Edisi 13-03-2018
SpaceX Uji Coba Penerbangan ke Mars


AUSTIN - Pendiri Tesla dan SpaceX, Elon Musk, mengumumkan Timeline ambisiusnya mengolonisasi Planet Mars. Insinyur visioner asal Amerika Serikat (AS) tersebut berencana melakukan uji coba penerbangan jarak pendek pesawat ruang angkasa menuju Planet Merah tahun depan.

“Kami sedang membangun kapal antarplanet. Saya kira kami akan mampu melakukan penerbangan jarak dekat, yakni penerbangan naik-turun selama enam bulan tahun depan,” ujar Musk dalam sesi tanya-jawab South by South West (SXSW) di Austin, Texas, Amerika Serikat (AS), Minggu (11/3) waktu lokal, dikutip BBC. Sistem roket BFR SpaceX dapat digunakan berulangulang. Biaya penerbangannya lebih rendah daripada biaya Falcon 1 yang mencapai USD5-6 juta.

Pada tahun lalu, Musk juga berharap BFR dapat digunakan dalam dunia penerbangan untuk memangkas waktu perjalanan antarbenua dari berjamjam menjadi bermenit-menit. BFR akan melakukan pendaratan di Mars pada 2022 dengan misi pengiriman barang. Misi itu merupakan bagian pertama dari empat tahapan yang akan dilalui SpaceX sebelum mengolonisasi Planet Merah. Sekitar dua tahun lalu, Musk berharap dapat mengirimkan sekitar satu juta manusia untuk memulai kehidupan baru di Mars. “Kami ingin memastikan ada cukup penanaman bibit peradaban di suatu tempat untuk melanjutkan peradaban manusia jika terjadi perang nuklir. Saya kira atas hal itu, penting bagi kita memiliki markas berkelanjutan yang idealnya didirikan di Mars, karena sepertinya Mars lebih dapat dihuni dibandingkan bulan,” kata Musk.

Pengiriman manusia menuju dan hidup di Mars merupakan visi besar Musk bersama SpaceX. Pengusaha miliarder itu membantah ingin menguasai Mars. Dia mengaku ingin menerapkan sistem demokrasi sehingga orang-orang dapat memberikan suara secara langsung dalam berbagai isu, bukan melalui perwakilan pemerintah. “Mungkin kita memerlukan 60% suara untuk menerapkan aturan, tapi jumlah suara yang melampaui 40% dapat mencabut aturan hukum itu. Jadi menggagalkannya lebih mudah dibandingkan mendirikannya. Teksnya harus pendek dan mudah dipahami,” imbuh Musk.

“Terlalu banyak aturan, juga dapat merusak dan mengekang,” Jika misi ini berhasil atau memungkinkan, imbuh Musk, negara lain dipastikan akan mengikuti dan mengembangkannya lebih jauh. Hal terbesar yang akan membantu misi ini adalah dukungan, dorongan, dan niat baik. Sejauh ini, sebagian besar perusahaan dan negara menganggap misi pengolonisasian Mars tampak mustahil. Misi pengolonisasian Mars juga diprediksi akan membuka banyak lapangan pekerjaan. Menurut Musk, sama seperti di Bumi, peradaban di Mars perlu ditunjang oleh berbagai elemen ekonomi dan sosial, mulai pembukaan toko piza hingga pengecoran besi. Dia juga mengatakan Mars harus memiliki bar yang lebih bagus.

“Suatu hari orang-orang akan minum di sebuah bar di Mars,” ujarnya. Pengolonisasian Mars dianggap Musk sebagai aksi yang mendesak untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia. “Saya pikir sepertinya kita akan mengalami perang dunia lagi. Perang telah menjadi pola di dalam sejarah manusia,” paparnya. Setelah serangkaian kegagalan uji coba roket dan hampir bangkrut, SpaceX kembali bangkit atas bantuan pemerintah dan memukau dunia dengan penerbangan Falcon Heavy pada Februari. Falcon Heavy meluncur bebas ke ruang angkasa untuk mengirimkan mobil sport listrik berwarna merah ceri, salah satu koleksi Musk. Booster BFR Falcon Heavy terbakar selama 154 detik sebelum meluncur menuju ruang angkasa.

Terbebas dari bagian utama roket, bosster itu berputar 180 derajat dan kembali ke Bumi. Mesinnya kembali terbakar sebelum mendarat secara sempurna di Cape Canaveral. Roket itu menjadi roket paling kuat di dunia.

Muh shamil




Berita Lainnya...