Edisi 13-03-2018
Terisolasi, Siswa Harus Berjalan Kaki Sejauh 6 Km ke Sekolah


Perjuangan berat harus dilalui Dede Santana, 14, siswa SMP 2 Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Setiap hari dia harus berjalan kaki sejauh 6 kilometer (km) menembus bukit untuk menuju sekolah. Jalan yang dilalui kini kondisinya gundul karena seluruh lahan yang tadinya hijau penuh pepohonan sudah habis ditebang. Kondisi orang tuanya yang hidup dalam kemiskinan membuat Dede harus pergi sekolah dengan berjalan kaki. Untuk menuju jalan raya yang dilalui angkutan umum, Dede harus melewati jalan setapak, mendaki bukit, menyeberang sungai, hingga melintasi Pemakaman Mewah Graha Sentosa Memorial Park. Ia kemudian harus menghindari truk-truk besar di jalan konsorsium kawasan industri.

”Di sini tidak ada angkot, jadi saya harus jalan kaki karena tidak punya kendaraan sendiri. Kalau lagi musim hujan seperti sekarang ini, kadang kaki saya penuh lumpur. Apalagi kalau ada petir, saya suka takut karena di jalan tidak ada pelindung, cuma tanah lumpur aja,” ungkap Dede ketika ditemui di kediaman Wakil Bupati Karawang Jimmy Ahmad Zamkasyari kemarin. Dede Santana hanyalah satu dari banyak anak-anak yang menjadi korban konflik lahan antara petani dan pengusaha di daerahnya yang tak kunjung selesai. Dia tinggal di wilayah terpencil, Kampung Cisadang RT 01/04, Desa Wanajaya, Kecamatan Telukjambe Barat. Seluruh lahan di dekat tempat tinggalnya sudah kosong dan dibentengi pagar tembok tinggi.

Lahan tersebut akan dibangun fasilitas industri. Tidak ada fasilitas umum untuk mendukung aktivitas warga yang dihuni 10 kepala keluarga tersebut. Warga di sana bahkan tidak bisa menikmati listrik. Untuk kebutuhan penerangan sehari-hari warga hanya bisa mengandalkan damar. Kemarin Dede ditemani Wakil Kepala SMP 2 Telukjambe Barat, Yadi, berkunjung ke rumah dinas Wakil Bupati Karawang Jimmy Ahmad Zamakasyari untuk menerima hadiah sepeda. Dede mengaku gembira dengan pemberian sepeda dan akan digunakan untuk ke sekolah. ”Senang saja karena punya sepeda. Orang tua saya tidak mampu membeli,” ungkapnya.

Jimmy Ahmad Zamaka - syari mengaku mendengar cerita tentang Dede dan iba dengan kondisi anak tersebut. Dia juga langsung meng in - struksikan bawahannya untuk melihat lokasi Kampung Cisadang. Dia mengaku sangat heran dan aneh di dekat kawasan industri ternyata masih ada permukiman warga yang terisolasi. Apalagi, dia mendengar kabar Kampung Cisadang belum ada jaringan listrik PLN. ”Untuk listrik misalnya warga di sana harus nyolokke perusahaan dan bayar. Saya juga dapat laporan kalau warga di sana masih banyak yang pakai lampu cempor. Saya akan perintahkan dinas terkait untuk mendata semuanya,” tuturnya.

Dede merupakan anak korban konflik lahan antara petani dan pengusaha yang sudah lama terjadi di Karawang. Dia sempat bersama orang tuanya dan petani lain mengungsi ke Jakarta dan terakhir mengungsi di rumah dinas Bupati Karawang Cellica Nurachadiana yang kosong.

Nilakusuma
Karawang