Edisi 15-04-2018
Jadi Entrepreneur Lebih Menantang


Ada perjalanan yang panjang hingga Fransiska tertarik membuat startup dan mewujudkan impiannya menjadi seorang entrepreneur.

Fransiska memang sosok yang senang mencoba hal baru. Saat kuliah, perempuan berkacamata ini hobi magang di banyak tempat. “Kalau mahasiswa lain kuliah kerja hanya sekali, saya sampai enam kali di bidang IT dan di luar bidang tersebut. Saya ingin tahu dunia kerja seperti apa, apa yang cocok untuk saya,” ungkapnya.

Fransiska sempat magang di sejumlah perusahaan IT kelas dunia, seperti Schlumberger, Google, Microsoft, dan Batavia Incubator. Selain itu, dia juga magang di perusahaan terkemuka sekelas InboundID dan lembaga negara yang dibentuk mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, UKP-PPP (Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan).

Ditambah lagi, Fransiska juga pernah menjadi satu-satunya orang Indonesia yang terpilih sebagai peserta program utama Singularity University Graduate Studies Program pada 2012. Setelah lulus, Fransiska mendapat beasiswa dari seorang pengusaha di Amerika Serikat (AS).

Di sana dia kembali mencoba hal baru, yakni bekerja di dua tempat. Menjadi konsultan teknologi di aplikasi Sebangsa dan sebuah perusahaan inkubator startup. “Dalam seminggu saya tiga hari kerja di kantor satu, dua hari di kantor satu lagi.

Namun, dari perusahaan inkubator itulah ilmu membuat startup saya dapat dan membuat saya bertekad membuat startup,” kenang Fransiska. Dari magang dan bekerja di banyak tempat membuat Fransiska tahu bidang pekerjaan yang harus dia kejar dan arti tantangan yang sesungguhnya.

“Saya pernah ikut magang di perusahaan minyak sampai ke tambangnya. Bagi orang, itu pekerjaan menantang, nyawa taruhannya. Tapi bagi saya, itu bukan tantangan. Menjadi entrepreneur -lah yang saya rasa sangat menantang,” ucapnya yakin.

Menurut Fransiska, seorang entrepreneur bekerja bukan hanya untuk diri sendiri, tapi banyak orang. Dia harus tahu apa kebutuhan orang yang bekerja kepadanya. “Kalau jadi karyawan sudah jelas semua, performance, lalu dapat gaji.

Sudah jelas semua, tidak ada tantangannya,” imbuh Fransiska. Dan inilah Fransiska yang sekarang, dengan startup digital buatannya yang masih terus berkembang. Tantangan hidup yang memang menjadi impiannya.

ananda nararya