Edisi 13-03-2018
Sopir Diduga Main Ponsel, Bus Tabrak Empat Mobil


JAKARTA - Bus Mayasari Bakti B 7792 VB yang dikemudikan Ade Hopid Hidayat, 34, warga Tasikmalaya, Jawa Barat, menabrak empat mobil di Jalan KS Tubun, Palmerah, Jakarta Barat, kemarin.

Kecelakaan ini diduga sopir asyik bermain ponsel. Karena tak konsentrasi, bus sulit dikendalikan dan menghajar mobil di depannya hingga terpental beberapa meter. Beruntung, dalam kejadian itu tak menimbulkan korban jiwa. Rudi, 23, saksi mata, mengatakan, insidenbermulaketika taksi biru berusaha melajukan kendaraannya dari lajur kiri ke kanan secara tiba-tiba. Manuver taksi membuat bus jurusan TanahAbang- Bekasiyangtengah melaju kencang seketika itu tak terkendali. Tanpa bisa menghentikan kendaraan, bus menabrak bagian belakang taksi hingga terhempas beberapa meter.

“Bus itu tabrak taksi yang tiba-tiba pindah ke lajur kanan. Karena busnya kencang, jadi taksi yang ditabrak itu terdorong kemudian tabrak dua mobil yang ada di depannya,” ujar Rudi kemarin. Setelah laju bus berhenti, penumpang yang shock keluar dari Mayasari untuk dialihkan ke bus lain. “Enggak ada yang luka parah cuma shock saja,” ucapnya. Kasatlantas Wilayah Jakarta Barat AKBP Sudarmanto menuturkan, ada dugaan sopir bus tak konsentrasi sehingga terjadi tabrakan. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, polisi meminta keterangan sopir bus dan empat sopir mobil yang ditabrak. Mobil yang terlibat tabrakan yakni taksi, Toyota Kijang Innova, Toyota Avanza, serta Toyota Innova warna silver.

“Petugas sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di lokasi,” ucapnya. Menanggapi sopir bus yang diduga main ponsel saat berkendara, pengamat transportasi Djoko Setijowarno meminta polisi mencabut SIM sopir bus yang menyebabkan tabrakan beruntun di Jalan KS Tubun, Palmerah, Jakarta Barat itu. “TindaktegasharusdicabutSIMnya. Polisi punya hak,” ujarnya. Pencabutan SIM untuk memberikan efek jera agar penggunaan ponsel oleh pengemudi tidak dilakukan. Apalagi, selama ini pemberian sanksi tilang kurang memberikan efek. Menur u t dia, sosialisasi pelarangan ponsel, ancaman pelanggaran, hingga penayangan video kerap dilakukan oleh instansi terkait, namun tidak membuat pelanggar berkurang. “Jadi harus ada sanksi biar ada efek jeranya,” ucap Djoko.

Terkait penggunaan aplikasi Global Positioning System (GPS) saat berkendara, Ditlantas Polda Metro Jaya tidak pernah melarang GPS di ponsel sebagaipenunjukarah. Menurut Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Halim Pagarra, yang dilarang jika aplikasi tersebut digunakan dengan posisi-posisi yang menyalahi aturan dan menimbulkan konsentrasi pengendara menurun. “Misalnya menggunakan aplikasi GPS sambil dipegang tangan kiri lalu tangan kanan menyetir atau memegang setang motor. Selama berkendara kita melihat ke layar ponsel. Itu yang berbahaya,” kata Halim beberapa waktu lalu.

Kalau ponsel tersebut diletakkan di tempat tertentu dan tak membuat pandangan mata pengendara terpaku pada layar, aplikasi GPS boleh digunakan. “Kan , sekarang bisa dikeraskan volume penunjuk arahnya, jadi pengendara tidak disibukkan dengan melihat layar ,” ucapnya.

Yan yusuf