Edisi 15-04-2018
Si Kenyal Lembut Khas Riau


Selama ini kita mengenal sagu sebagai makanan pokok masyarakat Maluku dan Papua. Padahal, bahan makanan yang terbuat dari batang pohon rumbia itu juga merupakan sajian khas masyarakat Riau.

Hanya, sagu di Riau dan di wilayah Indonesia Timur itu diolah menjadi menu yang berbeda.Masyarakat Papua ataupun Maluku lazim mengolah sagu men jadi papeda, sejenis bu bur putih bertekstur lengket. Sementara di Riau, khu sus nya di Kabupaten Kepulauan Meranti, tepung yang secara fisik terlihat berbeda dengan tepung pada umumnya itu kerap di olah menjadi mi.

Bahkan mi sagu ini di klaim sebagai ma kanan khas daerah ter se but, meski ku rang dikenal di Indonesia. Hal inilah yang mendorong warga Beng kalis, Riau, M Teguh Prasetio, untuk mem perkenalkan mi sagu kepada ma syara kat luas. Apalagi, kata Teguh, pohon terbaik penghasil sagu berasal dari Kepulauan Meranti.

Cara yang ditempuh lelaki 23 ta hun itu adalah dengan mendirikan Warung Mie Sagu Pandega di Yogyakarta. Teguh berharap, langkah tersebut akan mem buat mi sagu familier di telinga masyarakat Indonesia. “Dengan begitu, kelak mi sa gu bukan hanya dikenal sebagai ma kanan khas Riau, tapi juga menjadi menu Nu santara yang dikenal di mana-mana,” ujarnya.

Selain itu, dengan adanya warung ini, pe lajar ataupun mahasiswa Riau di Yog ya karta diharapkan tidak me ra sa kan home sick.Sebab, di Sle man pun me reka da pat menemukan ma kan an khas tanpa harus pulang ke kam pung halaman. Warung Mie Sagu Pandega beroperasi pada pukul 19.00-23.00 WIB. Ada tiga varian yang di ta war kan, yaitu mi sagu goreng, mi sagu lem b ab, dan mi sagu rebus.

Ketiga varian ter sebut sama-sa ma ber tekstur kental de ngan cita rasa udang. Di dae rah asalnya, mi sagu memang menggunakan rasa udang. Bahan baku mi didatangkan lang sung dari Kepulauan Meranti. Har ga per porsinya sangat terjangkau, yaitu Rp15.000 untuk semua varian.

“Saat ini ba r u ada tiga rasa itu. Ke depan kami akan me nam bah varian lain,” ungkap Te guh, yang me rupakan mahasiswa di Fa kul tas Bis nis dan Ekonomi UGM ang kat an 2013. Pro ses pembuatan mi sagu ti dak ter lalu b eda dengan mi pada umum n ya. Ba han yang di gu na kan ya itu ebi ha lus, bawang me rah dan pu tih ha lus, cabai merah ke ri ting dan to mat yang sudah disatukan, ke cap manis, saus sam bal, serta telo.

Semua ba han ta d i dicampur dan dimasak hingga matang, setelah itu barulah mi sagu dimasukkan. Untuk topping,ada potongan ayam goreng, taoge, dan daun bawang seledri. “Selain bercita rasa udang, mi sagu juga ke nyal, tapi lembut,” kata Teguh yang memulai usahanya setahun lalu.

Sementara itu, sejumlah pengunjung wa rung Pandega mengatakan, ke lem but an ser ta tekstur kenyal mi sagulah yang membuat mi ini berbeda dari mi pada umumnya. Me nurut mereka, selain enak, bum bunya ju ga terasa.

“Kalau menurut saya, unik ya ra sanya. Sebab, saya belum per nah merasakan dan baru tahu di sini. Kuat bumbunya. Se lain itu, minya beda, lebih kenyal dan teks turnya lebih lembut,” be ber Nuri, pelanggan asal Sulawesi Tenggara.

priyo setyawan