Edisi 13-03-2018
Lingkaran Kemiskinan dan Bencana


Kemiskinan selalu menjadi prioritas setiap kepemimpinan untuk dientas kan. Te tapi, upaya pengentasan kemiskinan memang bukan perkara mudah.

Jumlah pen duduk miskin pun bersifat dinamis. Seseorang yang tadi - nya tid ak miskin bisa menjadi miskin karena beragam kondisi. Sementara seseorang yang ber - ada dalam kemiskinan cukup sulit untuk keluar d ari ke - miskinan. Perhatian terhadap kemis - kin an ini juga ditunjukkan oleh para pemimpin dunia . Maka tak heran tu juan pertama dalam Sustainable Development G oals (SDGs) ad alah “tanpa kemis - kinan”. Kemiskinan jelas me - nempatkan seseorang dalam kondisi terenggut banyak hak asasinya.

Untuk itulah, peng - entasan kemiskinan harus terus diupayakan demi ke - manusiaan. Data ke misk inan secara ma - kro di sa jikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Data kemis - kinan makro diperoleh melalui Sur vei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan pada Maret dan September. Konsep kemis kin an yang digunakan BPS meng acu pada pemenuhan kebu tuh an dasar, baik makan - an mau pun nonmakanan. Ke - bu tuhan dasar makanan diukur ber da sar kan jumlah kalori mi - nimum yang dibutuhkan oleh tubuh untuk bisa beraktivitas sehari-hari, yakni 2.100 kkal per orang per hari.

Sementara kebutuhan dasar nonmakanan diukur ber da sarkan kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kese - hatan. K e butuhan d asar mi - nimum untuk makanan dan nonmakanan itu kemudian dikonversi ke d alam rupiah men jadi Garis Kemis kinan (GK). Apabila penge luar an sua - tu rumah tangga untuk me me - nuhi kebutuhan dasar mini - mum (makanan dan non ma - kanan) berad a di bawah GK , ru - mah tangga tersebut dikate go - ri kan sebagai rumah tangga miskin. Berdasarkan data BP S, jumlah pen duduk miskin di In - donesia kondisi Sep tember 2017 sebe sar 26,58 juta orang atau se besar 10,12% dari total pen duduk .

Ting kat kemiskinan yang masih ber - tengger di angka dua dig it me mang menandakan pe - na nganan ke mis - kin an masih mem - bu tuh kan usaha yang cu kup keras. Tetapi, kabar baik - nya tingkat kemis - kinan mulai men - dekati angka 10%, artinya ter buka peluang untuk me - nurun kan tingkat kemiskinan hingga ke sing le digit sesuai target pe merintah. Menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas), penyebab ke - miskinan dibedakan menjadi dua , yaitu kemiskinan kronis (chronic pover ty) atau kemiskin - an struktural yang terjadi terusmenerus, dan kemiskinan sementara (transient poverty).

Kemiskinan kronis disebabkan oleh beberapa hal. Per ta ma , sikap dan kebi asaan hidup ma - syarakat yang tid ak produktif. Kedua, keterbatasan sumber daya dan keter isolasi an. Ketiga, rendahnya taraf pendidikan dan deraj at kesehatan, ter ba - tasnya lapangan kerja, dan ke - tid akberdayaan masyarakat. Sed angkan kemiskinan se - men tara juga disebabkan oleh beberapa hal. Pe rt am a, per - ubah an siklus ekonomi dari kon disi normal menjadi krisis ekonomi. Ke-dua, perubahan yang bersifat musiman seperti kasus ke mis kinan nelayan d an per tanian ta naman pangan. Ketiga, bencana alam atau dam - pak dari suatu kebijakan.

Keterkaitan Bencana dan Kemiskinan

Bencana alam mer upakan kondisi yang tak diharapkan, tetapi manusia juga memiliki an dil terhadap semakin bur uk - nya bencana yang terjadi. Ulah manusia yang terus me - nge r uk sumber d aya alam (SDA), me rusak aset ling kung - an dan ber bagai tindakan des - tr uktif lain nya menyebabkan terganggu nya ekosistem, se - hingga me nim bulkan bencana atau mem perparah d ampak suatu ben ca na yang terj adi. Menurut United Nations In - ter n ational S tra te gy for Disaster Reduction (UNISDR), sebuah Ba dan PBB untuk Strategi In - ter nasional Pengurangan Ri si - ko Bencana, Indonesia merupa - kan negara yang paling rawan bencana alam di dunia .

Berita bencana alam pun kembali kita dengar pada awal 2018 ini, berupa banjir dan tanah longsor yang terjadi di berbagai wilayah, utamanya wilayah di Pulau Jawa. Bencana alam yang ter - jadi memiliki banyak dampak terhadap korban berupa kehi - langan harta benda, aset pro - duksi, pekerj aan, hingga kehi - langan nyawa . Semua dampak akibat bencana beru jung pad a kondisi yang membuat masya - rakat korban bencana menjadi lebih miskin. Dapat di bayang - kan bagai mana nasib keluarga yang sebelum terjadi bencana memang te lah miskin? Tentu de ngan terjadi bencana mem - buat keluarga tersebut semakin ter lempar ke dalam jurang ke - miskinan yang lebih dalam.

Bencana dan ke miskinan pada da sar nya me rupakan dua hal yang seakanakan tak ber kait - an, tetapi pad a ke nyata annya antara ke mis - kin an dan ben - cana memiliki hu bung an sebab-akibat yang ber laku dua arah. Ben - cana jelas me - nyebab kan ke - mis kinan se - per ti uraian di atas, demikian juga sebalik nya, ke mis - kin an bisa men jadi penyebab terjadi ben cana. Ke miskinan seringkali menye bab kan se se - orang tid ak me miliki banyak pilihan se hingga melegalkan banyak cara untuk bertahan hi dup. Contoh nya banyak pen - duduk miskin yang masih ber - tahan untuk tinggal di ban tar - an sungai se hingga mengu - rangi daerah re sap an air yang berpotensi me nim bulkan ban - jir.

Pun banyak penduduk mis - kin yang tinggal di lereng perbukitan dan meng usa ha - kan tanaman semusim sebagai mata pencaharian, pa da hal se - harusnya perbukitan dita - nami dengan tanaman ber - kayu keras yang mampu me na - han air, bu kan malah tanaman semusim yang menyebabkan tempat ting gal mereka men - jadi lebih rawan terhadap long - sor. Per alihan fungsi lahan ini - lah yang menjadi salah satu pe - nyebab dampak bencana men - jadi lebih besar, dan peralihan fungsi la han ini disebabkan oleh ke miskinan.

Lebih miris, kemiskinan membuat banyak penduduk miskin kembali mendiami tem - pat tinggal mereka setelah ben - cana berlalu karena merasa tak memiliki pilihan lain sehing ga kemungkinan bencana yang serupa kembali terulang. Sete - lah itu, untuk melanjutkan hi - dup mereka juga harus kembali ber juang dari awal untuk membangun tempat usaha yang telah terenggut, biasanya melalui utang. Hal ini tentu saja semak in memiskinkan pendu - duk korban bencana karena harus menanggung utang be - serta beban bunganya. Selama ini pemerintah dan masyarakat memang cukup tang gap terhadap kondisi daru - rat bencana, namun seharus - nya campur tangan pemerintah tidak cukup hanya sampai di situ.

Seperti yang telah di ke mu - kakan di awal tulisan ini bahwa bencana alam merupakan pe - nyebab kemiskinan sementara, tetapi pada kenyataannya bencana mampu menciptakan kemiskinan yang sifatnya ter us berlanjut. Pemerintah seharusnya juga memperhatikan kondisi pen - du duk yang menjadi korban se - telah bencana usai dengan mengupayakan pembangunan kembali tempat usaha mereka atau menciptakan lapangan pekerjaan baru untuk pen du - duk yang tadinya ber profesi sebagai buruh atau pekerja.

Dengan demikian, bencana yang terjadi tid ak menciptakan kemiskinan bar u atau memperdalam kemiskinan yang sudah ada, yang menj adi sebab lambatnya proses pengentasan kemiskinan yang selama ini digalakkan.

Rini Tri Hadiyati
Statistikawan Muda Badan Pusat Statistik








Berita Lainnya...