Edisi 14-03-2018
Warga Lintas Agama Bergotong Royong Siapkan Upacara Nyepi


Angga Setiawan menatap tajam boneka berbahan kertas bekas bungkus semen, berangka kayu dan bambu. Tangan kanannya masih memegang kuas dan sedikit belepotan dengan cat kayu warna biru muda.

Sambil serius mengamati boneka yang memiliki panjang hampir dua meter tersebut, pemuda 23 tahun ini sesekali berdiskusi dengan Wahid, 17, tetangganya yang turut membantu mengecat boneka kertas tersebut.

Boneka yang dibuat pemuda Dusun Jengglong, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur, tersebut merupakan boneka ogohogoh yang akan digunakan untuk rangkaian menyambut perayaan Hari Raya Nyepi. Makhluk menyeramkan ini menjadi pilihan Angga untuk dijadikan ogoh-ogoh karena dianggap menjadi penggambaran jiwa yang buruk dan jahat yang akan dibakar dalam api penyucian di malam menjelang Puasa Pati Geni.

“Boneka ini memang menyeramkan sebagai penggambaran wujud kejahatan. Tetapi, ada sifat di dalam diri manusia yang lebih buruk dari wajah raksasa ini, dan sulit untuk diketahui oleh semua orang,” ungkapnya. Melalui rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi yang diawali dengan acara Melasti, lalu pembakaran ogoh-ogoh, Puasa Pati Geni, dan diakhiri dengan upacara Ngembak Geni.

Menurutnya, manusia diajarkan untuk bisa mengendalikan sifat-sifat buruk yang ada di dalam dirinya sendiri. Angga dan Wahid tidak sendiri mengerjakan ogohogoh. Sejumlah warga lainnya di lereng timur Gunung Kawi tersebut juga membuat ogohogoh. Kesibukan warga desa ini selalu terjadi menjelang Pera ya - an Nyepi.

Mereka be gi tu rukun dalam bergotong-royong menyiapkan ogoh-ogoh. Bukan hanya warga yang beragama Hindu saja yang terlibat, tetapi warga desa yang beragama Islam, Katolik, dan Kristen Protestan turut terlibat bekerja bakti. “Warga desa di sini selalu bergotong royong.

Termasuk untuk kegiatan keagamaan dari umat beragama lain. Di desa kami, ada yang memeluk Hindu, Islam, Katolik, Kristen Pro tes - tan, dan Budha. Mereka saling bekerjasama,” ujar Kepala Desa Sukodadi Susilo Wahyudi.

Desa berpenduduk 4.968 jiwa tersebut memiliki pen - duduk yang beragam agama - nya. Mereka tersebar di enam dusun, yakni Dusun Petung - papak, Genderan, Kebon - kutho, Ampelantuk, Jamuran, dan Dusun Jengglong. Tetapi, mereka mampu hidup rukun di desa yang sangat sejuk udaranya itu. Kerukunan antar umat beragama ini juga tercermin dalam kehidupan setiap keluarga di desa ini.

Dalam satu keluarga, ada anggota keluarganya yang menganut agama berbeda-beda. Antara suami dengan istri, atau anak dan menantu, agama yang dianut bisa berbeda, tetapi mereka tetap hidup rukun sebagai satu keluarga.

Kerukunan antar umat beragama ini juga sangat dirasakan saat kegiatan membangun tempat ibadah. Seluruh warga pasti akan bergotong royong ikut membantu membangun, meskipun berbeda-beda agamanya. Demikian juga saat ada perayaan hari raya keagamaan, setiap warga akan saling berkunjung untuk mengucapkan selamat.

Sebentar lagi, warga desa yang memeluk agama Hindu akan merayakan Hari Raya Nyepi. Warga desa yang beragama lain turut bergotong royong menyiapkan perayaan tersebut. Sejarahwan Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono menuturkan, sejak berabad-abad silam, wilayah lereng Gunung Kawi sudah menjadi pusat peradaban manusia.

Wilayah ini sudah menjadi pusat pendidikan di masa akhir Kerajaan Mataram Hindu yang berpusat di wilayah Jawa Tengah. Kehadiran intelektualitas di tengah masyarakat yang hidup di lereng-lereng Gunung Kawi pada masa itu, menu rut nya, juga dibuktikan dengan mulai tumbuh suburnya penggunaan bahasa serta huruf Jawa asli, yaitu bahasa dan huruf Jawa Kawi. Sebelumnya masyarakat banyak menggunakan huruf Palawa dan bahasa Sangsekerta dari India.

YUSWANTORO

Malang