Edisi 13-03-2018
Cara Baru Berkomunikasi Secara Visual


GALAXY S9 dan S9+ menyapa Indonesia dengan mengandalkan fitur dual aperture, super slow-mo, dan my emoji. Bisakah menarik perhatian konsumen?

Rasanya Galaxy S8 dan S8+ belum lama dirilis, diikuti Note 8. Sebagai model flagship , keduanya memiliki teknologi dan fitur yang sudah sangat baik, terdepan di kelasnya. Namun, begitulah teknologi ponsel yang cepat sekali berubah. Pabrikan seperti Samsung yang memimpin penjualan ponsel dunia menjadi penentu tren perkembangan teknologi di smartphone . Pada 2017, Samsung sukses mendikte pasar lewat desain infinity display atau bezel less serta perbandingan layar 18 : 9. Samsung memang bukan yang pertama, tetapi merekalah yang membawa trennya ke pasar luas.

Di S9 dan S9+, Samsung tidak lagi bisa mengandalkan desain. Fokus mereka kini ada pada kamera dan software. IT & Mobile Marketing Director Samsung Electronics Indonesia Jo Semidang berpendapat, konten visual kini dianggap sebagai cara baru untuk berkomunikasi dan aktualisasi diri. Jadi, fitur-fitur S9 dan S9+ didesain untuk berkomunikasi secara visual. “Kamera menjadi jantung hadirnya konten visual,” ungkap Jo. Lensa S9 dan S9+ menggunakan dual aperture dengan bukaan rana f/2.4 dan f/1.5. Aperture -nya dirancang menyerupai iris mata manusia yang mengembang dan mengerut. Gunanya untuk menangkap cahaya lebih saat lokasi pengambilan minim cahaya atau bahkan terlalu terang.

“Sama seperti mata, aperture kamera beradaptasi terhadap situasi sekelilingnya. Ketika di tempat terang, lensa akan langsung menyesuaikan ke f/2.4 sehingga hasil foto tetap tajam dan detail,” ujar Tito Rikardo, fotografer profesional sekaligus cofounder The Uppermost. Keunggulan lain kameranya adalah kemampuan super slow-mo 960 frame per second (fps). Super slow-mo menangkap objek 0,2 detik dan memainkannya dalam waktu 6 detik. Teknologi motion detection mendeteksi gerakan objek dalam tiap tangkapannya dan secara otomatis melakukan perekaman. Jadi, pengguna hanya perlu mempersiapkan pengambilan gambar. Hasil video super slow-mo juga dapat diedit. Super slow-mo sebenarnya bukan hal baru. Sony terlebih dulu melakukannya pada 2017 lewat Xperia XZ Premium.

Bahkan, tahun ini Xperia XZ2 bisa merekam 960 fps dalam 1.080 p, bukan lagi 720 p seperti S9 dan S9+. Nah, gimmick lain yang diberikan Samsung di kedua ponsel barunya adalah teknologi AR pada kemampuan kameranya untuk membuat emoji lebih personal. Lagi-lagi, ini bukan hal baru. Samsung hanya menyempurnakan tren yang dilakukan iPhone. Galaxy S9 dan S9+ bisa menciptakan model 3D yang mencerminkan dan meniru ekspresi pengguna, seperti berkedip dan mengangguk. Hasilnya, pengguna dapat memiliki 18 emoji diri dalam format GIF. Samsung juga bekerja sama dengan Disney agar pengguna dapat menggunakan karakter Disney dari koleksi emoji mereka.

Galaxy S9 berlayar 5,8 inci dengan RAM 4 GB/memori 64 GB dibanderol Rp11.499.000, Galaxy S9+ berlayar 6,2 inci dengan RAM 6 GB/memori 64 GB dibanderol Rp12.999.000, sedangkan Galaxy S9+ berkapasitas 256 GB dibanderol Rp14.499.000. Galaxy S9 dan S9+ tersedia di Indonesia dalam tiga pilihan warna, yaitu midnight black, coral blue , dan lilac purple .

Danang arradian