Ne - gara (Mensesneg) Pratikno. Dikonfirmasi soal kabar ter - sebut, Pratikno membantah. Dia mengatakan belum ada pem bentukan tim secara for - mal untuk menggodok kriteria cawapres Jokowi.

“Enggak ada, nanti tanya presiden,” ujar Pra - tikno di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (13/3/2018). Pratikno menegaskan, Ista - na tidak membentuk tim khu - sus untuk mencari calon pen - damping Jokowi. Kriteria calon pendamping Jokowi dibahas se cara informal, tanpa mem - ben tuk tim. “Ini bukan tim segala macam begitu. Ini telaah gitu saja,” ucapnya. Sebaliknya, Pratikno justru mendengar pembahasan intens soal calon pendamping Jokowi dilakukan oleh pihak di luar Istana.

“Malah temen-temen di luar itu banyak saya dengar. Diskusi-diskusi mengenai (ca wa - pres Jokowi) ya ada. Kesepa katan Presiden dengan partai koalisi. Itu keputusan Pak Pre - siden mendengarkan partaipartai yang mencalonkan,” kata Pratikno.

Rahmat sahid/ sindonews









Berita Lainnya...