Edisi 14-03-2018
Polda Gandeng Ulama-Media Perangi Hoaks


BANDUNG– Polda Jabar menggandeng tokoh agama dan pimpinan media untuk bersama-sama memerangi kabar bohong atau hoaks yang marak beredar di media sosial dan meracuni pikiran masyarakat.

“Hari ini, Selasa 13 Maret 2018, jajaran kepolisian Polda Jabar bersama seluruh elemen ma sya - rakat Jawa Barat mendeklara sikan antihoaks. Kegiatan ini ber - tujuan menjalin silaturahmi, mem bangun kemitraan, me - ning katkan sinergitas, dan sara - na sharing informasi terkait si tu - asi kamtibmas,” kata Ka polda Jabar Irjen Pol Agung Budi Mar - yoto di sela Deklarasi Ja bar An - tihoaks di halaman Mapolda Jabar, Jalan Soe karno-Hatta, Ko ta Bandung, kemarin.

Sebelum deklarasi digelar, Agung menjamu para ulama, to - koh masyarakat, dan pimpinan media di Aula Muryono, Ma pol - da Jabar dalam acara coffee mor - ning kamtibmas. Tampak hadir sejumlah pimpinan media ce - tak, elektronik, dan online.

Hadir pula, Pangdam III/Si li - wa ngi Mayjen TNI Doni Mon ar - do, Ketua PU Jabar Yayat Hi da - yat, Ketua Bawaslu Jabar Har - mi nus Koto, Kapolrestabes Ban dung Kombes Pol Hendro Pandowo, dan lain-lain.

“Para to koh agama memiliki penga - ruh, disegani, dan dihormati ma syarakat. Sebab ulama mam - pu memberikan pandangan, so - lusi, dan merekatkan atau men - damaikan hubungan antar se - sa ma masyarakat,” ujar Agung. Karena itu, tutur Kapolda, tokoh agama memiliki tugas sa - ngat penting dan mulia dalam menyebarkan, mengajak kebaikan, dan mencegah atau meng hi - langkan hal-hal negatif di ma sya - rakat.

“Begitu juga media massa. Sampaikan berita atau informasi yang benar kepada masyarakat sehingga terwujud situasi aman, tentram, dan kondusif,” tutur Kapolda. Penyebaran kabar bohong atauhoaks, uangkapAgung, ti dak hanya meresahkan masyara kat, tapi juga dapat memecah be lah, mengadu domba se hing ga meng - ancam kamtibmas, tapi juga ke - utuhan bangsa dan ne gara.

Seperti akhir-akhir ini ber kem bang isu tentang pengania yaan terhadap ulama atau to koh agama. Ber da - sar kan data yang tercatat dan di – tangani oleh Polda Jabar, terdapat 21 kasus tindak pi dana peng ani a - yaan. “Namun, ke nyataannya ha - nya dua ke ja di an penganiayaan yang dialami ulama.

Sementara 19 isu peng ania - yaan lainnya adalah hoaks atau bohong dan direkayasa seperti kejadian di Pameung peuk, Ga rut. Hoaks merupakan virus ba ru di era Milenial ini. Dam pak nya sangat besar bagi keutuhan bang - sa. Untuk itu hoaks harus dilawan dengan beberapa ke giat an. Pe laku harus ditangkap dan diadili secara hukum,” ung kap Agung.

Yusran Pare, pimpinan salah satu media cetak lokal, me nga - takan, kegiatan yang dilakukan Polda Jabar ini bentuk du ku ng - an luar biasa bagi kerja jurnalis. “Karena jurnalis tidak me nge - nal berita bohong. Jurnalis di - ikat etika sangat ketat, di an ta - ra nya Pasal 4 Kode Etik Jur na - listik. Jurnalis tidak sebarkan berita bohong.

Demikian juga da lam keseharian, jurnalis diikat tata kerja yang tidak bisa sembarangan memberitakan tanpa ada klarifikasi. Yang pas - ti, berita bohong bukan produk jurnalistik,” kata Yusran. Menurut dia, semua yang ter - libat dalam jurnalisme, men du - kung langkah Polda Jabar untuk memerangi hoaks se ka ligus mengapresiasi atas peng ungkapan kasus penyebar hoaks di Ja - bar.

“Untuk itu, kita se mua se pa - kat menyatakan me nolak hoaks. Jur nalis tidak perlu ditanya, ka - mi antikebohongan. Kami tidak hanya ber gerak untuk menolak hoaks men jelang pilkada saja, tapi selamanya menolak hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian,” ujar Yusran.

agus warsudi