Edisi 15-04-2018
Membacakan Buku ke Bocah


Bocah dan buku belum usai diperdebatkan selama ratusan tahun. Sejak penemuan mesin cetak dan penerbitan buku-buku cerita bagi bocah, perdebatan berurusan iman, pendidikan, identitas, hiburan, dan kecerdasan, selalu merubung dengan sekian sangsi dan argumentasi.

Bocah bertumbuh tak melulu dengan bermain sepanjang hari. Nalarimajinasi modern memperkenalkan buku-buku untuk “santapan” dan permainan. Bocah dirangsang girang atau mengalami trauma akibat salah dalam perjumpaan awal. Orang tua atau kaum dewasa bertanggung jawab dalam keberterimaan dan keranjingan bocah pada buku.

Mereka pun patut disalahkan jika mencipta takut, bosan, dan trauma bocah di hadapan buku-buku. Jim Trelease selama puluhan tahun melakukan pengamatan dan mencatat pokok-pokok perdebatan buku bagi bocah. Kebiasaan membacakan buku di kalangan orang tua dan guru kepada bocah-bocah adalah keutamaan untuk mengenalkan atau mengajarkan bahasa.

Pengenalan itu berlanjut ke pemahaman atas diri, dunia, dan alam. Buku-buku menjadi suluh untuk selalu terang. Pilihan membacakan bersuara memiliki misi ke penikmatan rima, pemerolehan kata, dan penguatan ingatan. Kebiasaan membacakan berbeda dampak jika membiarkan si bocah membaca sendiri secara diam atau dibatinkan.

Para orang tua bingung dalam mengawali membacakan buku kepada bocah. Mereka sempat membuat ketentuan titik mula, tapi mendapat saran mengejutkan dari Jim Trelease. Orang tua tak perlu menunggu bocah berusia 6 atau 7 tahun untuk dibacakan buku.

Sejak dia lahir, orang tua sudah memiliki kewajiban selalu mengajak bicara dan membacakan buku-buku cerita. Membaca itu komunikasi dan tata cara meresapkan pelbagai hal saat bocah mengalami hari-hari penghidupan bertabur ketakjuban. Buku-buku pilihan awal dianjurkan “menstimulasi penglihatan dan pendengaran”.

Jim Trelease mencatat dampak besar warna dan rima dari buku-buku untuk pertumbuhan bocah. Orang tua diharapkan peka selera dan kenikmatan bocah ke sejumlah buku. Peka pun harus memungkinkan menepikan bukubuku tak diminati bocah. Kaidahkaidah membacakan buku memang memerlukan selera dan penciptaan “ketagihan”.

Bocah diajak menggandrungi buku, tak cuma saat dibacakan orang tua pada suatu waktu. Keseharian dengan buku malah memicu gairah literasi tanpa jeda. Di rumah, kebiasaan itu mungkin berlangsung, tapi harus mendapatkan sokongan saat di sekolah. Keberadaan buku-buku di rumah berbeda dengan pengaturan di sekolah.

Buku-buku biasa ditaruh di perpustakaan. Cara melihat bocah ke buku-buku di sekian ruang adalah penentu dari “lapar” buku dan merawat kenikmatan menekuni cerita-cerita, sebelum mengarah ke pengajaran akademik. Bocah jangan dipaksa dalam membaca buku.

Paksaan bisa menghasilkan muak atau permusuhan besar. Permulaan dengan membacakan buku kepada bocah bakal sampai ke kesanggupan bocah membaca sendiri. Penularan girang dan nikmat itu memperhitungkan waktu. Orang tua pun dianjurkan memiliki sejenis catatan pantauan untuk mengetahui “jarak” bocah dan buku.

Keluarga mungkin membuat daftar pendek atau panjang buku-buku yang pernah dibaca selama sekian tahun. Daftar itu dipelajari ulang dan menambahi buku-buku berdalih perbandingan atau pelanjutan serial. Bocah memiliki hak memilih buku, belum tentu sesuai daftar milik orang tua.

Jim Trelease melakukan penelitian di Amerika Serikat. Pembaca di Indonesia mungkin sudah menentukan batasbatas persamaan dan perbedaan dengan situasi di Indonesia. Sistem persekolahan dan lakon keluarga di Amerika Serikat memiliki kekhasan dalam menilai mutu dan pembuktian.

Di Indonesia, kekhasan tak selalu sesuai dengan Amerika Serikat. Rumah-rumah di Indonesia belum tentu memiliki koleksi buku. Di sekolah, perpustakaan-perpustakaan sering ditutup dan sepi. Para orang tua di Indonesia bakal merasa aneh saat memerankan diri sebagai pembaca buku bagi bocahbocah.

Mereka telanjur menaruh televisi cerewet di rumah dan memberikan fasilitas teknologidigital kepada bocah. Urusan membacakan buku seperti kebiasaan kuno, sulit diterapkan pada abad XXI. Di Amerika, gejala itu ada dan mendahului situasi di Indonesia.

Urusan membacakan cerita di rumah tetap pokok pembentukan identitas dan penentuan masa depan, ketimbang ribut mengurusi televisi dan internet. “Sekarang, media elektronik menjadi kekuatan dominan dalam kehidupan bocah di luar keluarga.

Media elektronik harus disertakan dalam buku atau diskusi tentang literasi,” tulis Jim Trelease untuk sampai ke pengamatan pesta digital bagi bocah pada abad XXI. Buku cetak hampir dianggap purba, setelah bocah-bocah menggandrungi suguhan digital.

Ajaran membacakan buku bersuara sejak puluhan tahun silam sedang digoda keampuhan digital. Kerja orang tua semakin bertambah, meski sulit membuat kebijakan moderat, mengaju kebiasaan lama atau ke - cemplung lakon terbaru. Begitu.

bandung mawardi

kuncen bilik literasi