Edisi 13-03-2018
OJK Minta Fintech Tetapkan Bunga Rendah


BALI–Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegas kan tidak akan mengatur besaran bunga atas pinjaman jasa keuangan digital atau financial technology(fintech) peer to peer lend ing.Namun, diharapkan fintechbisa menetapkan bunga rendah karena menya sar kalangan yang tidak terjangkau perbankan.

Wakil Ketua Dewan Komi sioner OJK Nurhaida meng kha watir - kan bunga tinggi jus tru akan membebani konsu men serta rentan dengan ada nya default (gagal). “Bunga tidak diatur ka - re na itu betul-betul market, ha - nya dengan adanya industri ini berkembang, tentu utamanya kalau fintech ini di tu jukan ke - pada small medium enterprise atau masyarakat yang ekonomi tidak bankable sehingga diha - rap kan mereka bisa menda pat - kan dana lebih murah,” ujarnya di Nusa Dua Bali, kemarin. Nurhaida meyakini, ha rap an bahwa bunga fintechdapat dite - kan akan terwujud lantaran in - dustri fintechterus ber kem bang. Dengan demikian, makin lama biaya bagi peminjam juga makin turun.

“Kalau industri ini per - saingan makin ketat, maka itu hal yang umum ya, dengan suplai yang sedikit, maka cost -nya ting - gi. Tapi dengan industri yang ber - kembang makin ba nyak bisa me - nawarkan dana tentu itu akan menekan biaya,” kata dia. Sementara itu, Deputi Ko - misioner OJK Institute Su ka - rela Batunanggar menjelaskan, risiko pada fintech diterje mah - kan dalam suku bunga. Besar kecilnya risiko tersebut menjadi dasar perhitungan fintech da - lam menetapkan besaran bu - nga. “Artinya semakin tinggi risikonya si investor, maka mar - jinnya makin besar, sepanjang itu saling menguntungkan. Nah itu perlu dicatat,” kata dia.

Sukarela mengatakan, de - ngan besaran bunga yang di - sebut masih tinggi saat ini, fin - techmasih bisa menjaga ke ber - langsungannya. Tidak hanya itu, angka pertumbuhan indus - tri ini juga terbilang tinggi. Kon - disi tersebut mengindikasikan bahwa investor masih mengan - tongi keuntungan. Namun, me - nurutnya besaran bunga belum begitu mendesak. Hal utama menjadi fokus OJK saat ini adalah perkembangan fintech serta menghadirkan regulasi yang mampu mengakomodasi perkembangan tersebut. Fintech diharapkan me mak - simalkan perannya turut serta meningkatkan inklusi keuang an bagi golongan yang tidak ter - jangkau layanan perbankan.

“Jadi yang penting sekarang itu fintech-nya berkembang, peng - usaha kecilnya juga lebih maju. Fintech company tumbuh eks - posur tumbuh nasabah tum buh. Sonanti suku bunga itu proses. Biaya turun dan pema haman. Kalau saya belum kenal dia, pasti saya minta ini lebih tinggi, tapi kalau data kita pu nya big data analisis lebih akurat terjamin, trustjuga tercapai,” kata dia. Sebelumnya Asosiasi Fin - Tech Indonesia (Aftech) menya - ta kan besarnya bunga yang di - tawarkan layanan pinjaman langsung tunai (peer to peer lend - ing/P2P lending) tak berkaitan langsung dengan platformfin - tech. Seperti diketahui, bunga yang ditawarkan fintech bisa le - bih dari 19% per tahun.

Angka ini lebih tinggi daripada umumn ya bunga ditawarkan lembaga keuangan formal. Ketua Kelompok P2P Lend - ing Aftech, Reynold Wijaya me - nuturkan, pihaknya sebagai platform hanya mendapatkan keuntungan atau fee dari be - saran bunga tersebut. “Kita itu makelar yang memilik risiko memberi pinjaman, jadi be sar an bunga ya kepada mereka, yang platformitu hanya dapat fee, di mana jauh lebih rendah dari bu - nga yang didapatkan,” kata dia. Lebih lanjut kata dia, feeyang didapatkan setiap platform berbeda-beda dengan masingmasing kebijakan. Pada umum - nya 1% hingga 2%.

“Berapa pun besarnya bunga itu bukan ada kaitannya dengan kita. Setiap platform berbeda-beda, misal fee 1%, jadi mau bunga 15%, 19%, berapa pun besarnya ya tetap 1% (fee -nya),” ujar dia. Soal bunga terbilang besar, menurutnya, angka itu masih jauh lebih rendah ketimbang bu - nga ditawarkan perbankan pada kartu kredit yang men capai 35% per tahun. Dia men jelaskan, bia - sa nya konsumen layanan P2P lendingmeminjam dana dalam jangka waktu pem bayaran pen - de k atau shorttermselama 2 atau 3 bulan. “Ya, kalau 19% per ta - hun, mungkin per bu lan hanya 1,5% dan ditam bah fee1-2%. Ka - lau industri kreatif, marginnya dia bisa 30% sendiri, jadi bisalah bayar bunganya,” ujarnya.

Alasan dari tingginya bunga yang ditawarkan, dia men - jelaskan, ini sejalan dengan risiko di da patkan pemodal saat me min jam kan dananya. Sebab pasar yang menjadi peminjam dana dari fintech didominasi masya ra kat tidak tersentuh oleh akses bank. Menurutnya, lebih dari 50 juta orang Indonesia tak me mi - liki akses pembiayaan dari bank. Terlebih pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, dan mene - ngah (UMKM). “Bank pasti ambil segmen (masyarakat) ter - baik. Yang tidak punya akses ini bisa karena tidak punya jamin - an atau agunan, data tidak leng - kap, ataupun persoalan usia (usaha UMKM),” kata dia.

Dengan segmen masyarakat yang tak bisa mengakses bank ini, menurutnya, sudah pasti memiliki risiko kredit ber ma - salah atau non performing loan (NPL) tinggi karena tak me mi liki agunan. “Jadi harus lebih tinggi (bunganya) karena profil lebih berisiko. Karena miliki risiko lebih tidak aman, harus diberi lebih tinggi supaya sus tainable (berkelanjutan),” kata dia.

Kunthi fahmarsandy/ okezone