Edisi 14-03-2018
Angka Perceraian di Sleman Naik 19%


SLEMAN –Kasus perceraian di Sleman terhitung tinggi. Pengadilan Agama (PA) Sleman selama 2017 mencatat sebanyak 1.977 kasus perceraian.

Jumlah ini naik 19% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu 1.658 ka - sus atau meningkat 319 kasus. Dari jumlah tersebut, gugatan cerai dari istri mencapai 1.375 kasus dan dari pihak suami men capai 602 kasus. Penyebab utama, karena faktor ekonomi, ketidak har - mo nisan, dan pasangan tidak ber tanggung jawab. Kasus per ceraian tersebar merata di 17 kecamatan yang ada di Sle - man.

Panitera Pengadilan Aga - ma (PA) Sleman Suhartadi me - ngatakan, dari pengajuan per - ceraian tersebut tidak se mua - nya dikabulkan. Dari 1.977 ka - sus pada 2017, yang di pu tus - kan hanya 1.421. Be gi tu juga pada 2016, dari 1.658 kasus, yang dikabulkan 1.516 kasus.

“Ada beberapa sebab tidak semua kasus perceraian di ka - bulkan, di antaranya karena dicabut, tidak diterima, digu - gurkan, dan dicoret,” kata Su - har tadi Selasa (13/3). Sekretaris komisi D DPRD Sle man Arif Kurniawan me nga - takan, dirinya sangat pri ha tin de ngan masih tingginya kasus per ceraian yang terjadi di Sle - man.

Menurut dia, agar kasus perceraian dapat di te kan, maka harus ada kebijakan ter sendiri, ter utama kebi jakan yang menyangkut kese jahteraan. “Ini juga berarti, untuk pem bangunan di masyarakat, ter utama dalam bidang men - tal dan rohani, belum me nyen - tuh,” tan dasnya.

priyo setyawan