Edisi 14-03-2018
Tajuk-Rekonsiliasi Sunda-Jawa


Sunda dan Jawa akhirnya berdamai soal sejarah kelam 661 tahun yang lalu. Dua suku terbesar di Indonesia ini memang saling terluka akibat Perang Bubat ketika era Majapahit di Raja Hayam Wuruk.

Perseteruan itu begitu tampak pada namana ma jalan di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, atau Jawa Timur (tiga dae rah tersebut mempunyai ikatan sejarah dengan Kerajaan Ma - ja pahit) yang tak satu pun berbau Sunda. Begitu juga, jangan ber - h a rap nama berbau Kerajaan Majapahit seperti Hayam Wuruk atau Gajah Mada terdapat pada jalan-jalan di wilayah Jawa Barat.

Bah kan ada pesan dari sebagian orang tua kepada anaknya untuk ti dak menikah dengan orang Sunda bagi orang Jawa, begitu juga se baliknya. Meskipun, bagi anak-anak sekarang, pesan itu sudah ti dak diindahkan lagi. Peristiwa kelam nenek moyang dua suku ter sebut memang terus diturunkan hingga beberapa waktu lalu ter jadi rekonsiliasi antara Sunda dan Jawa.

Hingga pada 6 Maret 2018 tiga gubernur, yaitu Gubernur Jawa Ba rat Ahmad Heryawan (Aher), Gubernur DI Yogyakarta Sri Su l - tan Hamengku Buwono X, dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo, ber kumpul untuk melakukan rekonsiliasi. Hasil konkret dari re - kon siliasi tersebut akan ada nama-nama jalan berbau Majapahit di Tanah Pasundan, begitu juga akan nama-nama berbau Pasundan di DI Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Aher dalam per temuan tersebut meminta semua pihak menghilangkan den - dam sejarah. “Berdamailah dengan sejarah, jadikanlah sebagai pe lajaran agar kejadian buruk di masa lalu tidak terulang di masa de pan,” kata Aher. Pesan yang hampir sama juga disampaikan oleh Sri Sultan dan Soekarwo.

Memang sudah sepantasnya kita semua menghilangkan den - dam sejarah. Jawa dan Sunda yang mempunyai peradaban tinggi ba gi Indonesia harus benar-benar menghilangkan dendam ter se - but. Sejarah semestinya bisa menjadi pelajaran bagi kita semua un tuk masa kini dan masa depan. Jika kita mempunyai sejarah ke - lam, pelajaran yang harus kita petik adalah jangan mengulangi se - ja rah tersebut atau melakukan yang sama.

Namun, jika ada se ja - rah yang positif, tentu ini bisa menjadi contoh bagi masa kini dan ma sa depan pula. Sejarah berguna untuk menjalani kehidupan ma sa kini dan masa depan dengan baik. Bukan malah sebaliknya, se jarah justru menyulutkan dendam terus-menerus sehingga mem buat masyarakat luas terbawa. Sudah banyak contoh den - dam sejarah yang ada di dunia ini diselesaikan dengan baik.

Dan, Indonesia yang dikenal dengan bangsa besar tentunya harus te - rus melakukan ini. Sri Sultan pun mengatakan bahwa penting mengetahui se ja - rah dan menghilangkan sekat-sekat kesalahpahaman yang telah ter jadi pada masa lalu. Setiap etnik yang ada menjadi bagian bang sa Indonesia itu sendiri.

Menurut dia, rekonsiliasi antarbudaya, an taretnik membutuhkan prasyarat utama, yakni memperbaiki hu bungan antarmanusia yang sebelumnya mengalami ke ce la ka - an sejarah. Soekarwo menyebut upaya rekonsiliasi yang di upa ya - kan ini merupakan langkah berani dan layak ditempuh semua ele - men bangsa karena keberagaman merupakan sumber kekuatan bang sa Indonesia.

Rekonsiliasi Sunda-Jawa ini bisa menjadi contoh bagi para pe mim pin bangsa ini sekarang. Beberapa friksi pandangan, pemikiran, ataupun perbedaan pandangan politik semestinya bisa direkonsiliasi dengan baik.

Tujuannya adalah bangsa ini men jadi se ma kin besar. Bayangkan jika dendam politik masa lalu terus di pu puk, apakah akan menjadi hal yang produktif? Bu kankah dendam akan memunculkan dendam yang baru? Re - kon siliasi Sunda-Jawa ini benar-benar bisa menjadi contoh ki - ta semua dalam me ning gal kan ego pribadi atau kelompok.

Sudah sepatutnya dendam ma sa lalu (baik sosial ataupun politik) perlu disimpan yang dalam dan membuka lembaran baru demi bang sa ini. Kita semua ingin bang sa ini menjadi besar. Bangsa be sar dibangun dengan ke ber sa ma an, bukan dengan cara memupuk dendam. Kita semua mengapresiasi rekonsiliasi Sunda-Jawa. Ini adalah con toh kehidupan berbangsa Indonesia yang baik. Contoh sudah ada . Tinggal kita apakah memiliki kemauan tidak untuk mencontoh rekonsiliasi Sunda-Jawa.


Berita Lainnya...