Edisi 15-04-2018
Teater Tidak Selesaikan Kekacauan Hidup Manusia


Mampukah teater memberi solusi atas kekacauan kehidupan manusia? Tidak, teater bukan agama atau negara yang berfungsi untuk menyelesaikan kekacauan kehidupan manusia.

Teater hanya proses pergulatan ilmu pengetahuan; yang membaca, berpikir, berdiskusi, merumuskan ide, dan berharap ide yang diusung mampu melahirkan realitas yang lebih baik. Setidaknya di alam imajinasi. Realitas itu merupakan pilihan, tidak stabil atau bukan kepastian.

Ada yang bertanya, jika demikian, untuk apa berkesenian atau menonton sebuah pertunjukan teater? Untuk menjawabnya, kita harus bertanya untuk apa kita makan dan minum setiap hari dengan beragam menu? Untuk apa kita menyapu halaman rumah atau kantor yang setiap hari dikotori dedaunan atau sampah? Untuk apa kita menikah, melahirkan manusia yang baru? Untuk apa kita membeli komputer, ga wai , mobil, dan rumah? Ya, jika diamati, banyak tindakan atau perilaku manusia itu sebenarnya absurd dan paradoks.

Bagaimana dengan teater? Menolak berkesenian atau menonton pertunjukan teater dipastikan bebas dari sanksi hukum, tidak dikucilkan, tidak kehilangan harta benda, tidak merasa bersalah atau kehilangan identitas dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Biasa saja.

Jika demikian, mengapa masih ada kawan aktif di sejumlah kelompok teater atau masih ada masyarakat dan media massa menonton dan meliput pertunjukan teater? Sebenarnya ada kawan di kelompok teater ingin bergabung dengan klub olahraga golf, tapi dia tidak punya bakat bermain golf.

Ada juga yang ingin keliling dunia, tapi dia punya rasa takut pada ketinggian, tidak dapat berenang, dan tidak punya keberanian membawa mobil atau sepeda motor sehingga dia memilih teater untuk memperkaya pengalaman estetika dan pengetahuannya.

Di teater, seseorang dapat menjadi seorang peneliti, pemikir, atau ilmuwan, yang muaranya sebuah karya seni bersama nilai-nilai, artefak, serta ruang kebebasan berekspresi dan berpendapat. Aktivis teater bebas belajar, berpikir, berimajinasi, dan menyampaikan ide atau pendapat tanpa ada yang membatasinya, termasuk negara. Batasannya hanya puncak imajinasi.

Tidak mengherankan, sebuah pertunjukan teater terkadang melampaui realitas kekinian atau membawa kita ke ruangruang yang selama ini tercecer dalam sejarah peradaban manusia. Kompromi akan berlangsung ketika satu produksi pertunjukan ditampilkan ke ruang publik seperti pembatasan ruang dan waktu—meskipun banyak teater mencoba membebaskan hal ini—serta sumber daya penunjang produksi.

Tapi, sekali lagi, teater tidak dapat menjawab kekacauan kehidupan manusia. Dia hanya menjelaskan kekacauan itu dan memberi ruang imajinasi terhadap kekacauan tersebut melalui estetika. Jika terjadi relasi, pemaknaan tergantung dari pola pikir dan olah rasa manusianya.

Selain itu, teater juga bukan juru bicara kapitalisme, komunisme, atau sosialisme, yang banyak melahirkan mitos-mitos kebahagiaan manusia, meskipun terkadang cara berpikir pekerja teater bak seorang pengusaha, filsuf, atau aktivis pembela rakyat jelata.

Lahir dari Kekacauan

Meskipun teater tidak menyelesaikan kekacauan kehidupan manusia, kelompok teater di Indonesia banyak lahir di masa rezim Orde Baru berkuasa. Mulai dari kampung, sekolah hingga perguruan tinggi. Banyak yang percaya, menjamurnya kelompok teater pada masa Orde Baru karena pemerintahan sangat otoriter.

Generasi muda, para pemikir membutuhkan ruang berekspresi. Teater dinilai sebagai ruang yang memiliki “kebebasan” mengekspresikan diri.

Mulai dari Bengkel Teater, Teater Populer, Teater Ketjil (Kecil), Sanggar Teater Jakarta, Teater Bulungan, Teater Mandiri, Teater Alam, Teater Keliling, Teater Gidag-gidig, Teater Koma, Teater Padang, Teater Dinasti, Teater Sae hingga Teater Gandrik, Teater Payung Hitam, Teater Kubur, Teater Potlot, Teater Hitam Putih, Teater Que, dan banyak lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia lahir di masa Orde Baru ini.

Tapi pada akhirnya ada dua pemikiran dalam memaknai sebuah teater. Teater sebagai ruang ekspresi dengan capaian mendekatkan diri kepada Tuhan dan teater sebagai juru bicara rakyat yang diyakini mengalami ketertindasan selama rezim Orde Baru, khususnya terkait dengan kebebasan berpendapat dan berekspresi.

Banyak intelektual, pemikir, budayawan yang terlibat, lahir atau setidaknya bergaul dengan kelompok teater. Sebut saja Gus Dur, WS Rendra, Emha Ainun Najib, Eros Djarot, Goenawan Mohammad, Putu Wijaya, Afrizal Malna, Radhar Panca Dahana.

Pemikiran disentralisasi di masa Orde Baru sebetulnya dimulai dari kawankawan pekerja teater yang membangun isu penolakan terhadap Jakarta sebagai “pusat legitimasi” sebuah karya atau kelompok teater. Kekuatan media massa dan keberadaan para pengamat teater di Jakarta, yang pembacaannya terbatas, dinilai banyak membunuh pemikiran atau karya seni pa ra teater yang jauh dari Jakarta.

Melalui teks Conie Sema berjudul “Bonseras (Boneka Setengah Waras)” dan “Sebung kus Deterjen Hari Ini”, kami mengusung pemikiran “pembunuhan sutradara”. Kami membebaskan sebuah pertunjukan teater dari peranan sutradara. Pemaknaan di dalam sebuah pertunjukan dilahirkan dari proses kesadaran tiap yang terlibat.

Ternyata tetap berlangsung relasi antara pertunjukan yang ditampilkan dengan para penonton meskipun tidak ada yang mengambil peran sebagai sutradara. Pemikiran tersebut jelas melahirkan banyak penolakan atau perdebatan saat itu, baik di media massa, gedung kesenian, di warung kopi atau di sekretariat teater, terutama oleh para pendiri yang juga pemimpin kelompok teater.

Pada 1995, teks saya berjudul “50 Tahun Ikan Asin di Dalam Kaus Kaki” mencoba menjelaskan kondisi Indonesia yang memasuki usia 50 tahun. Saat diskusi dengan kawankawan di Studio Oncor, yang saat itu beralamat di Tebet, Jakarta, muncul pertanyaan: “Apakah sutradara masih dibunuh Teater Potlot?” Jawab saya, “Ya, sutradara tetap dibunuh, sebab menjelaskan ikan asin di dalam kaus kaki selama 50 tahun, kita tidak membutuhkan seorang sutradara.

“ Tiga tahun kemudian, pada 1998, rezim Orde Baru rontok. Aroma busuk kaus kaki itu masih terasa hingga saat ini.... Apakah pemikiran dari kelompok teater menjadi faktor yang menyelesaikan kekacauan kehidupan manusia Indonesia selama rezim Orde Baru dengan turunnya Soeharto sebagai presiden? Tentu saja tidak. Kekuatan zamanlah yang menumbang - kan rezim Orde Baru.

Memang ada euforia terhadap tumbangnya rezim Orde Baru, yang menyebabkan banyak teater tidak lagi aktif. Teater dianggap telah menyelesaikan tugasnya. Para aktivis teater bergerak ke banyak ruang, mencoba memberikan arti baik terhadap dirinya maupun masyarakat.

Kekacauan kehidupan manusia di Indonesia sebagai dampak rezim Orde Baru ternyata tidak hilang, masih terasa hingga saat ini. Budaya korupsi dengan cara menguras kekayaan alam atau menyimpangkan anggaran negara masih bertahan hingga saat ini.

Saya pun percaya, kelompok teater akan banyak lahir di Indonesia, termasuk teater yang pernah lahir pada masa rezim Orde Baru akan kembali memaknai kekacauan tersebut, meskipun tidak mampu menyelesaikannya.

T WIJAYA

Pekerja budaya dan aktif di Teater Potlot